
Sebulan telah berlalu. Perencanaan Rafael sudah sangat matang. Bukti bukti serta saksi saksi akan datang ke acara peresmian serah terima jabatan. Rafael mengundang beberapa awak media untuk meliput acara tersebut. Hartanto, Helena, Delia dan Orangtuanya akan hadir di acara tersebut. Mereka akan menyaksikan bagaimana Firdaus malu akan apa yang ia lakukan.
Rafael tidak jadi melaporkan Firdaus ke polisi. Ia hanya ingin adik tirinya itu bertanggungjawab atas kehamilan Gloria. Persiapan acara sudah 100% selesai. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Waktu baru pukul 8 pagi. 2 jam lagi acara akan dibuka. Para Direksi dan Pemegang Saham PT. Sinar Abadi sudah berkumpul di ruangan. Mereka sebenarnya sudah tahu, acara ini adalah acara pembongkaran kejahatan Firdaus.
Rafael tegang, karena bukan hanya membersihkan nama baiknya saja tapi acara ini menjatuhkan adik tirinya. Sejahat apapun Firdaus, Rafael masih sangat menyayanginya. Bahkan kinerja Firdaus memang sangat bagus selama satu tahun di perusahaan.
Acara akan segera di mulai. Saat para tamu sudah datang, Firdaus sangat terkejut atas kedatangan keluarga Widjaja dan keluarga Laros. Ia memperhatikan Delia juga.
Mengapa wanita ini hadir disini? Bukankah ia sangat membenci Rafael Widjaja sekarang? Apa ia akan menyaksikan kesedihan Rafael saat penyerahan jabatan CEO nya.
Firdaus tersenyum licik. Pembawa acara sudah memulai acaranya. Kinerja Firdaus selama satu tahun terakhir ditampilkan di layar lebar. Firdaus semakin bangga saat ia dipanggil kedepan untuk menyampaikan pidatonya. Firdaus naik keatas panggung, ia baru menyampaikan beberapa kata, tiba tiba ruangan menjadi ramai dan memandanginya dengan jijik. Firdaus menengok ke belakang dan terkejut saat melihat foto fotonya bersama Bethran Markes, Gloria dan Daka di beberapa tempat.
Lampu kamera berkilauan di ruangan itu. Tiba tiba terdengar suara audio rekaman percakapannya, mulai dari rencananya menjebak Rafael sampai rencananya merebut perusahaan. Rafael naik keatas panggung dan menepuk tangannya.
"Bagus sekali adikku tersayang, kau merencanakannya dengan sangat matang." ujar Rafael.
"Apa maksudmu, itu semua bohong." jawab Firdaus. Wajahnya sudah berubah pucat.
"Lalu dengarkan ini." Rafael memutar rekaman ketika Firdaus membantu Rafael saat mabuk.
Pria bodoh...Dimana sikap aroganmu. Kau kalah dan lemah hanya karena seorang wanita. Lucu sekali Raf. Ini baru permulaan. Kau akan melihat adegan luar biasa besok. Aku sudah menyerahkan bukti skandalmu pada media. Kau akan ditendang dari perusahaanmu sendiri. Aku pikir sulit menghancurkan pria arogan sepertimu, ternyata hanya butuh waktu tiga bulan aku sudah mampu menghancurkanmu.
"Tidak itu bukan suaraku Raf." Firdaus masih saja berkilah.
Rafael menjetikkan tangannya. Daka keluar dan naik ke atas panggung. Ia mengakui perbuatannya atas suruhan Firdaus dan membeberkan semua perbuatan Firdaus pada awak media. Membuat suasana semakin riuh. "Apa kau belum menyerah?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Ini semua fitnah, mana buktinya jika aku yang menyuruhnya?" tanya Firdaus.
Rafael kembali menayangkan cctv saat Firdaus menyerahkan uang pada Daka. Helena sudah menangis, ia tidak percaya dengan semuanya.
"Dan untuk membersihkan skandal perselingkuhanku. Aku memberikan kalian adegan terakhir." ujar Rafael pada awak media. Rafael memutar beberapa cctv saat Gloria berciuman dengan Firdaus dan menghilang kedalam kamar hotel. "Gloria keluarlah." teriak Rafael.
Gloria keluar dan naik keatas panggung. "Jelaskan pada semua tentang hubunganmu dengan Firdaus." perintah Rafael.
"Cukup Raf, kau tidak bisa memutar balikkan fakta. Kau yang berselingkuh dengannya. Aku tak ada hubungannya dengan Gloria." ujar Firdaus.
"Kau jahat Firdaus, aku punya bukti percakapan kita dan kau memaksaku menjebak Rafael. Juga kau merayuku, hingga sekarang aku hamil. Aku mengandung anakmu. Rafael tidak pernah melakukannya denganku." jawab Gloria.
Firdaus tertawa. "Dasar wanita jalang, kau bukan hanya tidur denganku, kau juga tidur dengan pria lain. Jadi tidak mungkin itu anakku." bentak Firdaus.
"Aku memang bukan wanita baik baik, tapi satu satunya pria yang membuatku hamil adalah kau. Kau melakukan itu agar aku menjebak Rafael dan minta pertanggungjawabannya. Kau ingin Rafael dan istrinya bercerai, kau sangat menyukai kakak iparmu Firdaus. Kau mencintai istri Rafael sejak lama kan? itulah mengapa kau ingin menghancurkan Rafael Widjaja." ujar Gloria.
Fakta baru terungkap di depan umum, bahkan Rafael dan keluarga semuanya tidak mengetahui semua ini.
Firdaus tertawa dengan keras, suara tawanya menggema di ruangan. "Ya benar itulah faktanya. Aku memang melakukan semua ini. Lalu kau ingin apa? Jika aku tidak berhasil maka kau harus mati Rafael." Firdaus mengeluarkan pistol dari saku celananya.
Semuanya berteriak histeris termasuk Helena. "Jangan bodoh Firdaus, ini tidak benar. Kau akan menjadi seorang pembunuh. Letakkan pistolmu." bentak Rafael.
"Aku tidak perduli lagi, aku hanya ingin kau mati sekarang agar aku bisa menguasai perusahaan dan menikahi Delia." jawab Firdaus. Ia menarik pelatuknya dan menembakkan pelurunya ke Rafael.
Doooorrrr....
__ADS_1
Suara keras letusan senjata api terdengar nyaring ternyata Gloria menghalanginya.
"Gloria...." teriakan Rafael. "Kau gila, wanita ini sedang mengandung anakmu." bentak Rafael.
"Firdaus kau sudah gila nak, kau membunuh cucuku." teriak Helena.
Firdaus mulai bergetar tapi ia sudah terlanjur gila. "Kau akan mati Rafael." Firdaus menodongkan kembali pistolnya.
Semua berteriak kembali. "Jangan bunuh suamiku." teriak Delia.
Suara tawa Firdaus kembali menggema. "Kalian semua mempermalukan dan mempermainkanku. Kalian pikir aku tak memiliki harga diri." teriak Firdaus. Firdaus menembak langit langit kantor. "Kalian lihat aku masih memiliki peluru di dalamnya. Aku tidak main main sekarang. Jangan ada yang mencoba lapor polisi atau kalian semua akan mati disini." ancam Firdaus.
"Tenanglah Firdaus, kau jangan gila. Kau akan menjadi seorang pembunuh." ujar Hartanto.
"Aku sudah membunuh Gloria, tentu saja aku sudah menjadi pembunuh. Jadi jika aku membunuh Rafael itu tidak akan mengubah panggilanku." Firdaus kembali mengarahkan pistolnya ke Rafael. Ia menarik pelatuknya.
Dooooorrrrr....
Kembali suara letupan senjata terdengar keras semua berteriak histeris. Delia pingsan sebelum melihat semuanya.
*****
Happy Reading All...
Dukung, Like n komen ya...😘😘😘
__ADS_1