Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku

Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku
bab 39


__ADS_3

...Bab 39 ...


...Aku Bukan Pria Jahat...


Hari itu kata-kata dokter masih bergema di telinganya, semua suara dokter yang tidak berperasaan, "Adikmu sudah tidak tertolong...."


Air matanya tidak bisa dibendung lagi, mengucur keluar.


Dia memegang Liana dengan erat, "Adik, dia pergi ke sekolah dan lain kali aku akan membawanya untuk menemuimu."


Pikiran Liana agak kacau dan dia mengangguk ragu, lalu berhenti bicara.


Chelsea menghapus air mata di wajahnya dan tersenyum, "Ibu, apa yang ingin kamu makan? Aku membelinya untukmu."


Liana tidak mengatakan apa-apa, memegang kedua lututnya di kedua tangan, yang merupakan tanda rasa tidak aman.


Ketika Chelsea berbicara dengannya, dia hanya menatap ke suatu tempat dengan pandangan tertegun, tidak fokus, sedikit longgar.


"Ibu......" Chelsea meraih pundaknya dan mengguncangnya, " Bicaralah padaku, lihat aku, aku adalah putrimu, Chelsea."


Dia mengenalnya sekarang dan masih memanggil namanya.


Chelsea sudah tidak tahan dengan keadaan seperti begini, ingatannya sebentar bisa mengingat dan sebentar lagi menghilang.


"Kamu jangan begini." Perawat yang sedang berkunjung melihat keadaan Chelsea itu, berusaha untuk menghentikannya.


Chelsea memandang perawat itu, "Apakah penyakit ibuku parah lagi?"


"Pasien mental memang seperti ini." Perawat melihat waktu, "Waktu kunjungan akan berakhir, kamu jangan di depan pasien begitu emosional, itu akan tidak baik buat pasien."


Chelsea mengangguk-angguk, "Baiklah, aku mengerti."


Chelsea membicarakan kenangan-kenangan masa lalu dengannya, sehingga jiwanya tergoncang.


Waktunya telah tiba dan perawat memanggilnya, dia tersedar dan menatap Liana seperti enggan berpisah, " Ibu, aku akan menjengukmu beberapa hari lagi."


"Chelsea." Ketika Chelsea berjalan kearah pintu, Tiba-tiba Liana bersuara, Chelsea berbalik dan menemukan bahwa Liana tidak mengenal dirinya sama sekali.


Liana menatap suatu tempat dan berkata pada dirinya sendiri, "Putriku bilang dia hamil dan anak itu tidak punya ayah, apa yang harus dia lakukan nantinya?"


Lalu dia menangis.


Chelsea hanya merasa hatinya panas dan sakit.


Dia takut dia tidak bisa membendung perasaannya, dia membalikkan kepalanya dan keluar.


Dia duduk sendiri dibangku lorong.


"Chelsea." Felix memanggil sambil berjalan dengan memakai mantel putih.


Chelsea langsung berdiri.

__ADS_1


Felix berjalan ke arahnya, menepuk pundaknya, seakan memberikan isyarat untuk membiarkannya duduk, "Ada hal yang ingin kubicarakan."


Chelsea duduk dan disampingnya telah duduk Felix, "Apakah kamu sudah melihatnya?"


"Ehm." Dia memegang kedua tangannya dan telapak tangannya berkeringat.


"Kamu harus mempersiapkan hatimu untuk menerimanya, keadaan seperti ini sangat sulit untuk pulih." Felix menghela nafas, "Dia sangat terguncang hebat, membuatnya seperti ini, sehingga dia ingin melupakannya dan itu yang membuat ingatannya kacau."


Chelsea menggigit bibirnya, "Dia lupa fakta bahwa Chandra sudah pergi dan bertanya mengapa aku tidak membawanya untuk menemuinya."


Felix memeluknya dan menepuk-nepuk lenggannya, "Jangan menangis, ada kakakmu disini, aku juga akan menjaga Ibumu dengan baik."


Chelsea mengangguk, berkata, "Terima Kasih."


"Untuk apa sungkan denganku?" Felix menurunkan matanya, berpikir berulang-ulang kali dan mengekspresikan pendapatnya berkata, "Chelsea, Ketika masa kontrak kesepakatanmu dengan Freddy telah selesai, biarkan aku merawatmu, huh?"


Chelsea terdiam menatap Felix, "Kak......"


"Aku tahu kamu mungkin akan susah menerimanya, kita berdua kenal bukan hanya satu atau dua hari saja, aku bukanlah orang jahat, aku hanya ingin menjagamu saja, kamu jangan hanya pikirkan diri sendiri, yang terpenting ada anak yang ada dikandunganmu ke depannya, anak ini butuh keluarga yang bisa menjaganya serta memberikannya kasih sayang, aku mempunyai kriteria itu."


Felix mengatakan semua yang ingin dia katakan, dia sangat bodoh jika tidak mengerti.


Untuk Felix, dia hanya memperlakukannya sebagai orang yang dicintai.


"Kamu tenang, aku akan menganggapnya seperti anak kandungku sendiri." Felix berkata sangat serius.


Chelsea tidak tahu harus berkata apa.


"Jangan buru-buru dulu untuk menolak." Felix memandanginya, "Pernahkah kamu berpikir, anak ini jika lahir, akan bertanya tentang Ayahnya, apa yang akan kamu lakukan? Aku adalah seorang psikiater, aku tahu bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang orang tua tunggal memiliki cacat kepribadian, demi anak Anda, pertimbangkan baik-baik. "


Felix sangat tulus, dia memberikan jalan keluar agar lebih mudah, penyakit Liana mungkin sulit untuk pulih, dia juga tidak mempunyai uang untuk melahirkan anak ini, apalagi memikirkan kehidupan selanjutnya.


Dia hanya ingin merawatnya.


Chelsea menundukkan kepalanya, malu untuk mengakui beberapa perkataan Felix ada benarnya, anak dikandungannya sangat butuh sebuah keluarga, supaya dia bisa bertumbuh dengan sehat.


Akan tetapi......


Ini tidak mudah baginya untuk menerimanya.


Anak ini bukanlah anaknya.


Keluarganya pun bukan keluarga biasa.


"Chelsea......"


"Kakak." Chelsea memotongnya dengan cepat, mengeluarkan tumpukan uang dan menyerahkannya, "Terakhir kali kakak membayarkan biaya pengobatan, aku akan mengembalikannya."


Awalnya dia ingin melihat Liana, lalu berbicara dengannya, tetapi tidak disangka dia duluan bertindak, dia... juga mengatakan hal-hal yang tidak terduga.


Felix menatap tumpukan uang itu, wajahnya nampak kaget, "Uang ini, apakah dia yang memberikan padamu?"

__ADS_1


Chelsea menggoyangkan kepalanya, "Bukan, Tom yang memberikan padaku."


Dia tidak menjelaskan secara detail.


Felix tidak percaya, dia adalah seorang pria kejam, kenapa bisa tiba-tiba memberikan uang?


"Chelsea......"


"Kakak, aku pergi kerja dulu." Chelsea berdiri dan menyelipkan uang itu ke dalam pelukan Felix, "Ini adalah hutang aku dan harus membayarnya kembali."


Setelah selesai berbicara, dia beranjak pergi.


Felix tidak mengejarnya, dia mungkin masih belum bisa menerima semua ini, dia harus memberi waktu untuk berpikir.


Chelsea hampir sampai keperusahaan sudah tengah hari.


Saat sudah berada dekat perusahaan, dia dihadang, dia dihadang oleh Farida Sugondo, teman baik dari Victoria, kali lalu Victoria dipecat karena Chelsea, kemudian Victoria ada salah, tetapi tidak mungkin tanpa sebab Victoria melakukan itu.


Kemungkinan yang lalu dia ada berbuat salah.


"Apakah kamu telat?" Farida menatapnya.


"Aku mengambil cuti," kata Chelsea dengan santai.


Dia pegawai baru, orang-orang di kantor belum begitu ramah padanya, tetapi dia tidak peduli, setelah Farida pergi, Farida meraih lengannya, "Kamu berbohong!"


Dia sudah mendengar dari Lisa, Chelsea tidak pernah memintanya untuk istirahat.


"Aku benar-benar meminta ijin untuk cuti hari ini, bisakah tolong lepaskan aku?"


"Tidak bisa! Nyata-nyata kamu sedang berbohong! Jangan karena kali itu kamu mendapat perlindungan dari Presiden Budiman, kamu bisa semena-mena!" Kali itu, dia terlalu mempermasalahkannya, mereka hanya berpikir waktu itu Freddy sedang tidak sadar sehingga berbuat demikian.


Chelsea dengan nada keras berkata, "Sekarang tolong kamu minggir, jika tidak puas bisa sendiri bertanya kepada Presiden Budiman."


Dia tidak ingin mencari musuh, tetapi hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan tenang, mengapa ada saja yang mengganggunya?


"Jam setengah dua siang, melakukan pertemuan dengan Presiden Bank HSBC dan perjamuannya pada jam 8 malam......"


Freddy meletakkan tangannya di dalam kantung celananya,s elama berjalan, dia sambil mendengar rencana perjalanan yang dibicarakan oleh Lisa.


"Perjamuan malam hari ini, biarkan Kiki pergi menggantikan aku." Dia berkata dengan lembut.


"Kali ini, perjamuan malam merupakan peringatan ke seratus tahunnya Grup Lestari, tidak pantas jika tidak pergi." Grup Lestari merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan.


Sekarang mereka sudah berdiri selama 100 tahun......


"Presiden Budiman, Sekretaris Rati." Farida menemukan dan membawa tersangka yaitu Chelsea, "Sekretaris Rati, apakah dia meminta ijin mengambil cuti?"


Lisa menatap Freddy dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, ada apa?"


"Dia terlambat, lalu berkata dia mengambil cuti." Farida dengan nada tinggi berkata, "Apakah pendatang baru tidak perlu menaati peraturan perusahaan?"

__ADS_1


__ADS_2