Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 21


__ADS_3

"Apa katamu Raf? Benarkah?" teriak Hartanto di ruang kerjanya saat Rafael menjelaskannya. Hartanto syok mendengar semuanya, anak tirinya mengulang kesalahan yang sama pada keluarga Widjaja. Hartanto hampir tidak mempercayainya, jika saja ia tidak mendengar rekaman percakapan Firdaus langsung. "Ya Tuhan ini tidak mungkin Raf, bagaimana aku bisa menjelaskan pada Helena. Ia akan hancur." lanjut Hartanto.


Rafael memandang ruang kerja ayahnya yang selama ini tidak pernah ia injak sama sekali, lalu kembali menatap ayahnya. "Itulah yang Rafael takutkan pi, bagaimana perasaan mama Helena. Ia berubah menjadi lebih baik dan ingin mengubah putranya juga, ia sangat mempercayai Firdaus. Tapi justru ia dikhianati. Rafael harus bagaimana pi. Rafael ingin memberinya pelajaran dengan memasukkannya kedalam penjara. Tapi mama, ya Tuhan." Rafael sangat bingung dengan situasi ini.


"Papi tidak pernah membenarkan kejahatan Raf, sekalipun itu anak kandung papi. Lakukanlah yang menurutmu baik. Papi akan mengurus Helena." ujar Hartanto.


Rafael tak menyangka ayahnya akan mendukung langkahnya. "Benarkah? papi yakin percaya pada Rafael?"


"Tentu saja papi selalu mempercayaimu nak, ini demi kebaikan semuanya. Sepertinya penjara akan membuat Firdaus jera." kata Hartanto lagi.


"Bulan depan jika papi dan mama bersedia, hadirlah di acara peresmian jabatan itu. Rafael akan menangkap Firdaus disana." ujar Rafael.


"Papi akan berusaha meyakinkan mama mu. Kau beristirahatlah, malam semakin larut." perintah Hartanto.


"Papi yang seharusnya istirahat, Rafael masih banyak urusan pi. Rafael pamit."


"Mau kemana lagi kau?" tanya Hartanto.


"Ke cafe Huda, disanalah Rafael merencanakan sesuatu." ujar Rafael sambil melangkah keluar dari ruang kerja tersebut.


"Mama, kenapa belum tidur?" tanya Rafael saat melihat Helena masih duduk di ruang santai.


"Mama dari tadi menunggumu keluar nak, Delia tadi menghubungi mama. Ia berkali kali mencoba menghubungimu tapi ponselmu mati." Helena memberitahu.


"Delia ingin berbicara padaku? Apa mama yakin? Ia tak ingin bicara dan bertemu denganku ma." kata Rafael sedih.


Helena menggeleng. "Tadi mama mendengar suaranya yang khawatir dan menyuruh mama menyampaikan jika kau sudah selesai bersama papi, kau harus menghubunginya."


"Terima kasih ma, Rafael pamit masih ada urusan di luar."


"Ini sudah larut nak." kata Helena.


"Pria sepertiku tidak mengenal pagi atau malam ma." Rafael mencium pipi Helena dan meninggalkan rumah Widjaja.


 *****

__ADS_1


Rafael menghidupkan ponselnya di dalam mobil. Mengapa Delia tiba tiba ingin menghubunginya. Ia melihat jam tangannya, sudah sangat larut. Ia tak jadi menghubungi Delia karena ia yakin Delia sudah tertidur, ia tak ingin mengganggu istrinya.


Rafael menuju cafe Huda, disana sudah ada Jodhi dan Tyar.


"Bagaimana perasaanmu Raf?" tanya Tyar.


"Aku kalut, bagaimana tidak. Firdaus adalah anak kesayangan Helena. Ia sangat menyayangi putranya dan percaya padanya." jawab Rafael.


"Tapi kami sudah mendapatkan bukti baru Raf, aku menerima cctv dari temanku di Inggris. Pertemuan Firdaus berkali kali dengan Gloria dan saat kau dijebak dengan obat perangsang." Huda menyerahkan laptopnya. "Lihatlah dengan baik rekaman itu."


"Ya Tuhan, apa ini?" Rafael sangat terkejut melihat satu adegan dimana Firdaus mencium Gloria didepan pintu kamar hotel, sebelum akhirnya lenyap di dalam kamar tersebut. "Apa mereka menjalin hubungan?"


"May be yes, atau hanya pelampiasan nafsu aku tidak terlalu yakin." jawab Huda lagi.


Rafael memejamkan matanya lagi dengan fakta baru ini.


"Ada satu bukti lagi Raf, Firdaus berhubungan dengan Bethran Markes. Ia tertangkap sekali datang ke apartemen Bethran." kata Tyar.


"Apa...??? Bethran Markes?? Ais...jadi tebakanku benar, jika ia mendekati Delia dengan maksud tertentu." Rafael mendengus kesal. "Luar biasa permainan Firdaus. Ia sangat cerdas setelah dikirim ke Amerika."


"Lalu ini pak, saya sudah menemukan pria yang mengambil foto perselingkuhan kalian. Pria itu mengikuti anda sejak berangkat ke Australia. Saya yakin memang ia pelakunya. Beberapa kali pria itu tertangkap cctv di sekitar anda dengan kamera." ujar Jodhi.


Rafael melihat bukti baru lagi. "Tangkap pria ini, dan bawa padaku sebelum bulan depan. Ia akan aku jadikan saksi baru untuk menghancurkan Firdaus."


"Baik pak." jawab Jodhi.


"Besok Gloria akan sampai disini. Awasi wanita itu terus Jod. Dan aku akan menemuinya juga, sementara ini aku akan mengikuti permainannya. Aku akan membuat wanita sialan itu mengakui tujuannya dengan caraku sendiri." ujar Rafael lagi.


"Siap pak." jawab Jodhi lagi dan pamit untuk pulang.


"Kalian tidak pulangkah?" tanya Rafael pada Tyar dan Huda.


"Rumahku disini Raf, kau lupa." jawab Huda sambil terkekeh.


"Aku tidak lupa, hanya saja aku ingin meminjam kamarmu buatku tidur malam ini." ujar Rafael.

__ADS_1


"Sialan...lagi lagi aku ditendang dari kamarku." Huda terkekeh. "Gunakan semaumu, jangan lupa menghubungi Delia. Ia menelponku, ia sangat khawatir tadi." ujar Huda sambil keluar ruangan.


"Istrimu juga melakukan hal yang sama Raf, ia menelponku juga tadi." sambung Tyar. "Aku juga pamit pulang."


Rafael ditinggalkan sendirian dengan keterpakuannya. Istrinya mencarinya kemana mana. Justru ia tidak langsung menghubunginya. Ini sudah jam dua pagi, apa mungkin Delia masih terjaga. Ia menghela nafasnya dan segera masuk ke kamar Huda. Rafael merebahkan tubuhnya dan menatap langit langit kamar dengan pandangan jauh. Ia sangat merindukan istrinya sekarang, tak terasa airmatanya tumpah dengan sendirinya. Mengapa ia sangat tidak berdaya saat mengingat Delia. Wanita itu mampu membalikkan dunia Rafael. Ponsel Rafael berdering, ia mengambil ponselnya dan membelalakkan matanya. My Wife Calling...


Delia masih terjaga, bodoh sekali Rafael. Ia segera mengangkatnya. "Ya Tuhan Rafael, kau kemana saja. Mengapa tak menghubungiku. Bukankah aku sudah berpesan pada mama Helena." tanya Delia tanpa menunggu kata Hallo dari suaminya.


Rafael tak kuat menahan tangisnya, ia merindukan suara ini. Omelan ini, semuanya tentang wanita ini. "Aku merindukanmu sayang." jawab Rafael sambil terisak seperti anak kecil.


"Suamiku, kau baik baik saja kan?" tanya Delia. "Apa kau sedang menangis? Dimana kau sekarang? Aku akan kesana."


"Ya Tuhan...aku benar benar merindukanmu Del. Aku tak bisa menahan air mataku. Aku pria yang cengeng." ujar Rafael masih terisak.


Delia akhirnya ikut menangis. "Maafkan aku Raf, aku juga sangat merindukanmu. Ini semua kesalahanku, aku tak mempercayaimu. Aku ingin bertemu denganmu sayang." kata Delia sambil terisak juga.


"Tidak sayang, bahaya jika kita bertemu sekarang, aku sedang merencanakan sesuatu. Jika kita bertemu, maka semuanya akan sia sia. Bersabarlah sampai bulan depan." ucap Rafael.


"Rencana apa maksudmu Raf, aku memiliki bukti yang akan membuatmu terkejut. Aku mendapatkannya dari Bethran. Ini semua tentang Firdaus." ujar Delia.


"Apa kau bilang Bethran?" kesedihannya berubah menjadi emosi. "Kau masih menemui pria sialan itu hah?" suara Rafael meninggi.


"Kau tenanglah, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi tidak bisa lewat ponsel Raf. Kita bertemu sekali saja. Jika aku tak boleh kesana, kau pulanglah sekarang. Paparaji sudah tidak ada di depan rumah." ujar Delia.


"Baiklah aku akan segera kesana. Kau tunggu sayang. Aku akan menemuimu." Rafael menutup ponselnya dan segera menuju rumahnya.


Sepanjang jalan ia terus memperhatikan sekitarnya. Ia takut ada yang mengikuti dan mengetahui pertemuannya. Sampailah ia dirumahnya setelah satu jam. Waktu sudah pukul 3 pagi, Rafael segera menghambur kedalam. Delia sudah menunggunya di pintu dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Rafael tak henti hentinya mencium wajah Delia. Suara tangis keduanya sangat terdengar memilukan. Keduanya melepaskan kerinduan dengan tangis bahagianya.


 *****


Happy Reading All...😘😘😘


Baper ya...☹️☹️☹️


Dukung, Like n Komen terus ya...

__ADS_1


__ADS_2