Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku

Suamiku Yang Jahat Selalu Merayuku
bab 34


__ADS_3

...Bab 34 ...


...Berikan Dukungan Kepada Istri...


Ruangan kantor Freddy sangatlah modern, luas dan simpel, dengan perabotan yang minimalis, dinding berwarna kalem, aura yang tercipta di dalamnya sangat tenang, langit-langitnya sangat tinggi dan memiliki sirkulasi udara yang bagus dan pencahayaan alami dari berkas cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela.


Berdiri di depan jendela kantornya bisa melihat pemandangan seluruh kota.


Freddy sedang sibuk memeriksa dokumen, kepalanya tertunduk fokus.


Chelsea berdiri di depan meja sambil memegang dokumen lalu menyodorkan dokumen kepadanya.


Freddy tidak menerimanya hanya sekedar menjawab, "Taruh di atas meja."


Ketikan Chelsea meletakkan dokumen, dia ingin mengucapkan beberapa patah kata, namun entah harus dimulai dari mana.


Bagaimana membuka topik ini?


Bilang saja, Tuan Budiman bisakah kamu menemaniku pulang ke rumah?


Namun Chelsea berpikir kalau dia pasti akan menolak.


Freddy mengira kalau yang berdiri di hadapannya adalah Lisa dan bertanya, "Ada apa?"


Freddy membalik sebuah halaman, pandangannya sama sekali tidak terlepas dari dokumen itu.


"Aku ingin meminta Tuan Budiman untuk membantuku untuk satu hal." Chelsea mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.


Setelah dia mendengar kalau suara ini tampaknya bukanlah suara Lisa, dia lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Chelsea yang kini sedang berdiri di depan mejanya.


Chelsea dengan cepat melemparkan sebuah senyuman kepadanya, "Tuan Budiman"


Pada saat Freddy melihatnya sekilas tampak ada sebuah cahaya yang berbinar-binar pada matanya namun dengan cepat berlalu.


Freddy tidak menyangka kalau dia bisa muncul di dalam ruangan kantornya.


Freddy lalu menutup folder dokumen yang sebelumnya diperiksanya lalu bersandar pada kursinya dan menatapnya. Pandangannya mengarah ke seluruh tubuhnya, dengan seksama dia menelusuri ke seluruh bagian tubuhnya, wajahnya, lehernya, dadanya, pinggangnya, setiap inci dari tubuhnya, setiap lekukan tubuhnya tidak ada yang luput dari pandangannya.


"Ada masalah apa mencariku?"


Chelsea menjadi sedikit salah tingkah karena tatapannya dan berkata, "Tuan Budiman, apakah kamu tidak menyadari kalau kamu telah membawa banyak kerepotan kepada diriku?"


"Ooooo" Freddy terkejut.


Chelsea mengepalkan tangannya, mengumpulkan keberanian dan dengan tenang berkata, "Lisa sengaja menyusahkanku di kantor, hal ini tidak perlu aku katakan, aku merasa kalau Tuan Budiman juga sudah mengetahuinya. Kemarin sedikit saja aku hampir dicelakai oleh orang, semua itu karena aku menikah dengan Tuan Budiman. Oleh sebab itu, demi keamanan diriku, bisakah Tuan Budiman menemaniku pulang sekali ke rumah Keluarga Liam?"


Freddy memegang dahinya dengan satu tangan dan menekan pelipisnya dengan jari-jarinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Chelsea yang berdiri di sana juga menjadi tampak kebingungan. Dia tidak mengerti dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Freddy.


Setelah beberapa lama berselang, dia mengangkat pandanganya dan bertanya, "Apakah yang tadi kamu katakan?"


"Bisakah kamu menemaniku untuk pulang ke rumah Keluarga Liam?" Tanya Chelsea sekali lagi.


Dia menjawab dengan suara rendah dan pelan ,"Oooo"


Bisakah setidaknya mengucapkan sebuah kalimat, omel Chelsea dalam hati.

__ADS_1


Batin Chelsea bergejolak.


Dia ingin membuka mulutnya untuk bertanya lagi kejelasannya, namun dia juga merasa ada sedikit kurang pantas. Dia hanya berdiri dengan perasaan gelisah sambil mentap Freddy yang sedang menekan dahinya yang mengkilap seperti memancarkan pantulan sinar matahari.


Chelsea berpikir demi agar dia bersedia membantunya kali ini, dia lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan dengan canggung berkata, "Mari sini aku bantu untuk memijat dahimu."


Freddy lalu melepaskan tangannya sendiri yang tadi menekan dahinya, lalu dia memejamkan matanya dan bersandar pada kursinya.


Chelsea tidak berpengalaman dalam hal ini, dia hanya sekedar menggosok-gosok dahi mengkilapnya itu.


Pada saat digosok-gosok seperti itu, posisi tubuh Freddy kemudian menjadi terentang.


Chelsea mengira kalau ada sesuatu yang kurang nyaman pada dirinya dan bertanya, "Kalau begini tekanannya apa sudah oke?"


Dia hanya menjawab, "Mmmmm"


Chelsea lalu menggunakan kekuatan yang seperti itu memijat dahinya yang mengkilap itu. Otot-otot kulitnya sangatlah kencang, kuat dan elastis. Dari sisinya tempatnya berdiri, Chelsea dapat melihat ke arah wajahnya turun hingga ke lehernya hingga ke bawah bawah tubuhnya secara langsung dan leluasa. Pemandangan itu baginya tampak sangat seksi.


Chelsea tidak berani untuk terus memandangnya lagi, dia lalu mengarahkan pandangannya ke tempat lain dan berkata, "Aku mengajakmu untuk pergi ke rumah Keluarga Liam tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin mengajakmu makan malam."


Dia membuka matanya setengah, dengan kurang percaya dan nada sedikit menggoda bertanya, "Benarkah?"


Dalam hati Chelsea berkata hal ini pun ternyata tidak dapat disembunyikan darinya.


Dia lalu berterus terang berkata, "Aku sebenarnya ingin menunjukkan kepada Tom kalau ternyata kamu benar-benar sangat menyukaiku. Ada beberapa barang yang ada padanya saat ini ingin aku dapatkan kembali. Oleh sebab itu dapatkah Tuan Budiman membantuku?"


Chelsea takut jikalau dia akan menolaknya, dengan segera dia lalu menambahkan, "Tuan Budiman, hari ini aku hampir saja terkena luka bakar oleh siraman air panas. Kalau bukan karena pacar Tuan Budiman yang terlalu khawatir aku akan bersaing dengannya, aku rasa aku tidak perlu mengalami musibah yang seperti ini."


Terdiam sesaat lalu dia melanjutkan lagi, "Waktu yang lalu di rumah, pada waktu aku menerjemahkan dokumen untukmu, harganya sudah kita sepakati, namun uangnya belum kamu berikan. Aku sudah menghabiskan waktu semalaman untuk mengerjakan itu, namun uangnya aku tidak mau lagi, aku hanya ingin memohon Tuan Budiman untuk membantuku untuk hal ini saja."


"Terima kasih Tuan Budiman..."


Tok tok......


Ketika Chelsea belum selesai mengucapkan rasa terima kasihnya, pintu ruangan kantor diketuk.


Chelsea menjadi panik, dia lalu segera melepaskan tangannya yang sedang memijat Freddy dan mengarahkannya ke samping.


Freddy melihatnya sekilas dan menyetujui apa yang baru saja dilakukannya.


Chelsea menundukkan kepala, *******-***** tangannya, sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.


Kalau bukan demi ingin meminta bantuan dari Freddy, dia tidak bakalan mau melakukan hal seperti ini untuk mengambil hatinya.


Dia tidak berdaya dan tidak memiliki siapa-siapa yang bisa diandalkan. Yang dia bisa lakukan hanyalah menggunakan kekuasaan yang dimiliki oleh suaminya ini untuk mendapatkan kembali barang yang menjadi kepunyaannya.


Lisa memegang sebuah dokumen berjalan masuk. Setelah melihat Chelsea ada di sana, dia mengerutkan keningnya dan pada saat barusan ingin memulai bertanya mengapa Chelsea ada di sana Freddy mendadak bertanya kepadanya, "Ada apa?"


"Dokumen ini membutuhkan tandatanganmu." Lisa memasang sebuah senyuman terpaksa.


Freddy menerima dokumen itu lalu memeriksanya dan berkata kepada Chelsea, "Di sini tidak membutuhkanmu, keluarlah dulu."


Chelsea menundukkan kepala lalu keluar dari ruangan kantor.


Lisa menoleh sekilas ke arahnya, dia sangat marah dan rasanya ingin menggamparnya. Dia merasa kalau Chelsea mengambil kesempatan pada saat dirinya tidak ada untuk datang menggoda Freddy.


Di sini adalah daerah kekuasaanya, berani-beraninya Chelsea datang mengacaukannya.

__ADS_1


"Freddy, dia....."


"Aku menyuruhnya masuk untuk mengantarkan dokumen hasil terjemahannya, ada apa?" Jawab Freddy dengan nada santai dan ekspresi datar.


Tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang berbohong.


Secara tidak sadar, dia telah melemparkan tanggungjawab ke atas dirinya sendiri.


Lisa bersikap tidak bersahabat terhadap Chelsea, mana mungkin Freddy tidak menyadarinya.


Tetapi terhadap Lisa, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


Freddy merasa bertanggungjawab atas dirinya.


"Tidak apa-apa." Lisa lalu datang menghampirinya dan memijat bahunya dan berkata, "Lain kali hal-hal seperti itu serahkan saja kepadaku."


Freddy dengan datar hanya bergumam, "Mmm."


Setelah jam pulang kerja, Chelsea berdiri di pinggir jalan di luar gedung kantor.


Ketika melihat sebuah mobil hitam keluar dari garasi dia segera menoleh.


Dia mengenali mobil-mobil yang ada di sana.


Tidak lama berselang mobilnya telah berhenti di sampingnya, hari ini Kiki tidak mengikutinya, Freddy yang mengemudikan mobilnya sendiri lalu menurunkan kaca jendelanya.


Tatapan mata Freddy jatuh pada tubuhnya.


Tubuh Chelsea mengenakan sebuah baju atasan warna merah yang berkerah, bermotif lurus dan sepinggang. Menggunakan rok di bawah lutut dan memperlihatkan betisnya yang putih dan kecil.


Setelah melihat tatapannya, Chelsea lalu memberikan penjelasan, "Kalau aku berpakaian telalu jelek nanti takutnya akan membuatmu malu, terutama karena status aku sebagai istrimu."


Chelsea dalam hal ini sangat egois, dia takut kalau Tom mereka mengetahui kalau tidak ada perasaan cinta di antara dirinya dengan Freddy.


Ketika pada saat jam istirahat makan siang, dia pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Pakaian yang dikenakannya kali ini adalah hadiah ulang tahun ke 18 nya yang diberikan oleh Felix.


Chelsea pada dasarnya sudah putih, warna merah membuat warna kulitnya menjadi tampak semakin memerah merona dan bercahaya. Tulang selangkanya yang halus dan lehernya yang ramping membuatnya tampil sangat mempesona mala mini.


Membuat orang menjadi tepana melihatnya.


Freddy mengedipkan matanya dan berkata dengan enteng, "Naik ke mobil"


Dia duduk di kursi depan samping pengemudi. Karena sekarang dia akan bertolak pergi ke rumah Keluarga Liam, sehingga dia harus berlagak selayaknya Nyonya.


Freddy bersikap sangat diam, Chelsea tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya.


Chelsea menjadi berpikir apakah pakaian yang dikenakannya tidak cocok.


Selama ini dia sangat jarang menggunakan pakaian yang berwarna terang.


Dulu Felix pernah mengatakan kalau warna-warna terang cocok padanya.


Dia menatap ke luar jendela mobil sambil melayangkan pikirannya, ditemani dengan bayangan Freddy yang ada di sampingnya yang tampak terlihat pada kaca jendela. Ini seperti sebuah mimpi yang tidak nyata.


Jarak di antara mereka berdua saat ini tampak sangat dekat namun keduanya asyik dengan pemikiran dan dunianya masing-masing yang membentangkan jarak yang sesungguhnya di antara mereka.


Chelsea lalu memecahkan keheningan dan menanyakan keraguannya, "Apakah penampilanku tidak bagus?"

__ADS_1


__ADS_2