Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 30


__ADS_3

Kabar buruk dari rumah sakit setelah 3 minggu Helena dalam keadaan kritis. Keluarga Widjaja dan Keluarga Laros sudah berkumpul di rumah sakit, tangis haru terdengar dari pihak keluarga Helena, setelah mereka kehilangan Firdaus. Kali ini ada kemungkinan buruk tentang Helena.


Rafael selalu di dekat Hartanto, ia tidak ingin ayahnya terkena serangan jantung dan berakhir di rumah sakit lagi. Mereka semua sedang menunggu dokter yang berusaha menangani Helena. Bastian dan Cristina kali ini ikut bersama mereka.


Dua jam sudah dokter di dalam, berkali kali suster membawa alat masuk ke ruangan. Delia sudah menatap nanar arah pintu. Wanita itu adalah ibu mertua yang sangat baik selama ini. Ia terus berdoa kepada Tuhan agar Helena bisa diselamatkan. Rafael menggenggam tangannya menenangkan.


"Apapun hal yang terburuk, kau harus tenang Del. Ingat kedua anak kita ada disini." bisik Rafael.


Delia mengangguk dan memeluk kedua anaknya. "Oma kenapa mami?" tanya Cristina yang belum mengerti.


"Oma sedang sakit sayang." jawab Delia.


"Apa oma bisa bangun lagi dan bermain dengan kita?" tanya Bastian.


"Kita hanya bisa berdoa sayang, apapun yang Tuhan inginkan. Kita harus ikhlas menerimanya." ujar Delia.


Bastian mengangguk. Sedangkan Cristina hanya mendengarkan ibunya.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dan menatap seluruh keluarga, ia menatap Rafael dan menggeleng. "Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain." ujar Dokter.


Seketika Hartanto merosot sedangkan tangis haru seketika pecah memenuhi ruangan tunggu. Delia tak sanggup menahan air matanya, kedua anaknya ikut menangis. Bastian mengerti maksud dokter. Tapi Cristina mungkin menangis karena melihat yang lain menangis.


Rafael kembali berusaha menenangkan semuanya. Ia berusaha membangkitkan Hartanto. "Papi ini sudah takdir dari Tuhan. Mama lebih bahagia disisi Tuhan."


Hartanto mengangguk sambil menenangkan jantungnya. Suasana duka kembali menyelimuti keluarga besar Widjaja. Media televisi dan surat kabar, sangat heboh akan kabar kematian Helena.


Bastian meraung dan berteriak saat jenazah Helena keluar dari ruangan. "Oma....bangun...Tian masih ingin bermain dengan oma. Oma..." teriakannya menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Emili terus memegangi Bastian. "Sayang, tidak boleh seperti ini." ujar Emili menenangkan Bastian.


"Oma kenapa meninggalkan Tian nek, oma janji bawa Tian ke Paris saat liburan sekolah. Oma bohong, oma malah pergi. Oma...." teriaknya sambil menangis.


Delia memeluk Cristian yang terus menangis sambil mengelus punggungnya. Suasana di rumah sakit sangat mencekam. Tangis haru terus terdengar sampai akhirnya jenazah Helena dibawa ke rumah besar Widjaja.

__ADS_1


 *****


Di rumah Widjaja para tamu dan kolega terdekat silih berganti datang memberikan ucapan bela sungkawanya. Hartanto dibawa ke kamarnya, karena keadaannya semakin lemah. Delia terus berada di peti jenazah Helena bersama Rafael. Suasana ini berbeda saat Firdaus dimakamkan, hanya segelintir orang dan keluarga yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Itu karena Firdaus sangat dibenci karena kejahatannya.


Helena berbaring sangat damai di peti jenazah. Hartanto meminta agar segera memakamkannya, ia tidak ingin Helena disemayamkan lagi. Karena Helena sudah menderita selama 3 minggu di rumah sakit.


Pemakaman hari itu dilaksanakan diiringi dengan lantunan doa dan tangis haru keluarga besarnya. Sehari penuh masa berkabung dan mengurus segalanya. Satu oer satu para tamu dan keluarga meninggalkan kediaman Widjaja.


Setelah selesai Hartanto meminta Rafael dan Delia masuk ke kamarnya.


"Jualah rumah kalian, dan pindah kemari. Papi sendirian, papi kesepian di hari tua papi. Dan rumah ini memang akan menjadi milik kalian." pinta Hartanto pada Rafael dan Delia.


"Aku akan mendiskusikannya pada Delia pi." jawab Rafael.


"Tidak perlu Raf, jawabanku tentu saja iya. Papi butuh kita." ujar Delia.


Hartanto tersenyum bahagia, ia beruntung memiliki menantu seperti Delia. Rafael memeluk dan menciumnya. "Terima kasih sayang."


"Tapi bisakah rumah itu tidak dijual, biarkan ayah dan ibu tinggal disana?" pinta Delia.


"Terima kasih Raf. Papi jangan khawatir, Delia dan cucu cucu papi tidak akan membuat papi kesepian disini." ujar Delia.


Hartanto mengeluarkan airmatanya. "Aku sangat senang memiliki menantu sepertimu nak. Terima kasih nak Delia, Rafael."


Rafael dan Delia mengangguk. "Sekarang papi istirahatlah. Rafael dan Delia akan mengatakannya pada keluarga Laros, semoga mereka mau tinggal di Jakarta selamanya."


Hartanto mengangguk dan membiarkan mereka pergi.


 *****


Derry dan Emili sedang mengasuh Bastian dan Cristina. Bastian yang tadinya sedih, kini wajahnya sudah mulai ceria. Emili mendongak saat melihat kedatangan Rafael dan Delia.


"Bagaimana ayahmu Raf?" tanya Emili.

__ADS_1


"Keadaannya sudah lebih baik. Ia masih syok kehilangan istri yang selama ini bersamanya hampir 20 tahun. Tapi ia ayah yang sangat kuat bu." jawab Rafael.


"Baguslah jika itu yang terjadi. Kami berharap pak Widjaja akan sehat sehat saja." ujar Derry.


"Amien." jawab Rafael. "Tapi papi meminta kami pindah kesini. Rumah ini sangat besar dan papi sangat kesepian jika sendirian."


Derry dan Emili sama sama mengangguk. "Kalian harus melakukannya nak, rawatlah ayah kalian." kata Emili.


"Ayah ibu, bisakah kalian tetap tinggal di Jakarta selamanya?" tanya Delia. "Kami tidak ingin menjual rumah itu dan membiarkannya kosong. Bisakah kalian tinggal disana?"


Derry dan Emili saling pandang pandangan.


"Nenek, kakek jangan tinggalkan kami." ujar Bastian tiba tiba. Putranya ternyata mendengarkan percakapan mereka.


"Lalu bagaimana dengan rumah di Lampung sayang?" tanya Emili pada Delia.


"Biarkan bibi Terry saja yang merawatnya bu." jawab Delia. Bibi Terry adalah adik dari Emili.


"Bagaimana suamiku?" tanya Emili pada Derry.


"Aku selalu menyerahkan keputusan padamu Emili." jawab Derry.


"Baiklah kami akan tinggal disini." ujar Emili.


Bastian tiba tiba memeluk neneknya. "Tian sayang nenek." ujar Bastian.


"Ya Tuhan, tentu saja nenek juga sayang Tian." jawab Emili.


"Cristin juga sayang nenek." ujar Cristina sambil cemberut.


Dan semuanya tertawa bahagia.


 *****

__ADS_1


Mendekati Eps terakhir ya para Readerku tersayang. Author sangat berterima kasih pada kalian semua atas dukungannya untukku. Tanpa kalian Author bukan siapa siapa.


Happy Reading semoga kalian selalu sehat...😘😘😘


__ADS_2