Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku

Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku
bab 41


__ADS_3

...Bab 41 ...


...Mendeklarasikan Kepemilikannya...


Setelah memberikan alamatnya, Chelsea bangun dari tempat tidurnya dan pas ketika Bibi Tani memanggil, "Makanan sudah aku siapkan."


"Aku tidak makan dirumah ya, mau keluar." Chelsea merapikan rambutnya, berjalan menuju pintu untuk mengganti sepatu dan bergegas keluar.


Dia berjalan dan menunggu di persimpangan karena tidak ingin Felix yang datang kesini.


Felix pun datang dalam waktu singkat.


Felix yang tidak membiarkan Chelsea menunggu terlalu lama hari ini tampak beda dari biasanya.


Sejak Chelsea pertama kali bertemu dengannya, dia biasanya mengenakan baju kasual ataupun jubah laboratorium. Ini barulah pertama kalinya dia memakai jas dan sepatu kulit.


Felix turun dan membukakan pintu mobil untuknya.


Chelsea tidak langsung masuk ke dalam mobil, melainkan duluan bertanya, "Apakah ada acara penting?"


Dia tampak sangat formal.


"Tidak juga." Karena dia tidak mempermasalahkannya.


Chelsea masuk kedalam mobil dan keduanya tidak membicarakan topik sebelumnya lagi.


Felix mengendarai mobil dan Chelsea pun tidak memulai topik pembicaraan.


Atmosfer dalam mobil lembut dan gemulai.


"Kamu tidak usah gugup, nanti ikuti saja aku." Felix pun memulai topik pembicaraan.


Karena dalam keadaan diam akan sangat canggung. Apalagi setelah dia menyatakan perasaannya.


Chelsea mengiyakan, ini untuk menjaga diri sendiri, sesuatu yang tidak berhubungan dengan perasaan.


"Ok."


Felix berpaling dan menatapnya. Ikatan rambut, pipi sebesar telapak tangan, hidung dan bibir merah muda, semuanya indah. Chelsea sudah dewasa, bukan lagi gadis kecil seperti dulu.


"Apakah Chelsea merasa keberatan karena kakak terlalu tua?" Felix tersenyum dengan ujung bibirnya.


Chelsea tersenyum malu, "Kakak tidak tua kok, baru umur dua puluhan."


Bahkan belum umur tiga puluh.


Dia mengulurkan tangan dan mengelus rambutnya, "Banyak yang mengatakan kalau wanita itu peduli, emang betul ya."


Chelsea melepas tangannya, "Kenapa aku merasa kamu mengambil kesempatan ya?"


"Masa?" Felix tertawa.


Chelsea pura-pura kesal dan tidak menghiraukan dia.


Dalam pertengahan berbicara, mobilnya diparkir di depan sebuah gedung besar. Siluet megah gedung ini menggambarkan sejarah perkembangan perusahaan perhiasan Lestari.


Depan gerbang masuknya dipenuhi dengan mobil-mobil mewah.

__ADS_1


Chelsea pun mulai merasa gugup.


Felix membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya, "Ada aku disini, kamu tidak perlu takut."


Chelsea menatapnya selama dua detik, kemudian Felix pun mengulurkan tangannya lagi, "Kamu harus masuk bersamaku, hari ini kamu adalah partner wanitaku."


Chelsea pun mengulurkan tangannya.


Karpet merah terbentang menuju aula, dua pria berjas hitam berdiri di kedua sisi pintu dan seorang resepsionis yang tampaknya berumur berdiri di tengah.


Setelah melihat Felix jalan menujunya, dia pun melangkah maju untuk menyambutnya, "Tuan muda kedua."


Chelsea meliriknya, dia tahu kalau Felix bukanlah orang umum, tetapi tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa dia adalah Keluarga Tanjung dari Grup Lestari.


Keluarga Budiman bisa dikatakan sedang naik daun. Dalam dunia orang-orang berbakat, perusahaan mereka termasuk terkemuka dalam jaman Freddy.


Tetapi tidak sebanding dengan Grup Lestari yang sudah ada selama seabad.


Grup Greenwood memiliki beragam industri dan beragam bidang, mereka juga berinvestasi dalam jumlah banyak bersama bank HSBC yang memiliki reputasi internasional.


Felix menangguk memberi tanggapan.


"Ayo jalan." Felix berpaling menatap Chelsea, "Tidak terbiasa ya?"


Chelsea pun mengangguk dengan terus terang.


"Sejujurnya aku pun tidak terbiasa." Felix tersenyum.


Dia tidak tertarik dengan dunia bisnis.


Saudaranya yang mengurus bisnis keluarga.


Felix terkejut sejenak, tidak terpikir mengapa dia bertanya seperti itu dan bertanya dengan lucu, "Mengapa kamu bisa mengira aku kesana untuk memulihkan perasaan?"


"Bukannya Sarah pacarmu?" Dia mengingat nama yang disebutkan ibunya di villa pada hari itu.


Dari nada suara Felix, bisa terdengar kalau dia sangat peduli dengan Sarah itu.


Sarah pasti nama perempuan.


Namanya terdengar imut.


Mendengar nama ini, senyum dari muka Felix pun memudar, "Namanya Sarah Tanjung, dia adik perempuanku yang pergi saat kecil, sampai sekarang tidak ditemukan."


Chelsea membuka mulutnya dengan terkejut, dia mengira "Sarah" adalah mantan pacarnya, dia tidak bermaksud untuk mengingatkan dia atas lukanya.


"Maaf"


"Tidak apa-apa." Felix tersenyum kembali.


Aula megah terisi dengan ambisi, pria-pria berjas yang memakai sepatu kulit, wanita yang berdandan dan memakai gaun terbaik untuk mendampingi pasangan mereka.


Chelsea menatap ke atas, merasa bahwa tidak ada tempat untuknya disini.


"Felix."


Claudia bertanya kepada Felix untuk menjadi pasangannya dalam acara malam ini, dia adalah anak perempuan dari pemilik perusahaan bahan bangunan. Tetapi Felix menolak dan membawa gadis ini.

__ADS_1


"Ibu, ini Chelsea." Dia memperkenalkannya.


Ini sebuah kesempatan besar. Walaupun Claudia tidak senang melihat dia membawa gadis ini, dia tidak menunjukkannya di depan umum.


Dengan senyum di wajahnya, "Ayo, keliling dan berkenalan dengan orang-orang disana."


Sepanjang tahun, Felix di luar negeri, hampir semua orang sudah melupakan bahwa ada tuan muda kedua selain Jeremy Tanjung.


Di pertengahan aula tersebut lampu kristal yang memanjang dari lantai dua bersinar dengan terang dan menyilaukan.


Tampak sekelompok orang yang berdiri di tengah. Yang menarik perhatian adalah sosok yang tinggi dan mempesona. Bahkan dari jarak yang cukup jauh, Chelsea bisa mengenal siapa itu.


Dadanya seketika terasa mencengkam.


Felix menepuk tangannya dengan lembut, "Bukankah ada kakak?"


"Apakah kamu tahu dia akan hadir?" Chelsea menatapnya.


"Aku hanya ingin dia tahu kalau kamu bukan seseorang yang lemah dan tidak berdaya." Sambil berbicara, Felix memegang tangannya berjalan kesana.


"Semua bisnis ini bakalan menjadi milik kalian tuan-tuan muda."


Kartio, mantan presiden HSBC jarang menghadiri acara sejak pensiun. Dia berbicara sambil tertawa lepas.


"Freddy tuan muda yang paling menjanjikan dari generasi ini."


"Tuan Kartio terlalu memuji." Freddy mengambil sapu tangan, Lisa meregangkan tangannya, jari-jari lentik membalut gelas berisi anggur merah yang bersinar terang di bawah cahaya.


"Aku mendengar Greenwood di Negara A mendirikan..." Jeremy terkejut dalam pertengahan pembicaraan ketika melihat adiknya dan seorang gadis berjalan mendekati mereka.


"Felix, dia siapa?" Jeremy pun beratnya.


Bersama Chelsea, dia berjalan mendekat, "Pacarku."


Dia melirik Freddy saat berbicara.


Dia sedang mendeklarasikan kepemilikannya.


Sejak dia tidak mengakui istri ini, biarkan dia mengakui ini dengan terus terang.


Chelsea bagaimanapun tidak pernah terpikir kalau Felix akan mengatakan hal seperti ini di depan umum.


Secara refleks, Chelsea ingin melepaskan tangannya.


Felix pun merasakan gerak-geriknya dan memegangnya lebih erat dan tidak melepaskannya.


Tersenyum dan berkata, "Takut apa?"


Chelsea tidak berani mengangkat kepalanya atas rasa bersalah yang dirasakannya dalam hati.


Kesalahan apa, dia pun sebenarnya tidak mengerti.


Jeremy pun memperkenalkannya kepada semua orang sambil tersenyum.


"Ini adikku yang sudah bertahun-tahun di luar negeri. Dengan kepulangan kali ini, aku berharap semuanya menjaganya dengan baik-baik."


Freddy pun mengedipkan mata dan perlahan menatap Chelsea selama semenit tanpa mengedipkan mata. Lalu kembali dengan ekspresinya yang acuh tak acuh itu.

__ADS_1


Hati Chelsea yang panik pun perlahan surut dan tenang melihat ketidakacuhan Freddy.


Dia pun merasa konyol atas kegugupannya.


__ADS_2