
...Bab 32 Kejadian Malam Itu...
"Diam!" Victoria baru saja mau mengeluakan kata-kata segera dihentikan oleh Lisa, "Kita semua bekerja sama-sama di sebuah perusahaan harusnya saling bertoleransi satu sama lain. Hanya karena tidak sengaja menumpahkan air ke tubuhmu, kamu langsung menjadi begitu ganas hingga berbuat seperti itu"
Victoria ingin mengatakan kalau dia takut sangat takut kalau sampai kebenarannya terungkap, namun dia juga tidak berani untuk menyudutkan Lisa. Dia tidak ingin sampai identitasnya terbongkar.
Sekarang sebaiknya berdiam diri sejenak, dengan begini mungkin saja dia masih bisa menyelamatkan diri.
Chelsea tidak mengerti interaksi yang terjadi di antara Victoria dan Lisa.
Dia hanya merasa kedinginan.
Bukan tubuhnya yang dingin.
Tetapi hatinya yang terasa dingin.
Karena dia menikah dengan Freddy, maka begitu banyak orang kini membencinya.
Awalnya dia mengira kalau itu hanyalah sebuah pernikahan kontrak yang sederhana, namun tidak disangka mendatangkan begitu banyak kekacauan.
Dia tidak habis pikir dan tidak mengerti sudah tahu kalau pernikahannya dengan Freddy hanyalah sebuah pernikahan kontrak kenapa masih saja tidak bisa membiarkannya untuk hidup dengan tenang.
Victoria memandang Chelsea dengan tatapan ganas.
Chelsea hanya berpura-pura seakan tidak melihatnya.
Takutnya Victoria hanyalah digunakan sebagai alat oleh orang lain untuk mencelekainya saja, dia tidak juga menyadarinya.
Tidak lama berselang Kiki jalan menghampirinya dan berkata kepada Victoria, "Kamu telah dipecat."
Victoria tertegun sejenak, "Aku tidak sengaja"
"Apa yang telah kamu perbuat kamu sendiri tahu." Kiki berbalik dan melihat ke arah sekeliling ke orang-orang yang ada di sana yang ingin melihat keramaian yang semuanya penasaran ingin tahu apa yang dikatakan oleh Kiki.
"Kalau ingin tahu, nanti setelah jam kerja selesai pergi ke ruangan pengawas untuk melihat hasil rekaman kamera pengawas. Di sini adalah kantor bukan pasar, kami tidak membutuhkan pegawai yang tidak bisa menjaga persatuan. Tolong jadikan ini sebagai sebuah peringatan!" Setelah selesai mengatakan hal itu Kiki lalu menambahkan, "Kembali melakukan kerjaaan kalian masing-masing."
Semuanya telah kembali ke tempat duduk masing-masing. Chelsea sudah kembali ke meja kerjanya. Freddy keluar dari ruangan kantornya untuk pergi ke ruangan diadakannya rapat. Victoria yang melihat Freddy lantas berlari menghampirinya.
"Presiden Budiman, aku tidak bermaksud sengaja melakukannya"
Freddy tidak menghiraukannya, dia hanya berjalan terus ke arah ruangan rapat tanpa memperdulikannya.
Victoria yang masih ingin terus maju mengejar dihentikan oleh Kiki dan berkata, "Apa yang kamu perbuat, kamu sendiri sudah jelas. Kamu juga sudah sangat jelas bagaimana karakter dan tempramen Presiden Budiman"
"Tetapi....." Victoria membuka mulut ingin menjelaskan sesuatu, namun kemudian dia menyadari kalau dia sama sekali tidak ada alasan untuk dapat membela diri.
Kiki memberinya peringatan dengan tatapan matanya yang memelototinya lalu berjalan ke arah ruang rapat.
Victoria tidak ingin begitu saja membuang pekerjaannya, dia ingin pergi memohon kepada Lisa. Atas dasar hubungan baik yang terjalin di antara Lisa dan Freddy, asalahkan Lisa bersedia untuk membantunya memohon kepada Freddy, masih ada kemungkinan baginya untuk dapat tetap tinggal.
__ADS_1
Victoria menunggu di depan pintu ruang rapat.
Setelah satu jam lebih berlalu, pintu ruangan rapat terbuka, Freddy lalu keluar melalui pintu ruang rapat dengan diikuti oleh Kiki dan Lisa.
Melihat Victoria yang berdiri di sana, semua dari mereka mengerutkan kening.
Victoria lalu langsung dengan cekatan meraih lengan Lisa dan berkata "Kakak Lisa, kamu harus membantuku memohon maaf. Aku mencelakai Chelsea semuanya demi kamu."
"Kamu berkata omong kosong apa?" Lisa secara tegas lalu menghempaskan pegangan tangannya.
"Kamu secara jelas nyata-nyata mengatakan kalau kamu tidak menyukainya." Victoria tidak menyangka kalau Lisa bisa berubah dengan begitu cepat.
"Aku tidak menyukainya lantas apakah aku menyuruhmu untuk mencelakainya?" Tanya Lisa.
Dia tidak suka Chelsea tampaknya juga sudah diketahui dengan jelas oleh Freddy.
Dia tidak bisa menyangkalnya.
Lisa tidak mengatakannya secara lugas, namun ada maksud tersirat pada kata-katanya yang berkata "Akan tetapi....."
"Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatan yang kamu lakukan sendiri" Lisa mengatakannya lalu memanggil petugas keamanan, "Seret dia keluar!"
"Kakak Lisa, aku memohon kepadamu untuk membantuku, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini."
Lisa tidak mempedulikannya, dia ini suka berkata omong kosong, kalau dia membantunya apa yang akan dipikirkan oleh Freddy tentang dirinya.
Tidak ada jalan.
Setelah melihat tampaknya sudah tidak ada harapan lagi, Victoria berteriak dengan penuh amarah kepada Lisa, "Lisa aku telah membantumu menyeberangi sungai melewati jembatan, kamu itu manusia munafik, kamu telah membuatku kehilangan pekerjaan, lihat saja nanti nasibmu tidak akan baik"
"Masih tidak segera menyeretnya pergi keluar malahan membiarkannya membuat keonaran di sini." Kiki mengeluarkan perintah, para petugas keamanan dengan cepat lantas menyeretnya pergi keluar dan tidak lama berselang suara Victoria telah menghilang dari gedung itu.
Freddy tampaknya tidak senang dengan keributan yang terjadi ini, dia lantas melangkahkan kakinya dengan cepat.
Lisa lantas mengikutinya.
Setelah memasuki ruangan kantor, Lisa melingkarkan kedua lengannya pada pinggangnya dari belakang lantas memeluknya berkata, "Freddy, dengarkan aku..." Wajahnya ditempelkan pada punggungnya, "Aku hanya berkata kalau aku tidak menyukainya tetapi aku tidak menyuruh orang untuk mencelakainya."
Freddy menunduk dan melihat ke tangan yang melingkar di pinggangnya dan berkata, "Aku sudah mengatakannya kalau aku akan memberikanmu sebuah status, kamu tidak perlu sebegitu cemasnya。"
Freddy berkata sambil melepaskan tangan Lisa yang melingkar di pinggangnya, "Aku telah menyentuh tubuhmu, aku pasti akan bertanggungjawab terhadapmu tidak peduli pada situasi atau kondisi apapun itu, lain kali kamu jangan mengganggunya lagi."
Lisa yang sebenarnya tidak ingin melepaskan lengannya, namun karena kekuatan yang sangat kuat dari Freddy sehingga mau tidak mau dia hanya bisa melepaskan lengannya dari pinggangnya.
"Freddy, aku bener tidak melakukannya, kalaupun aku ada melakukan sebuah kesalahan, itu semua adalah demi kamu. Apakah salah kalau aku mencintaimu? Aku sudah bersamamu begitu lama, apakah kamu masih belum mengerti juga?" Lisa sambil berlinang air mata mengatakannya "Jangankan untuk berkorban untukmu, bahkan mati untukmu pun aku rela, aku menyukaimu, mencintaimu dan aku takut kehilanganmu."
Ekspresi Freddy ada sedikit terbawa emosi bukan karena ketulusan yang ditunjukkan oleh Lisa namun karena suasana sentimentil yang tercipta pada malam itu.
Freddy menggunakan tangannya untuk menghapus air mata Lisa, "Aku bahkan tidak memarahmi mengapa kamu menangis? Apakah kamu ingin melunakkan hatiku?"
__ADS_1
Dengan air mata yang berlinang, dia tersedak berkata, "Aku takut kamu tidak menginginkanku lagi, sedari kecil aku tidak memiliki sanak keluarga, aku besar di panti asuhan, demi meninggalkan kehidupan yang ada di panti asuhan, aku belajar dengan keras, bekerja dengan keras, lalu Tuhan mengasihaniku dan membuatku bisa berjumpa denganmu, kamu adalah satu-satunya anggota keluargaku, kamu adalah yang aku sayangi, aku tidak bisa kehilanganmu."
"Tidak akan, apa yang telah aku janjikan kepadamu pasti akan aku berikan" Freddy melepaskan tangannya dan berbalik badan lalu berkata "Pergi lanjutkan kerjamu!"
Lisa semakin hari semakin tidak mengerti akan dirinya.
"Freddy....."
"Pergilah!" Ada tersirat kalau Freddy sedikit tidak sabaran, dia tidak ingin melanjutkan untuk membicarakan mengenai topik ini.
Lisa lalu pergi keluar dari ruangan kantor.
Tingkah laku Freddy semakin hari semakin membuatnya tidak mengerti. Ketidakpastiannya membuat hatinya yang awalnya sudah menjadi tenang, kini cemas kembali.
Lisa pergi ke toilet lalu menghubungi sebuah nomor telepon.
"Bukankah kamu mengatakan kalau kamu telah turun tangan? Kenapa dia masih bisa muncul di kantor dengan kondisi baik-baik saja?"
"Rencananya gagal." Diana juga sangat kesal.
Lisa sebenarnya sudah sangat ingin marah, namun dia berpikir kalau dia masih menggunakannya, maka dia berusaha menahan amarah dan bertanya, "Kenapa bisa gagal?"
"Aku dan Ibuku ada sedikit ceroboh, hanya mencari seorang pria, namun pria itu telah kabur dibuatnya"
Lisa benar-benar sangat murka dan ingin mengatainya idiot.
"Lantas kamu begitu saja melepaskannya?"
"Ibuku berkata jikalau pastinya dia sudah bersikap waspada terhadap hal ini, dalam waktu dekat ini takutnya belum bisa berbuat apa-apa lagi terhadapnya." Lagipula sekarang lagi ada masalah yang terjadi di dalam perusahaan, sikap Tom terhadap Ibunya kini tidak sebaik sebelumnya.
Sekarang mereka seharusnya menahan Tom terlebih dahulu.
Ingin melakukan seperti apa yang terjadi pada delapan tahun yang lalu, memperlakukan mereka seperti apa yang diperlakukan terhadap Liana, di mana Ibu dan anak kedua-duanya dihabisi. Dengan begitu baru bisa benar-benar menumpas mereka hingga tak bersisa.
Lisa sudah tidak sabaran lagi, namun dia tidak bisa turun tangan sendiri, yang dia bisa lakukan hanyalah bersabar, "Kalau begitu kamu cepatlah!"
"Kamu kenapa lebih tidak sabaran dari aku?"
Lisa terdiam sesaat menyadari kalau sikapnya barusan terlalu antusias, "Tidak, bukannya aku tergesa-gesa demi kamu? Wanita seperti Chelsea itu mana pantas untuk berpasangan dengan Freddy, betul kan menurutmu?"
"Tentu saja, mustinya aku yang menikah dengan Freddy. Barang murahan seperti Chelsea itu sangatlah tidak pantas"
Lisa tersenyum sinis, dia berkata dalam hati Chelsea tidak pantas lantas apakah dia pantas.
Kalau bukan karena bisa menggunakannya, Lisa sama sekali tidak ingin berbicara dengannya.
"Lain kali jangan sampai terlewatkan lagi" Setelah selesai berkata demikian Lisa menutup telepon.
Dua hari yang lalu.....
__ADS_1