
...Bab 21 Di Luar Kendali...
Chelsea datang ke rumah sakit, Felix duduk di koridor di luar bangsal, tangannya di atas lutut dan sedikit membungkukan punggungnya, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Dia bahkan tidak menyadari keberdaan Chelsea sudah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Felix mengangkat kepalanya, melihat bahwa orang yang berbicara adalah Chelsea, dia menenangkan emosinya, lalu kembali melirik ke arah bangsal. "Suasana hati ibumu sedang kurang baik."
Chelsea sudah mengetahuinya, "Nah, kamu kembali dan istirahatlah, disini aku yang jaga."
Mata Felix melirik perutnya, "Kamu sendiri juga perlu istirahat."
"Jangan khawatir, aku bisa mengurus diriku sendiri." Chelsea memberinya senyum ringan.
Felix terdiam untuk sesaat dan mengangguk, "Kalau ada apa-apa hubungi aku."
Chelsea menjawab "Ya", Felix berdiri dan berjalan keluar. Menatap punggungnya, Chelsea mengerutkan bibirnya, meskipun dia sudah lama mengenal Felix, tetapi untuk hal-hal Felix dia sama sekali tidak tahu, tentang latar belakang keluarganya, kerabatnya, hampir tidak tahu apa pun.
Jelas bahwa ia memiliki sesuatu yang disembunyikan didalam hati, jadi begitu fokus pada pemikirannya tadi.
Saat ini, Felix berhenti, berbalik untuk melihat Chelsea, lalu berkata, "Aku mendengar sesuatu dari wanita-wanita itu, ternyata seseorang memberi mereka uang agar mereka mengatakannya, dan bahkan menuangkan cat di pintu rumahmu."
Chelsea mengangguk.
"Baiklah, kak jika kamu memiliki masalah, kamu juga bisa bilang padaku." Chelsea memandangnya.
"Aku baik-baik saja." katanya dengan tersenyum.
Chelsea tidak bertanya lagi, semua orang pun memiliki sesuatu yang tidak ingin dikatakan kepada orang lain.
Setelah Felix pergi, dia tidak langsung masuk kamar, tapi bertanya-tanya, siapa yang melakukan itu?
Diana? Patricia?
Tapi mereka tidak tahu diriya hamil.
Jadi--
Boom!
Tiba-tiba, terdengar suara runtuhan, Chelsea kaget dan langsung membanting pintu, kemudian melihat pecahan kaca di dekat kaki Liana, ia berjalan mendekatinya, membungkuk untuk mengambil pecahan kaca di atas lantai, "ibu, apakah kamu ingin minum air? Duduklah, aku membersihkan disini dulu, lalu menuangkan untukmu--"
Kata-katanya belum selesai, tiba-tiba Liana meraih pergelangan tangannya, dan wajahnya dalam ekspresi trauma, "Chelsea."
Chelsea melihat ke atas dan menatap ibunya, "Ada apa?"
Liana juga tampaknya sangat lesu, hanya memegang tangan Chelsea, semakin lama semakin erat, "anak yang berada diperutmu, gugurkan saja, baik?"
Sekarang baru awal, nanti setelah anak itu lahir, tidak ada ayah, kalau berambut kuning bermata biru, apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya?
__ADS_1
Chelsea tahu bahwa Liana dalam keadaan tidak sadar, tetapi dia tidak menyangka Liana akan mengulangi kata-katanya.
"Ibu--"
Liana melepaskannya, jiwanya seolah-olah keluar dari raga, dia terus mengulangi sebuah kalimat, "Kamu tidak rela, aku tahu kamu tidak rela."
Dia duduk di tempat tidur rumah sakit, meringkuk tubuhnya di kepala ranjang, dan berbisik, "Chandra sudah pergi, pergi--"
Chelsea terkejut, ada apa dengannya?
Chelsea bergegas untuk memanggil dokter, Liana tidak mau bekerja sama, dan bahkan melukai dirinya sendiri, dokter memberinya obat penenang.
"Dalam analisa awal, pasien mungkin menderita penyakit mental." Kata dokter setelah pemeriksaan.
Tubuh Chelsea gemetar, kedua tangannya memegang kabinet dibelakangnya baru bisa berdiri teguh, "bagaimana bisa begitu serius?"
"Apakah Ibumu pernah menderita trauma mental sebelumnya? Sebenarnya, ini bukan tercipta oleh satu stimulus, tetapi karena depresi batin yang terlalu lama, begitu depresinya meledak, akan menimbulkan penyakit mental."
Bibir Chelsea gemetar, ibunya tidak pernah tertawa setelah dikirim ke luar negeri oleh Tom. Dia pasti menderita trauma didalam hatinya. Kemudian adik laki-lakinya lahir dan menderita autisme. Kemudian, adiknya meninggal dan Chelsea hamil. Semua kejadian itu pun sangat membuatnya terpukul.
Stimulasi kali ini adalah stimulasi yang membuat depresinya langsung meledak.
Daya tahannya telah mencapai batasnya, dan selama menyentuh titik rapuh di dalam hatinya, dia akan sepenuhnya di luar kendali.
"Ba..bagaimana menyembuhkannya?" Perkataan Chelsea terpatah-patah, dia hanya memaksa dirinya untuk tetap bertahan.
Dokter menghela napas, "Penyakit mental tidak mudah diobati. Bukankah kamu akrab dengan Dokter Tanjung? Dia dokter psikiater, aku pikir dia dapat membantumu."
Tapi tidak bisa memberitahunya?
"Aku sarankan memindahkan ibumu ke Departemen Psikiatri."
Chelsea mengangguk.
Setelah mengantar dokter pergi, Chelsea duduk di atas lantai, dia menatap wajah Liana yang terluka, dia sangat sedih sampai sulit bernapas..
Pikirannya selalu teringat saat dia kambuh dan bahkan melukai dirinya sendiri.
Pada hari yang sama Liana dipindahkan ke Departemen Psikiatri, karena penyakit mental, emosinya tidak stabil, dia mungkin akan melukai dirinya sendiri, juga secara tidak sadar akan menyakiti orang lain, biarpun itu keluarga, Chelsea hanya dapat menjenguknya dalam waktu yang ditentukan.
Perawatan hampir membuatnya terisolasi dari dunia luar.
Setelah keluar dari rumah sakit, Chelsea mengemasi barang-barang Liana dan dia sendiri, lalu membatalkan sewa rumah.
Karena pintunya dituangkan cat, pemilik rumah tidak mengembalikan setoran.
Biaya pengobatan Liana dibayar oleh Felix.
Dia merasa semakin berhutang padanya.
Saat dia fokus pada pikirannya, mobil berhenti di villa, dia mengambil tas, membayar kemudian turun dari mobil.
__ADS_1
Berdiri di pintu vila, dia berhenti sejenak, tidak menyangka dirinya akan tinggal di tempat ini untuk sementara waktu.
Saat dia ingin masuk, ada sebuah mobil yang datang, meskipun dia tidak tinggal di sini untuk waktu yang lama, tapi dia masih mengenali mobil Freddy, jadi dia berdiri dan tidak bergerak.
Freddy turun dari mobil dan memandang Chelsea berdiri di sana, suaranya sedikit dingin, "Kemana saja kamu?"
Dia pergi ke rumah sakit dan mendengar bahwa dia sudah mengurus prosedur keluar rumah sakit. Apa yang dia lakukan selama setengah hari tadi?
Chelsea tidak menjelaskan padanya, urusan Liana sudah membuatnya lelah.
Dia dengan datar berkata, "ada urusan."
Freddy mengerutkan kening, apa sikapnya ini?
Dia melangkah maju---
Chelsea melihat wajah Freddy yang sepertinya marah, tumpang tindih bayangan sejumlah orang, kesadaran Chelsea perlahan mulai kabur, akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Freddy bergerak cepat, menangkapya sebelum ia akan jatuh ke tanah.
Pinggangnya ramping, tidak terlihat bahwa dia sedang hamil, tubuhnya sangat lembut, mereka begitu dekat, dalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan akrab yang tidak bisa dijelaskan.
Freddy mengerutkan kening, perasaan ini sulit digambarkan.
Dia tidak tahu.
Jelas bahwa mereka saling kenal untuk waktu tidak lama, mengapa dia merasa sangat aneh?
Dia tidak punya waktu untuk berpikir lebih mendalam. Dua orang masuk dari pintu, satu adalah Kiki dan yang lainnya Lisa.
Melihat Freddy memegang Chelsea, keduanya terkejut.
Terutama Lisa, jika dia tidak menghadap Freddy, dia mungkin akan sangat marah.
Dalam hatinya sesak!
"Freddy--dia--"
Freddy memeluk Chelsea dan berbalik untuk memasuki rumah. Kiki melirik Lisa yang berdiri di tempat yang sama, "Presiden Budiman menikahi Nona Liam, bahkan jika tidak mencintainya, mereka masih suami-istri, bagaimana mungkin dia melihat Nona Liam pingsan dan tidak pedulinya?"
Lisa sedikit menyindir, "Bagaimana bisa pingsan, bukankah sengaja merayu?"
Kiki belum menjawab, dan Lisa berkata lagi, "Dia tidak sakit tapi tiba-tiba dia pingsan, bukankah itu aneh?"
Perkataan ini memang cukup masuk akal.
Dibandingkan dengan Chelsea, Kiki lebih mempercayai Lisa. Lagi pula, mereka sudah saling kenal sejak lama, dan mereka adalah rekan kerja.
Meskipun Chelsea dapat dianggap sebagai wanita yang malang, tapi dia masih memiliki kerabat. Tidak seperti Lisa yang hanya tersisa dia sendirian, yang telah mengikuti Freddy selama bertahun-tahun, Kiki secara wajar lebih percaya padanya.
Freddy memegang Chelsea dan menempatkannya di tempat tidur, ketika dia mau bangkit, tiba-tiba Chelsea meraih kerahnya -
__ADS_1