
Rafael menuju parkiran. Disana masih ada mobil Huda, ia segera masuk ke mobil.
"Bagaimana?" tanya Rafael.
"Sudah beres Raf, Tyar yang membawa pria itu. Jodhi pamit menemui klien. Kita menyusul Tyar sekarang." jawab Huda.
Rafael mengangguk. Dan menuju apartemen Tyar. Perjalanan cukup lama sampai dua jam.
"Lebih baik kita makan dulu, ini sudah waktunya makan siang." ujar Huda.
"Apa kau lapar?" tanya Rafael. Huda menggeleng. "Kalau tidak, jangan cegah aku untuk bertemu pria itu."
"Aku hanya mengkhawatirkanmu Raf, Kau belum sarapan." ujar Huda.
"Terima kasih Hud, tapi aku belum lapar." jawab Rafael.
Mereka sampai juga ke apartemen Tyar, Rafael dan Huda segera menuju kamar Tyar.
"Tyar, ini aku Rafael." ujar Rafael di depan pintu Tyar.
"Masuk saja, aku tak menguncinya." teriak Tyar. "Aku juga baru sampai."
Rafael dan Huda masuk, mereka melihat pria itu terikat kaki dan tangannya duduk di lantai. Rafael duduk dihadapan pria itu.
"Jadi kau pria suruhan Firdaus untuk menghancurkanku." ujar Rafael dengan nada geram. "Kau tahu siapa yang kau lawan sekarang?" tanya Rafael. "Siapa namamu?" bentaknya.
Pria itu menunduk dan ketakutan. "Sa... saya... Daka." katanya gemetaran.
"Sejak kapan kau mengikutiku?" tanya Rafael lagi. Pria itu hanya diam. "Tyar cari informasi tentangnya dan keluarganya, jika ia masih bungkam maka aku akan menghancurkan keluarganya."
"Jangan...saya mohon...ampuni saya...saya hanya mencari uang buat anak dan istri saya." jawab Daka.
"Kau memberi makan anak istrimu dengan uang seperti ini, apa kau sudah gila?" bentak Rafael.
"Saya adalah seorang wartawan yang dipecat 2 tahun lalu, saya sudah mencari pekerjaan dimana pun tapi tidak ada yang mau menerima saya. Jadi saya terpaksa melakukan ini, tapi ampuni saya pak Rafael. Jangan ganggu keluarga saya." Daka memohon.
"Jadi sejak kapan kau mengikutiku?" Rafael mengulangi pertanyaannya.
"Saya sudah lama mengikuti anda pak. Saya terus dibayar pak Firdaus untuk mencari kesalahan anda, sejak lama akhirnya saya bisa mendapatkannya saat anda membawa seorang wanita ke hotel saat di China." ujar Daka.
"Jadi gosip itu juga atas perbuatanmu. Ya Tuhan ingin sekali aku menghajarmu dan menghancurkan keluargamu. Kau tahu, aku hampir kehilangan keluargaku karena ulahmu itu." teriak Rafael.
"Ampuni saya pak, lepaskan keluarga saya. Saya terpaksa melakukannya demi uang." Daka memohon.
"Aku akan mengampunimu tapi dengan satu syarat, bekerjasama lah denganku. Aku akan membayarmu lebih jika kau mau mengungkapkan kejahatan Firdaus saat serah terima jabatan nanti. Apa kau mengerti?" ujar Rafael.
"Saya akan mengikuti anda pak Rafael. Lepaskan saya." ujar Daka.
"Aku sudah mendapatkan info tentang keluarganya Raf, ini." Tyar menyerahkan laptopnya.
"Apa ini anak istrimu?" tanya Rafael sambil menunjukkan laptop pada Daka.
__ADS_1
"Jangan sakiti mereka, saya mohon." Daka mulai terisak.
"Apa kau kira Rafael Widjaja adalah seorang kriminal? Aku takkan menyentuh mereka, aku hanya akan memberitahu mereka apa pekerjaan suaminya sekarang." ancam Rafael.
"Tidak, itu akan membuat saya bercerai. Saya tidak ingin kehilangan mereka. Saya akan mengikuti perintah anda pak. Saya mohon ampuni saya." pinta Daka.
"Baiklah, cukup untuk sekarang. Aku akan melepaskanmu, tunggu kabar aku selanjutnya. Ikuti terus keinginan Firdaus selama sebulan kedepan, agar ia tidak curiga bahwa kau sudah ketahuan. Apa kau mengerti?" bentak Rafael.
Daka menganggukkan kepalanya dengan cepat. Huda melepaskan ikatannya. "Ini kurang seru Raf, apa kau ingin memukulnya sekali saja." ujar Huda sambil terkekeh.
"Kau sangat senang jika orang lain babak belur Hud. Aku tak ingin mengotori tanganku dengan melakukan itu." jawab Rafael.
Rafael menatap tajam Daka. "Jangan pernah mencoba untuk kabur Daka, kau tahu aku bisa mengejarmu walaupun kau bersembunyi di lubang semut. Dan jika kau lakukan itu, kau akan tahu akibatnya. Sekarang pergilah sebelum temanku Huda menghajarmu." ancam Rafael.
Daka mengangguk. "Saya janji tidak akan kabur pak, saya tidak berani." Daka segera keluar dari apartemen itu. Rafael Widjaja lebih menakutkan daripada siapapun. pikir Daka sambil melangkah keluar. Kakinya bergetar seperti habis bertemu hantu.
"Kau yakin pria itu bisa dipercaya Raf?" tanya Tyar.
Rafael mengangguk. "Ia sangat mencintai anak dan istrinya, aku bisa melihat dari matanya. Dimana istrimu Tyar?" tanya Rafael.
"Sejak menikah aku tak pernah mengajaknya ke apartemen Raf." jawab Tyar.
"Adakah makanan yang bisa dimakan hari ini, setelah kejadian tadi aku baru merasa lapar." ujar Rafael membuat semuanya terkekeh.
"Aku tahu kau belum makan apapun, jadi sebelum membawa pria itu kemari, aku sempat beli makanan di restoran." jawab Tyar.
"Luar biasa, sahabat yang sangat pengertian. Ayo kita makan sekarang." Rafael mengajak kedua temannya makan bersama.
*****
Daniel tergesa gesa menghampiri Delia. "Del gawat...gawat Del..." ujar Daniel.
"Ya Tuhan...kau mengagetkanku saja. Ada apa?" tanya Delia.
"Paparaji kembali berada di gerbang sekolah mencarimu." Daniel memberitahu.
"Apa? Lagi? Ya Tuhan...aku harus bagaimana? Aku akan menghubungi suamiku. Terima kasih Daniel." kata Delia sambil menuju toilet untuk menghubungi Rafael.
Berkali kali Rafael tidak mengangkat telponnya. Apa yang harus aku lakukan disini Raf, kau kemana??? air mata Delia kembali mengalir. Ia sangat bingung sekarang. Jika ia pulang bersama Daniel itu akan membumbui gosip yang beredar. Delia memejamkan matanya sambil menangis di dalam toilet.
*****
Setelah menikmati makannya Rafael baru teringat akan menghubungi Delia.
"Sialan..." umpatnya.
"Ada apa Raf?" tanya Huda dan Tyar ikut kebingungan.
"Aku harus menghubungi Delia tapi ponselku tertinggal di mobil Huda." jawabnya.
"Ya ampun, aku kira ada apa. Ini pakai ponselku." ujar Tyar.
__ADS_1
Rafael mengambil ponsel Tyar dan segera menghubungi Delia.
"Halo Tyar." jawab Delia, suaranya terdengar serak.
"Sayang apa kau menangis?" tanya Rafael.
"Raf, itu kau...aku berkali kali menghubungimu, tapi kau tidak mengangkatnya." ujar Delia kali ini terdengar terisak.
"Sayang, kau baik baik saja kan? Maafkan aku, ponselku tertinggal di mobil Huda. Aku habis membereskan masalah bersama Gloria dan penguntitku. Kau dimana?" tanya Rafael.
"Aku sangat bingung Raf, aku kuliah tapi sekarang aku tidak bisa pulang. Paparaji berkumpul di gerbang kampus. Aku harus bagaiman sekarang, jika aku pulang dengan Daniel pasti akan menambah gosip baru." Delia semakin terisak.
"Apa paparaji? Sialan... Kau jangan menangis sayang, dengarkan aku...tunggulah di kampus, aku akan menyuruh Huda menjemputmu. Huda akan langsung membawamu tanpa ketahuan paparaji." jawab Rafael. "Jangan menangis, aku mencintaimu." Rafael menutup ponselnya.
"Kau dengar apa yang aku katakan tadi kan?" tanya Rafael pada Huda.
"Tentu saja tuan Widjaja. Aku akan melakukan sesuai perintah." Huda segera mengambil kunci mobilnya.
"Bawa ke cafe mu Hud, aku yakin paparaji juga ada di rumahku." teriak Rafael.
"Oke..." jawab Huda sebelum menghilang dari apartemen.
Rafael menghempaskan tubuhnya di sofa Tyar. "Apa kau bisa mengantarku ke cafe?" tanya Rafael.
"Tentu saja Raf, aku akan membantumu sampai akhir." jawab Tyar.
"Aku selalu merepotkan kalian." Rafael sedih.
"Omong kosong Raf, kita sahabat. Dan kau yang sangat membantu kami dulu hingga kami sukses sekarang. Aku dan Huda sampai kapanpun tidak bisa membalas jasa jasamu." jawab Tyar.
"Kau membahas yang tidak perlu lagi Tyar. Ayo kita jalan, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi sampai bulan depan." ujar Rafael.
Mereka segera berangkat lagi ke cafe Huda.
"Sialan, ponselku masih di mobil Huda." umpat Rafael.
"Ini ponselku pakailah. Kau ingin menghubungi siapa lagi?" tanya Tyar.
"Tentu saja anak anakku, akhir akhir ini aku tak punya waktu buat Tian dan Cristin. Mereka pasti marah." jawab Rafael.
Pria ini memang sangat menyayangi keluarganya. Tyar sangat senang melihat perubahan sikap Rafael, antara masalahnya dan keluarganya. Benar benar 180° berbeda. Ia pria arogan yang tidak bisa dibantah tapi pria ini sangat lembut jika menyangkut anak dan istrinya. Tyar mengendarai mobilnya menuju cafe Huda sambil mendengarkan Rafael berceloteh di ponsel dengan anak anaknya.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Masalah satu per satu akan selesai. Artinya season kedua ini akan segera berakhir...
Dukung, Like n Komen terus ya...
Terima Kasih...🙏🙏🙏
__ADS_1