Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 33


__ADS_3

Kerja keras Delia Laros selama berbulan bulan akhirnya membuahkan hasil, skripsi yang ia buat diterima, dan ia lulus wisuda bulan depan. Rasa bahagianya tak bisa terbendung mana kala, perjuangannya selama ini mendapat gelar sarjana hukum akhirnya terwujud, banyak sekali rintangan rintangan yang ia lalui sampai mengorbankan waktunya buat keluarga.


Delia tak bisa menahan air matanya saat menghubungi suaminya.


"Sayang, aku lulus." ujarnya histeris.


"Congratulations sayang, jangan menangis. Ini hasil perjuanganmu." jawab Rafael.


Delia mengangguk walaupun Rafael tidak melihatnya. "Aku ingin pulang sekarang."


"Aku akan menjemputmu." ujar Rafael.


"Tidak sayang, aku tak bisa menunggumu. Aku merindukan anak anak. Kita akan bertemu di rumah saja." kata Delia.


"Kau mau naik taksi? Tunggulah aku sebentar, aku akan menunda waktu meetingku." ujar Rafael lagi.


"Tidak, kau selesaikan saja meetingmu. Kita bertemu di rumah setelah pekerjaanmu selesai. Aku akan naik taksi saja." jawab Delia.


"Baiklah sayang, sampai jumpa di rumah." kata Rafael dan mematikan ponselnya.


"Melia." panggil Rafael lewat telpon kantor. "Tolong majukan meeting kita, aku akan pulang. Ada hal yang lebih penting." perintah Rafael.


"Baik pak." jawab Melia. Ia segera menghubungi para direksi untuk mengadakan meeting sekarang.


 *****


Delia pulang bersama Daniel. Daniel memaksanya saat Delia menunggu taksi.


"Aku akan bertanggungjawab jika suamimu marah, kita pulang searah Del. Oh ya selamat atas kelulusanmu." ujar Daniel.


"Bagaimana denganmu?" tanya Delia.


"Tentu saja aku harus menundanya hingga tahun depan. Aku akan melakukannya dengan baik sambil mencari jodohku." jawab Daniel terkekeh.


"Kau masih bisa bercanda dalam situasi seperti ini Dan." ujar Delia.


"Aku harus bagaimana lagi Del, 3 tahun sangat cepat buatku. Aku tak secerdas dirimu." jawab Daniel. "Jika aku rindu padamu, bolehkah aku menghubungi dan bertemu denganmu?"


"Tentu saja, bahkan jika kau ingin main ke rumah. Aku akan membuka pintunya lebar lebar." ujar Delia.


"Terima kasih Del, aku senang bisa bersamamu selama ini. Kau wanita cantik dan sangat kuat dalam menghadapi masalah. Aku akan mencari wanita sepertimu untuk pendamping hidupku." kata Daniel.

__ADS_1


Delia hanya terkekeh. "Terima kasih Dan. Aku akan mengundangmu di acara wisudaku nanti. Suamiku bersikeras merayakannya secara besar besaran." ujar Delia sambil turun dari mobil Daniel setelah sampai di rumahnya.


"Aku akan menunggu undanganmu. Dah." jawab Daniel sambil meninggalkan rumah Delia.


 *****


Delia menghambur kedalam dan segera mencari kedua anaknya. Disana ada Hartanto dan orang tuanya. Setelah ia melihat kedua anaknya. Ia langsung memeluk keduanya.


"Mami..." teriak Bastian dan Cristina.


Tangisan Delia pecah. Ia tak bisa menahan bahagianya. Kedua anaknya sangat memahaminya selama ini. Ia akan menebus waktu yang terbuang selama setahun buat kedua anaknya.


"Mami mengapa menangis?" tanya Bastian.


"Mami hanya bahagia, mulai sekarang mami akan banyak waktu buat kalian." jawab Delia.


"Benarkah? Apa mami sudah selesai kuliah?" tanya Bastian lagi.


Delia mengangguk. Delia melakukan sungkem pada kedua orang tua dan mertuanya. "Terima kasih buat kalian, tanpa kalian Delia tak mungkin berhasil. Kalian menjaga anak Delia dengan baik." Delia mulai menangis.


Emili mengelus kepala Delia. "Ibu dan ayah sangat bangga padamu nak."


"Katanya masih ada meeting pi, ia akan segera pulang setelah selesai." jawab Delia. Hartanto mengangguk.


"Jadi kapan wisudamu sayang?" tanya Derry.


"Bulan depan yah, Rafael juga sudah menyiapkannya. Kita akan mengadakannya di hotel Aston. Kalian ingat kan hotel itu." ujar Delia.


"Tentu saja kami ingat sayang, hotel dimana kami dijemput penculik." ujar Emili sambil terkekeh. "Jika ingat itu, ibu merasa sedang berada di dalam adegan film." sambung Emili.


"Apa kalian keberatan?" tanya Delia.


"Tentu saja tidak, itu bukan kenangan buruk nak, tapi itu kenangan yang membuat kami tegang. Dulu kami berpikir ternyata sangat sulit memiliki putri yang cantik." ujar Derry.


Semuanya tertawa mendengar ucapan Derry. Beberapa jam kemudian, Hartanto pamit istirahat. Emili dan Derry pamit pulang. Delia memangku kepala Cristina yang tertidur pulas di pahanya. Sedangkan Bastian terus berceloteh tentang keinginannya bersekolah di SD International Nusa Bangsa.


"Tian yakin akan masuk ke sekolah itu. Sekolah favorit setiap orang mami." ujar Bastian.


"Kau tahu darimana sayang?" tanya Delia.


"Mami tidak tahu, itu sudah sangat terkenal. Bu guru juga bilang begitu." jawab Bastian.

__ADS_1


Delia mengangguk. "Apapun yang kau inginkan sayang, mami hanya ingin kau menjadi anak yang tumbuh cerdas. Dan bisa meneruskan perusahaan papi. Kau tertarik dengan properti kan?"


Bastian mengangguk. "Papi sangat hebat, Tian sangat mengaguminya."


"Benarkah?" tanya Rafael tiba tiba di belakang mereka.


"Papi..." teriak Bastian sambil menghambur ke pelukan Rafael.


Rafael menyambut pelukan putranya, lalu menghampiri Delia dan mencium istrinya. "Mengapa kau biarkan Cristin tidur di pangkuanmu?" tanya Rafael.


"Aku ingin menidurkannya, tapi putramu sedang berceloteh tentang sekolah yang ia inginkan." jawab Delia.


"Jadi putra papi, ingin sekolah dimana?" tanya Rafael sambil memangku Bastian.


"SD International Nusa Bangsa." jawab Bastian.


"Anak pintar, pemikiran kita sama." ujar Rafael sambil mengajak Tos Hand.


"Yeeee..." jawab Bastian kegirangan.


"Mengapa cuma aku yang ketinggalan informasi, kalian bermain curang." ujar Delia sambil pura pura cemberut.


Bastian mencium pipi Delia. "Mami yang terbaik milik Tian."


Delia tersenyum mendengarnya.


"Hati papi tiba tiba sakit." ujar Rafael dibuat buat.


"Papi kenapa?" tanya Bastian terkejut.


Rafael terkekeh. "Karena papi cemburu. Mami diambil Tian."


Semuanya tertawa kecuali Cristina yang sangat nyenyak dalam tidur siangnya.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


Satu eps terakhir lagi...


Have fun guys...

__ADS_1


__ADS_2