Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)

Suamiku Tajir & Arogan (Season 2)
BAB 22


__ADS_3

Keduanya sangat puas melepaskan kerinduan mereka. Rafael tak melepaskan pelukannya sama sekali saat duduk di sofa. Ia terus memeluk Delia. "Aku ingin mati rasanya saat berpisah denganmu sayang."


"Maafkan aku Raf, aku memang istri yang bodoh." jawab Delia.


"Sssttt... Ini memang aku yang salah. Aku tak berhati hati. Harusnya aku bisa menjaga hubungan kita dengan baik. Tapi aku menghancurkannya. Maafkan aku sayang." ujar Rafael sambil mengecup puncak kepala istrinya.


"Aku sudah tahu semuanya Raf, ini rekaman percakapan antara Firdaus dan Bethran. Semua rencananya ada disini. Bethran datang kemari dan meminta maaf, ia juga minta pengampunanmu. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan kita. Ia pulang ke Lampung bersama ayahnya. Dan berjanji tidak akan mengganggu kita lagi. Ia menyerahkan ini, karena ia sangat berterima kasih padamu telah melepaskan dan mengembalikan perusahaannya. Ia tidak pernah melakukan apapun padaku. Hari itu aku menerima tawarannya makan di restoran, karena ia ingin meminta maaf dan aku sengaja karena aku tahu kau mengikutiku terus." ujar Delia.


Rafael terkejut. "Jadi kau tahu aku selalu berada di dekatmu?" tanya Rafael.


Delia mengangguk. "Tentu saja aku tahu, pria arogan hanya kau satu satunya. Kau selalu mengawasiku walaupun kau sangat sibuk."


"Itu aku lakukan hanya ingin melihat wajahmu sekali dalam sehari, aku tak mampu menahan rasa rinduku. Tapi aku tak ingin membuatmu jatuh sakit lagi Del. Itu seperti membunuhku." ujar Rafael sedih.


Delia mengecup pipi Rafael. "Maafkan aku, aku sangat marah saat melihat bukti bukti itu. Aku tak bisa menerima alasanmu Raf. Sakit sekali rasanya saat kau mencium wanita lain." ujar Delia sedih.


"Aku akan mengatakan semuanya Del. Kejadian di kantor itu benar benar kesalahan. Saat itu aku sedang memejamkan mataku karena lelah, aku merindukanmu. Tiba tiba ada sentuhan lembut di pelipisku. Aku seperti bermimpi sedang dipijat olehmu, lalu aku menariknya dan menciumnya tanpa membuka mataku, saat itulah aku tersadar. Aku bukan mimpi tapi ada orang lain yang memanfaatkan situasiku, dia adalah Gloria. Aku meminta maaf padanya atas kesalahanku. Ia memaafkanku dengan syarat aku menemaninya di kelab malam. Aku kesana dan ternyata minumanku diberi obat perangsang. Lagi lagi aku hanya melihat wajahmu pada Gloria, aku mencumbunya karena aku pikir ia adalah kau Del. Tapi aku pingsan disana, aku sama sekali tidak melakukan apapun. Percayalah padaku sayang." Rafael menjelaskannya. Delia mengangguk mulai memahami situasi ini. "Ternyata Gloria dan Firdaus sudah merencanakannya. Ia membayar orang untuk mengabadikan setiap momen kesalahanku. Dan soal pertemuanku di Australia dengannya. Sumpah demi Tuhan itu sebatas pekerjaan, aku tak mengatakannya padamu karena kau sudah terlanjur salah paham saat aku bertemu dengannya di China. Tapi aku juga baru tahu, Gloria menemuiku memang sudah merencanakannya." lanjut Rafael.


"Ya Tuhan, sangat mengerikan semua ini Raf. Mengapa kita dicoba oleh Tuhan seperti ini." ujar Delia, ia kembali terisak dipelukan suaminya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi sayang, semua ini akan berakhir sebentar lagi. Tuhan sedang menguji cinta kita. Aku sudah mendapatkan bukti yang lebih banyak. Dan yang kau beri ini adalah bonus sayang, tapi ada satu hal lagi yang akan aku lakukan. Aku harap kau mau memaafkanku. Gloria besok sudah ada di Jakarta sayang, aku masih ingin mengikuti permainan mereka untuk membongkar semuanya. Apa kau mengizinkanku bertemu dengannya?" tanya Rafael.


Delia mengangguk. "Aku percaya padamu Raf, aku akan mendukungmu dari belakang. Kita akan bertemu lagi bulan depan kan? tetaplah menghubungiku. Aku tak ingin lepas dari kabarmu sehari pun."


"Akan aku lakukan. Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu. Tapi belum saatnya kita bercinta sekarang. Jika aku lakukan itu, aku tidak bisa pergi dari sini sayang. Karena aku akan melakukannya selama sehari penuh denganmu dan membuatmu tak bisa turun dari ranjang." goda Rafael.


"Kau tidak berubah. Aku pikir setelah sebulan lebih tanpaku, kau tidak mesum lagi. Dasar." Delia mencubit perut suaminya.


Rafael terkekeh. "Aku sangat senang menggodamu sayang. Sebaiknya aku pergi sekarang. Aku tidak ingin paparaji melihat kita bersama dan membuat rencanaku gagal."


Delia kembali murung. Rafael memeluknya dengan erat. "Tersenyumlah, agar aku tidak berat meninggalkanmu."


"Ssssttt...tidak sayang. Bagaimana kalau aku akan mencuri waktu seperti ini untuk mengunjungimu. Tapi selama itu kau harus bersiap untuk melayani hasratku." Rafael kembali menggoda istrinya agar tertawa.


"Raf...kau benar benar gila. Sudahlah pergi sana. Kau terus menggodaku." Delia mendorong suaminya agar keluar dari rumah.


Rafael menghela nafasnya. Ia memandangi Delia dan kembali memeluknya. Rafael menciumi wajah Delia kembali. "Jaga semua milikku ini sayang, aku pergi sekarang. Aku akan menghubungimu setiap saat. Dan berhati hatilah saat kuliah. Paparaji masih mencari kita." ujar Rafael, Delia hanya mengangguk wajahnya kembali sedih melepas kepergian suaminya. "Ya Tuhan sayang, tersenyumlah." pinta Rafael.


Delia memaksakan senyumannya. Dan mendapat kecupan dikeningnya sebelum akhirnya Rafael menyelinap pergi.

__ADS_1


 *****


Delia tak mampu menahan tangisnya setelah kepergian Rafael. Ia tidak bisa tidur sama sekali, ia sangat merindukan sosok suaminya yang tampan itu selama berbulan bulan. Ia harus sabar sampai bulan depan. Tidak ada yang tahu kedatangan Rafael di pagi buta ini. Delia hanya menghubunginya seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin kamarnya. Matanya sangat sembab dan ada lingkaran hitam disana. Bagaimana ia akan kuliah besok jika wajahnya terlihat seperti hantu seperti ini.


Waktu sudah pukul 5 pagi. Ia hanya memiliki waktu 2 jam lagi untuk tidur. Ia mencoba merebahkan dirinya di ranjang dan akhirnya terlelap dengan sendirinya.


 *****


Rafael sudah sampai di cafe Huda pukul 5 pagi. Untunglah tidak ada yang mengikutinya. Ia teringat kembali pertemuannya tadi. Sosok yang selama ini dirindukannya terlihat sangat lelah. Ia khawatir istrinya akan sakit kembali. Rafael menatap nanar langit langit kamar Huda. Ia ingin sekali segera menyelesaikan ini semua dan kembali ke pelukan keluarganya. Bukti sudah ada banyak ditangannya. Tapi Rafael akan mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi dari Gloria.


Hari ini adalah hari yang baru untuknya, untuk menjebak balik Firdaus dan Gloria. Dan mendapatkan bukti baru untuk mempermalukan Firdaus dan memenjarakannya. Rafael memejamkan matanya. Dan akhirnya tertidur karena tubuhnya sangat lelah.


 *****


Hai para Reader tersayang...


Dukung, Like n komen karyaku terus ya...


Dan baca juga karyaku yang lain, dengan cara klik profilku. Disana ada cerita cerita yang tak kalah menarik. Dan juga ada novel terbaruku yang berjudul "Diakah Jodohku..."

__ADS_1


Have fun guys...😘😘😘


__ADS_2