
...Bab 24 Ayah Anakku...
Freddy tidak mampu menghindar dan menyaksikan Chelsea terjatuh dan mengarah ke tubuhnya.
Dahinya membentur dagunya, menyebabkan rasa sakit. Tapi bibirnya melekat pada benda yang keras, cekung dan cembung, suasananya yang tidak asing.
Chelsea tertegun sejenak dan ketika pikirannya kembali, ia segera bangkit, dia baru menyadari bahwa bagian yang melekat pada bibirnya tadi itu adalah jakunnya....
Dia menutupi dahinya yang sakit dan pipinya terasa panas.
Dia malu.
Freddy juga karena kontak fisik barusan, membuat pikirannya kacau sejenak, sebelum perlahan mengangkat matanya dan menatapnya, "Aku mesum, kamu apa?"
Tidak menunggu Chelsea untuk berbicara, dia duduk perlahan dan sengaja menarik-narik kerah bajunya. Ujung jarinya melintasi tempat di mana Chelsea baru saja mencium. Dia tersenyum, "Kita adalah suami dan istri, jika kamu ingin mencium, bisa katakan secara langsung, aku tidak pelit."
Chelsea terdiam untuk waktu yang lama.
Siapa yang ingin menciumnya?
Itu tadi hanya sebuah kecelakaan!
"Aku tidak ingin menciummu!" Chelsea berbalik dan pergi, ingin meninggalkan ruang tamu dengan cepat.
Freddy duduk di lantai tidak bisa bergerak, entah kenapa kalimat ‘aku tidak ingin menciummu’ membuatnya marah dan mencibir, "Lalu siapakah yang ingin kamu cium?"
Dia mencibir, "Pria yang membuatmu hamil?"
Ketakutan, penghinaan, langsung membuatnya naik darah.
Dia enggan menyebutkan dari mana datangnya anak yang ada di perutnya
Hal seperti ini dikatakan oleh Freddy tiba-tiba, membuatnya merasakan sakit di hatinya.
Jelas-jelas hatinya hancur, tapi dia masih kuat menahannya, "Tentu saja... Tentu saja aku senang dengan ayah dari anakku."
Bagus, wanita ini benar-benar hebat!
"Nona Liam jangan lupa, kamu berutang satu hal padaku?" Freddy berdiri, dia menepuk-nepuk pakaiannya yang sama sekali tidak berdebu, mengangkat kepalanya dan menatap Chelsea dengan kaku di depan pintu kamar, "Aku membutuhkanmu sebagai penerjemah untuk bekerja di perusahaan mulai besok. "
Dia mengambil kontrak pertanahan itu dan pasti Freddy mempunyai permintaan.
Tidak apa-apa, dengan begini aku tidak berhutang budi lagi padanya.
"Oke." Chelsea menjawab, lalu mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar.
Memikirkan masalah tadi, wajahnya menjadi merah
Agar tidak bertemu Freddy, dia tidak pernah keluar kamar, sampai Bibi Tani memanggilnya untuk menyuruhnya makan, dia baru membuka pintu dan berjalan keluar.
Freddy sudah di ruang makan dan Bibi Tani mengantar makanan ke meja.
Chelsea berjalan dan duduk untuk makan, matanya juga tidak sembarangan melihat.
Suasana di meja sejenak terasa nyaman.
Bibi Tani tidak nyaman dengan sikap mereka, mereka berdua jelas-jelas adalah suami istri tetapi malah terlihat seperti orang asing. Dia membawa sepiring tumis brokoli dan meletakannya di depan Chelsea, " Tuan muda suka makan ini."
__ADS_1
Selera Freddy relatif tawar dan dia suka makan sayur. Bibi Tani yang telah merawatnya jadi dia adalah orang yang paling jelas.
Chelsea membeku sejenak, tidak tahu apa yang dimaksud Bibi Tani.
Dalam hatinya berpikir, kalau dia suka makanan itu, kenapa tidak diletakan di depannya saja.
Bibi Tani mengedipkan matanya dan memintannya untuk mengambilkan lauk untuk Freddy, Chelsea melihatnya sebentar sebelum dia mengerti apa yang dimaksud Bibi Tani.
Ini mungkin saja sudah bisa membuat mata Bibi Tani kram.
Chelsea tidak punya pilihan selain memasukkan sepotong brokoli ke dalam mangkuk Freddy.
Freddy mengangkat matanya, Chelsea tersenyum dan dilihat Bibi Tani membuatnya jadi berhati hati.
Rencana ini terlihat jelas.
Freddy perlahan mengambil menyendok potongan brokoli itu, brokoli yang hijau dan lembut itu membuat matanya penuh antusias, "Bibi Tani memang tahu seleraku."
Bibi Tani tersenyum, "Nyonya juga nantinya akan mengerti, sekarang dia baru baradaptasi, belum terbiasa."
Bibi Tani mengubah ucapannya, sebelumnya memangilnya Nona Liam, meskipun dia tidak berkenan di malam sebelumnya, tetapi dia adalah orang yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi istri Tuan muda.
Secara alami pasti ingin mereka baik-baik saja dan tidak mengecewakan Nyonya besar.
Mendengar panggilan Nyonya muda dari mulut Bibi Tani hampir membuat lidah Chelsea kelu. Dia memundukkan kepalanya lebih rendah, lalu meletakan mangkuknya yang bahkan air liur saja belum diminum, "Aku sudah selesai makan, kamu makanlah perlahan, "
Setelah berbicara, dia berlari kembali ke kamar.
"Ada apa dengannya?" Bibi Tani tidak bisa bereaksi.
Freddy menatap punggungnya, tersenyum di sudut matanya, bibirnya sedikit terangkat, "Mungkin belum terbiasa dengan perlakuan Bibi Tani."
Setelah itu, dia berbalik dan berjalan pergi.
Ruang makan besar yang tersisa dengan hanya Freddy, lampu kristal yang tersebar di atap, lingkaran cahaya,menyelimutinya dan ia menambahkan sepotong brokoli ke dalam mulutnya dan mengunyah perlahan...
Keesokan harinya.
Setelah Freddy pergi ke perusahaan, Chelsea juga pergi keluar, berjanji untuk bekerja di perusahaan, maka dia harus mengundurkan diri dari pekerjaan di Restoran, jadi dia harus pergi ke restoran.
Ketika berganti sepatu di teras Bibi Tani datang, "Mau pergi keluar?" "
Chelsea mengangguk.
"Kembalilah lebih awal, Jangan menghabiskan malam di luar, kamu sudah menikah." Bibi Tani mengingatkan.
"Um", Chelsea mengenakan sepatunya dan pergi keluar.
Pergi ke persimpangan dan naik taksi ke restoran.
Disini tidak ada bus umum yang bisa ditumpangi.
Chelsea baru mulai bekerja sudah mengambil cuti dan sekarang dia datang untuk mengundurkan diri. Manajer itu sedikit tidak senang, "Mengapa kamu melamar kerja kalau tidak mau datang kerja? Bukankah ini menambah masalah bagi kita?"
Chelsea juga merasa sangat menyesal, "Maaf, saya benar-benar minta maaf."
Manajer itu cemberut, baru saja ingin bersantai, bos datang dan mengatakan bahwa dia terlalu sibuk sekarang.
__ADS_1
Manajer memandang Chelsea, "Kamu bantu aku dulu dan kalau sudah selesai kamu bisa pergi."
"Baik"
"Karena profesionalitas, Chelsea harus turun.
Chelsea mengganti pakaian kerjanya, tampaknya cukup sibuk hari ini.
"Ini dikirim ke ruang No. 88." Koki menjelaskan Ketika Chelsea akan mengantar hidangan.
Chelsea menanggapi, meletakkan piring halus di nampan dan mengirimnya ke ruang pribadi.
Dia memegang nampan dengan satu tangan dan mendorong pintu terbuka. Pintu terbuka lebar dan sangat pribadi. hanya duduk dua orang di depan meja bundar. Dan dia kenal salah satu dari mereka, Freddy.
Saat bertatapan mereka sangat terkejut.
Jonathan Tandiono, Presiden HSBC tampaknya sedang berbicara dengan Freddy dan seseorang datang menghentikan pembicaraan mereka
Chelsea menunduk dan berjalan membawa nampan ke meja.
"Pelayan di Restoran Blossoms semakin lama semakin cantik." Jonathan tersenyum dengan senyum di wajahnya dan menatap Chelsea dari atas ke bawah.
Chelsea sangat jijik, saat dia mengambil nampan dan bersiap pergi, Jonathan meraih pergelangan tangannya dan menatap Freddy sambil tersenyum, "Biarkan dia tinggal untuk menuangkan anggur untuk kita."
Senyum di wajah Freddy perlahan membeku, bersembunyi dibalik wajah serius dan suram, "Apakah Presiden Tandiono tahu apa yang akan kita bicarakan?"
Dia mengangkat matanya dan menatap wajah Chelsea dengan ringan, "Aku tidak membutuhkanmu di sini."
Chelsea mengambil nampan dan bergegas pergi.
Kiki, yang berdiri di belakang Freddy mengerutkan kening, sangat tidak senang dengan kemunculan Chelsea. Bagaimana dia bisa muncul di sini?
Jika seseorang mengetahui hubungannya dengan Freddy, bagaimana jika orang lain tidak bisa menjaga lidah mereka dan membuat rumor?
Apakah Freddy masih punya muka?
Rasa tidak sukanya dengan Chelsea semakin bertambah.
"Restoran Blossoms ini semakin pandai berbisnis, makanan rasanya enak, bahkan para pelayan juga dipilih yang sangat unik, yang barusan tadi, kulit putihnya seperti batu giok putih, pinggangnya sangat ramping, kurasa aku bisa memegangnya dengan satu tangan. "
"Presiden Tandiono, aku akan menuangkan anggur untukmu." Kiki datang dan memotongnya tepat waktu.
Jonathan baru menyadari wajah Freddy yang terdiam dan dia dengan cepat membuatnya tertawa bersamanya, "Aku baru saja ngelantur."
Chelsea berjalan keluar dari ruangan dengan napas panjang dan tidak pernah mengira pagi ini dia baru saja berpisah dan kemudian bertemu lagi.
Waktu kerja telah berlalu, manajer mengizinkannya pergi, dia berganti pakaian dan berjalan keluar, dia melihat Kiki berdiri di pintu.
Dan wajahnya tidak begitu baik.
Dia menatap Chelsea dengan dingin, "Presiden Budiman sudah menunggumu, ayo pergi."
Chelsea mengikutinya.
"Bu, aku melihat dress Chanel. Sambil menunggu makanan, maukah ikut denganku untuk membelinya?" Diana berjalan ke arah Patricia.
"Oke, putriku pastinya harus mengenakan yang terbaik." Kedua ibu dan anak itu datang sambil tersenyum.
__ADS_1
Tampaknya dia juga datang ke Restoran Blossoms untuk makan malam.
Ketika Chelsea melihat ibu dan anak itu, langkahnya terhenti...