Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 25


__ADS_3

Huda sampai di kampus Delia, ia menghubunginya. "Dimana kau nyonya, aku sudah sampai." tanya Huda.


"Aku masih di kelas, aku akan segera kesana." jawab Delia.


"Tidak, tunggu disitu." ujar Huda. Ia mengambil jaket dan topinya.


Huda mencari keberadaan Delia dan melambaikan tangannya. Delia menghampirinya. "Aku merepotkanmu. Maaf Hud."


Huda menggeleng. "Istri Rafael adalah wanita yang harus aku hormati, pakailah jaketku dan sembunyikan rambut panjangmu dibalik topiku. Kita akan sampai di parkiran dengan penyamaran." ujar Huda.


Delia mengikuti perintah Huda dan mengikutinya dari belakang. "Daniel aku duluan, terima kasih kau menemaniku." teriak Delia. Daniel melambaikan tangannya.


"Bersikaplah seperti biasa jangan menarik perhatian." perintah Huda dan Delia mengangguk. Mereka menuju parkiran dengan selamat.


Delia menghela nafasnya lega. "Ya Tuhan, ini mirip adegan sinetron." ujar Delia kesal.


Huda terkekeh. "Kau dan Rafael memang selebriti sekarang."


"Aku memilih jadi orang biasa Hud, ini sangat melelahkan." jawab Delia.


"Aku memahami perasaanmu nyonya, tapi kenyataannya kalian akan terus menjadi sorotan media selama Rafael menjadi orang terkaya di Indonesia." ujar Huda.


"Maksudmu Rafael harus menjadi orang miskin dulu baru semua ini akan berakhir, kau mendoakan kami bangkrut." Delia menyelidik.


Huda kali ini tertawa. "Sialan...nyonya Widjaja sangat cerdas. Tapi tidak ada maksudku mendoakan itu Del. Aku selamanya berharap kalian akan bahagia selamanya. Aku akan membantu kalian sampai akhir. Percayalah padaku."


Delia tersenyum. "Aku sangat mempercayai kau dan Tyar. Kalian sahabat terbaik untuk Rafael. Kita mau kemana? Ini bukan arah rumah?" Delia terkejut.


"Rumahmu penuh paparaji, kalau aku mengantarmu kesana, apa kata mereka nanti. Rafael menyuruhku membawamu ke cafe. Kau lebih aman disana karena paparaji belum tahu tempatku." Huda menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan anak anakku. Ya Tuhan...ini menjengkelkan sekali." Delia mengambil ponselnya dan menghubungi orangtuanya. Dan syukurlah Rafael sudah menghubungi anak anak dan menjelaskan keadaannya. Delia bernafas lega.


"Ada apa?" tanya Huda.


"Rafael sangat cekatan, ia sudah menghubungi rumah." jawab Delia.


"Itulah mengapa aku senang bersahabat dengannya. Pria itu arogan namun bertanggungjawab. Dan sangat menyayangi kalian." ujar Huda.


"Kau benar Hud, aku bahagia bisa menikah dengan pria seperti itu. Awalnya aku tidak yakin tapi ternyata ia membuktikan semuanya selama bertahun tahun denganku." kata Delia.


"Rafael juga sangat beruntung menikahi wanita baik sepertimu Del." ujar Huda.


Mereka sampai ke cafe, Huda membawa Delia lewat pintu belakang untuk berjaga jaga kalau ada paparaji yang mengetahuinya.


Rafael langsung memeluk Delia saat melihat wanita itu masuk. "Kau baik baik saja kan?"

__ADS_1


"Aku tak bisa bernafas, kau memelukku terlalu erat." jawab Delia.


Rafael terkekeh. "Aku merindukanmu sayang, aku sangat khawatir tadi, maaf aku terburu buru sampai ponselku tertinggal."


Delia mengangguk. "Tidak apa apa sayang, aku memahamimu."


"Jomblo sakit hati melihat kalian." ujar Huda.


"Aku tak menyuruhmu jomblo, kau masih sangat suka bermain main." jawab Rafael.


"Aku belum siap menjadi budak cinta." ujar Huda sambil tertawa dan meninggalkan mereka.


"Dimana Tyar?" tanya Delia.


"Aku menyuruhnya pulang sayang, ia juga memiliki keluarga. Aku selalu merepotkannya." jawab Rafael.


"Kau benar sayang, kita selalu merepotkan sahabatmu." ujar Delia.


"Aku hanya punya mereka yang bisa membantu kita sayang. Kau naiklah keatas, mandi dan berganti pakaian. Aku tadi membeli gaun di butik langganan untukmu. Kita akan makan malam." perintah Rafael. Delia mengangguk.


 *****


Sejam kemudian Delia turun dengan gaun putih cantik yang dibeli Rafael. Rafael sangat tertegun dengan penampilan istrinya yang sangat cantik. "Ya Tuhan, kau seperti peri sayang. Sangat cantik."


"Kau menggodaku, aku tidak cantik lagi. Aku ibu dari dua orang anak sekarang. Tubuhku tak seindah dulu." jawab Delia.


Pelayan cafe menyiapkan beberapa makanan buat makan malam mereka. Khusus buat malam ini Huda khusus menyiapkan seafood kesukaan Delia.


"Aku mengingat anak anak Raf, apa mereka sudah makan." ujar Delia sedih.


"Kau jangan khawatir, kita video call. Mungkin mereka juga sedang makan." Rafael mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video pada Emili.


"Hai bu, apa kalian sedang makan malam?" tanya Rafael.


"Iya kami ingin makan malam." jawab Emili.


"Dimana anak anak, Delia ingin berbicara." kata Delia.


"Sebentar ibu belum memanggil mereka ke meja makan." jawab Emili. Tak lama kemudian.


"Hai mami..." ujar Bastian dan Cristina.


"Hai sayang, kalian mau makan malam kah?" tanya Delia.


Mereka menganggguk. "Mami tidak pulang malam ini?" tanya Bastian.

__ADS_1


"Maaf mami tidak bisa menemani kalian makan malam, tapi mami akan pulang setelah paparaji diluar rumah pergi. Apa kalian takut?" tanya Delia lagi.


"No mam, disini ada kakek dan nenek. Tadi siang juga oma opa kemari." ujar Bastian.


"Benarkah?? Apa kalian membuat mereka kerepotan." tanya Delia.


Keduanya menggeleng. "Cristin marah sama mami? Mengapa diam saja sayang?"


"Cristin mau mami, tapi mami sibuk. Papi juga." Cristina mulai terisak.


"Ssssttt...jangan menangis sayang, maafkan papi dan mami ya. Kami berjanji akan terus bersama kalian setelah semua ini selesai." ujar Delia.


Cristina menghapus air matanya dan mengangguk. "Anak pintar. Kalian akan makan kan? taruh ponselnya diujung meja, biarkan papi dan mami menemani kalian makan." ujar Delia lagi.


Keduanya sangat senang. Mereka video call sambil makan, jadi seolah olah mereka makan di satu meja. Bastian dan Cristina sangat antusias, bahkan mereka menghabiskan makanannya di piring. Sekali sekali Rafael menggoda mereka sehingga membuat mereka tertawa. Setelah selesai mereka mematikan ponselnya.


"Aku merasa bersalah pada anak anak, mereka masih kecil harus menghadapi masalah kita." ujar Delia sedih.


Rafael memeluk pundak Delia. "Badai pasti berlalu sayang, kita harus bersabar. Aku akan menyingkirkan satu per satu masalah dalam hidup kita. Ada satu hal yang sangat menarik Del. Gloria hamil dan mengaku sebagai anakku."


Delia membelalakkan matanya. "Kau yakin itu bukan anakmu?"


Rafael terkekeh melihat ekspresi Delia. "Tentu bukan sayang, aku sudah bilang padamu, aku tak menyentuhnya kecuali ciuman itu. Dan aku minta maaf." Rafael kembali menyesal.


Delia menghela nafasnya. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Lalu anak siapa itu Raf?"


"Kau akan terkejut sayang, Gloria hamil anak Firdaus." ujar Rafael.


"Apa? Anak Firdaus? Maksudmu mereka menjalin hubungan?" tanya Delia.


Rafael menggeleng. "Aku tak tahu dengan pasti apa hubungan mereka, tapi yang jelas beberapa kali Gloria dan Firdaus memang keluar masuk hotel. Ketika aku menebak anak itu adalah anak Firdaus, Gloria sama sekali tidak menyangkalnya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika Firdaus di penjara, bagaimana nasib Gloria dan anaknya." ujar Delia.


"Itu yang sedang aku pertimbangkan sayang, tadinya aku ingin memberi pelajaran pada Firdaus. Tapi setelah aku tahu Gloria mengandung anak Firdaus, aku akan memikirkan cara lain." jawab Rafael.


Rafael kembali menatap Delia. "Kita akan kembali ke rumah tengah malam, aku yakin sudah tidak ada paparaji lagi. Tapi sebelum itu, aku merindukanmu. Kau mengerti kan maksudku." goda Rafael.


"Dasar pria mesum." Delia berlari keatas.


"Kau menantangku sayang." Rafael mengejar Delia masuk ke kamar Huda.


Huda yang melihat tingkah mereka hanya menggeleng dari luar. "Sialan ranjangku akan menjadi ranjang panas malam ini." gumamnya sambil terkekeh sendiri.


 *****

__ADS_1


Happy Reading All...😘😘😘


__ADS_2