
6 jam sudah Rafael dan yang lainnya menunggu operasi Helena, akhirnya dokter keluar dan mengatakan kondisi Helena. Helena masih dalam keadaan kritis, karena banyaknya darah yang keluar. Hartanto sempat ambruk, namun Rafael terus memberinya semangat agar terus bangkit. Mereka juga terpaksa memakamkan Firdaus karena tak mungkin menunggu Helena tersadar. Dokter memprediksi bahwa paling cepat Helena akan tersadar setelah satu bulan.
Dua minggu kemudian...
Keadaan perusahaan PT. Sinar Abadi kembali normal. Para investor yang menarik dananya, kini berinvestasi kembali. Rafael mengembalikan keadaan perusahaan dengan sangat cepat. Itulah mengapa para Direksi sangat tidak ingin menggantinya sebagai CEO perusahaan. Rafael memang pria yang tak bisa dianggap remeh.
Delia juga sudah mulai kembali ke aktifitasnya, tidak ada paparaji lagi yang mengikutinya sampai ke kampus. Tidak ada lagi paparaji yang berkumpul di depan rumahnya. Putra putrinya sudah aman menjalankan aktifitasnya juga. Delia juga harus bolak balik ke rumah sakit untuk menjenguk mertuanya.
Keadaan Hartanto yang semakin lemah dan tua mengharuskannya tinggal di rumah. Rafael yang arogan melarangnya bolak balik ke rumah sakit. Rafael menyewa suster khusus untuk Helena.
Delia sedang mempersiapkan skripsinya, ia berharap tahun ini bisa wisuda dan bisa kembali fokus pada keluarga tercintanya. Dibalik kesibukan Rafael, ia tidak pernah membiarkan Delia sendirian pulang pergi ke kampus dan rumah sakit. Ia selalu menyempatkan waktunya untuk istrinya.
"Hari ini aku akan sibuk di kampus sayang, tidak usah menjemputku." ujar Delia.
"Kau selesai jam berapa?" tanya Rafael.
"Tidak pasti. Banyak tugas yang harus dikerjakan.
"Hubungi aku setelah selesai, aku akan datang. Jangan membantah. Ini adalah penebusan hari hari ku tanpa kau. Sesibuk apapun, aku akan menjemputmu." perintah Rafael.
"Jarak perusahaan ke kampus lumayan jauh. Aku terus membuatmu lelah." ujar Delia.
"Ada imbalan untuk itu, tiap malam kau memberinya padaku." goda Rafael.
Delia memukul lengan suaminya. "Kau sangat mesum sayang. Kau tak bisa menahannya sehari pun."
"Aku tak sanggup melakukan itu jika berada di dekatmu. Dan jika saja ini bukan di kampus. Aku sudah menerkammu." ujar Rafael.
"Rafael...kau sudah gila." Delia segera keluar dari mobil.
"Tunggu...kau belum memberiku kiss. Aku akan marah jika kau tidak memberikannya." teriak Rafael.
Delia menghela nafasnya dan mendekati mobil suaminya lagi. Kepala Delia masuk lewat kaca jendela dan mencium bibir Rafael. Saat Delia menarik diri, Rafael menarik kepalanya lagi. "Belum selesai sayang." Rafael kembali mencium bibir Delia.
Delia mendorong dada suaminya. "Kau gila, ini kampus. Bisa bisa aku di keluarkan sebelum wisuda."
"Jika berani mengeluarkanmu, akan ku pastikan kampus tutup dalam satu hari." jawab Rafael.
"Dasar pria arogan." Delia menjulurkan lidahnya dan meninggalkan Rafael. Ia sedikit berlari sebelum Rafael memintanya macam macam lagi.
Rafael terkekeh melihat tingkah Delia yang tidak sama sekali berubah, tetap menggemaskan seperti dulu. Rafael meninggalkan kampus menuju kantornya.
*****
Jodhi menghampiri Rafael di ruang kerjanya. "Pak ada proyek yang di pegang almarhum pak Firdaus, proyek ini berjalan dengan baik di tangannya. Tapi ada sedikit masalah."
__ADS_1
"Teruskan." ujar Rafael sambil mendengarkan Jodhi dan sibuk dengan dokumen di depannya.
"Proyek itu sekarang diambil alih PT. Mega Jaya karena pak Firdaus menandatangani pengalihan jika ia meninggal dunia." ujar Jodhi.
Rafael menutup dokumennya. "Jadi Firdaus sudah memprediksi kematiannya sendiri. Lalu berapa kerugian yang ditimbulkan kita?" tanya Rafael.
"10 Miliar pak." jawab Jodhi.
"Potong uang itu dari warisan Firdaus." ujar Rafael datar.
"Tapi pak, jika kita melakukan itu perusahaan akan direndahkan oleh PT. Mega Jaya." kata Jodhi.
"Ikuti apa perintahku Jod, proyek itu akan kembali pada kita setelah sebulan. Percayalah padaku. Aku tahu siapa pemilik perusahaan itu. Pria sombong yang suka bermain perempuan. Aku akan memanfaatkan keadaan. 10 Miliar yang kita keluarkan akan kembali 10 kali lipat." jawab Rafael.
"Baik pak." ujar Jodhi.
Memiliki koneksi yang begitu banyak di dunia, memang sangat hebat. Kecerdasan pak Rafael tidak bisa ditandingi. pikir Jodhi.
*****
Rafael menghubungi Tyar setelah Jodhi keluar. "Tyar apa kau masih ingat wajah pria pemilik perusahaan PT. Mega Jaya?"
"Sampai aku matipun akan mengingat pria sialan itu." jawab Tyar.
Tyar tertawa. "Akhirnya waktu yang aku tunggu selama puluhan tahun akan terbalaskan."
*****
Flash Back On.
Tyar masih berumur 20 tahun, saat ia masih bekerja sebagai pelayan bar. Malam itu sangat ramai dan ia melayani tamu VIP. Tyar bersama rekan wanitanya Lala masuk membawa minuman untuk pemilik PT. Mega Jaya itu. Pria **** itu bernama Andre. Saat pelayan wanita memberinya minum. Andre menyentuh bokong Lala. Lala terkejut dan berbicara baik baik pada Andre bahwa ia hanya pelayan bar, buka wanita murahan.
"Maaf tuan, saya pelayan minuman anda. Mohon kendalikan tangan anda, saya bukan wanita murahan." ujar Lala.
Andre tertawa. "Wanita pekerja malam di bar, itu murahan. Kau jangan jual mahal." Andre menarik Lala hingga jatuh dipangkuannya.
Lala meronta minta dilepaskan. Tapi justru mendapat pelecehan. Andre meraba tubuhnya hingga Lala menangis. Melihat rekannya diperlakukan seperti itu Tyar berusaha membantunya.
"Maaf tuan, bisa anda lepaskan teman saya." ujar Tyar.
"Kau tak usah ikut campur. Ini bukan urusanmu." ujar Andre.
"Ia rekan kerjaku, ia tidak pantas diperlakukan seperti ini." jawab Tyar.
"Apa kau ingin menggantikannya dengan lubang anusmu." Andre mengejek.
__ADS_1
Tyar terkejut dan menarik Lala agar keluar dari ruangan. Tapi Tyar lengah ternyata Andre memukulkan botol minumannya ke kepala Tyar. Keributan terjadi, alih alih mendapat pembelaan dari pihak bar. Tyar dan Lala justru dipecat dari sana. Tyar mengalami luka robek di kepalanya hingga harus menerima jahitan. Saat itu Rafael lah yang membantunya. Lala kembali ke kampungnya, dan Tyar sampai sekarang sangat ingin membunuh **** itu.
Flash Back Off.
*****
Sejak saat itu persahabatan Tyar dan Rafael terjalin. Berbeda sekali dengan Huda yang memang sudah bersahabat dengan Rafael sejak SMP dulu. Tyar kembali tersenyum. Rafael lagi lagi akan membantunya membalaskan dendamnya pada pria **** itu.
"Kau masih disitu kan Tyar?" tanya Rafael setelah beberapa saat terjadi keheningan.
"Tentu saja, aku hanya mengingat kejadian itu. Selamanya takkan aku lupakan Raf." jawab Tyar.
"Kita akan memulainya Tyar, ini masih menyangkut kebodohan Firdaus. Sudah mati pun ia masih menyisakan masalah. Tapi beruntunglah kali ini berhubungan dengan PT. Mega Jaya, lalu aku langsung teringat masa lalumu." ujar Rafael.
"Aku akan menunggu kabarmu Raf." jawab Tyar dan mematikan ponselnya.
*****
Sudah pukul satu siang, Rafael menghubungi istrinya untuk mengingatkan makan siang.
"Makanlah, stop tugasmu." perintah Rafael.
"Iya tuan Widjaja. Tapi aku mau seafood." ujar Delia.
"Aku akan kesana sekarang." kata Rafael.
Delia terkekeh. "Tidak sayang, aku bercanda. Aku sudah makan tadi di kantin kampus. Apa kau sudah makan?" tanya Delia.
"Aku sebentar lagi keluar sambil menemui klien." jawab Rafael.
"Baiklah sayang, sampai jumpa." ujar Delia.
"Mana kiss nya?" tanya Rafael.
"Disini ramai, aku malu." jawab Delia.
"Aku akan mengganggumu malam ini sampai pagi, tak kubiarkan kau tidur." goda Rafael.
"Stop it. Baiklah...eemmuuaacchh." ujar Delia, suaranya terdengar bisik bisik.
Rafael terkekeh. "Aku mencintaimu Delia." sambil menutup ponselnya.
*****
Dukung, Like n Komen ya...
__ADS_1