
...Bab 35 ...
...Kesempatan Yang Langka...
Jari Freddy sedang memegang setir, sedikit mengerakkannya, meliriknya dan berkata, "Lumayan."
Chelsea merilekskan tubuhnya dan tidak berbicara.
Tak satu pun dari mereka berbicara.
Di mobil sangat hening.
Chelsea tanpa henti memandangin tangan yang sedang memegang kemudi itu,jari-jari tangannya keliatan panjang sehingga sendi tulangnya kelihatan berbeda, kukunya pun dipangkas rapi, elegan dan indah.
Sama seperti orangnya,hanya melihat sekali tetapi bisa diingat.
"Bagus?" dia tidak menyipitkan matanya.
Chelsea terkejut, dia tadinya tertegun, tiba-tiba langsung mebalikkan kepala menuju arah jendela dan pura-pura tidak mendengar.
Freddy berbalik melihat ke arahnya, lalu tersenyum dan berkata, "Apakah wajahku lebih bagus daripada tanganku?"
Chelsea tetap berpura-pura tidak mendengar dan hanya menutup mata dan tidur.
Dalam hati serasa ingin muntah mendengar perkataannya, dia begitu percaya diri berkata.
Kenapa dia begitu narsis?
Setelah dua puluh menit berlalu, mobil berhenti di depan rumah Keluarga Liam.
Tom sudah pulang lebih awal, makan malam yang disiapkan Patricia sangat mewah dan bekelas, Tom sangat puas, ketidaknyamanannya telah berubah.
"Nona sudah kembali." Pelayan masuk dan memberitahu.
Tom melirik Patricia dan Diana, memperingatkan mereka, " Ini adalah moment yang paling penting bagiku, Tolong jangan kacaukan!"
Patricia berusaha setenang mungkin menahan amarah batinnya, dia tersenyum dan merapihkan jasnya, "Kamu jangan takut, aku tidak akan melawan, membiarkan dia saja yang melampiaskan amarahnya, membiarkan dia membantumu keluar dari kesusahan, masalah perusahaan, aku tidak bisa membantumu, hanya hal seperti ini, yang bisa kubantu."
Tom merasa tidak harus memberinya beban, "Tunggulah jika masalah di Perusahaan terlah selesai, aku akan memberikanmu hadiah."
Selesai berbicara Tom berjalan menuju pintu, menjamu tamu.
Chelsea berdiri disamping Freddy, sambil memegang perjanjian yang berhubungan dengan tanah di Teluk Repulse.
Freddy meliriknya dan mengangkat lengannya, "Gandeng aku."
Chelsea mengangkat naik lengannya dan mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Aku sudah menunggu kalian, ayo masuk." Tom mempersilahkan masuk dengan memakai tangannya sebagai isyarat.
Tidak memberikan celah sama sekali, setiap kali ada kesempatan dia selalu menjilat.
Freddy tidak terlalu menyukai Tom, bibirnya dia rapatkan, matanya menunjukkan ekspresi cuek, tetapi tetap saja mengangguk-angguk.
Wajah Tom kelihatan senang, mengira dia adalah ayah Chelsea, ayah mertua Freddy, tetapi siapa sangka, Freddy tidak memberikannya muka sama sekali.
__ADS_1
Wajahnya pun tidak bisa dia pertahankan!
Chelsea tertawa, "Dia memang begini."
Wajah Tom berubah lebih baik sekarang, "Ayo masuklah."
Patricia bersandiwara hari ini, sebagai "Ibu dan Istri yang baik", sibuk mengatur meja, menjamu mereka dengan senyum lebar, "Kalian sudah datang, ayo duduk, Chelsea, aku mendengar dari ayahmu kau akan pulang, aku langsung bergegas mempersiapkan makan malam, makan malanya harus yang mewah, tetapi tidak tahu apakah ini cocok dengan lidah kalian."
Chelsea terus saja tersenyum, dia tidak bisa berakting sama sekali.
"Aku bukan orang luar, tidak akan segan." Dia berbicara sambil melipat lengannya.
Sengaja memperlihatkan pada mereka.
Patricia memandangi pakaian Chelsea, menghela nafas lega dan harus berpura-pura baik, "Apa yang kamu bicarakan?"
Chelsea membawa Freddy ke kursinya, yang berada di seberang Patricia dan Diana.
Hari ini Diana juga mengenakan rok merah, riasannya pun indah, dia masih muda tapi berpakaian seperti orang dewasa dan menawan.
Sesekali Chelsea mencuri-curi pandang melihat penampilannya.
Dalam hatinya mengejek, Apakah ini semua untuk menggoda Freddy?
Melihat matanya yang lurus, dia dengan sengaja tertawa dan bercanda, "Adikku, apa yang kamu liat dari kakak iparmu ini? Apakah wajahnya berbunga?"
Freddy tiba-tiba tersipu malu, wanita ini benar-benar.
Dia nampak lelah melihat wanita yang riasannya tebal dan glamor, sama menggunakan baju berwarna merah dengan Chelsea, tetapi Chelsea tidak merias wajahnya, seperti wanita cantik yang mirip bidadari, sangat indah dipandang.
Patricia menurunkan tangannya dibawah meja, memegang tangan Diana, sebagai tanda untuk tetap tenang tidak gegabah bertindak.
"Sudahlah, Sudahlah, waktu sudah tidak dini lagi, pasti kalian sudah lapar." Tom mencari celah untuk berbicara dengan Freddy, tetapi belum mendapat kesempatan.
Freddy selalu menganggap dirinya seperti orang luar di luar sejak dia masuk dalam keluarga tersebut.
Dia terus menambahlan lauk dipiring Chelsea, menunjukkan tanda ‘Kasih sayang’.
Tom terus memandanginya secara sembunyi-sembunyi, dia berpikir jika anak perempuan ini yang tidak disukai olehnya, tetapi mendapatkan cinta Freddy.
Dia tidak bisa membantu tetapi menatapnya.
Chelsea sebenarnya hanya ingin datang makan malam saja, dia meletakkan dokumen perjanjian diatas meja, " Ini yang kamu mau, aku membawakannya, apa yang kamu janjikan, aku harap kamu tidak lupa."
Sangatlah tidak mudah mendapatkan support dari Freddy, tentu saja dia harus mengunakan kesempatan ini dengan baik, barang-barang ibunya dan dia harus dia rebut kembali.
Tom tidak mampu menyembunyikan ekspresinya, " Kita adalah satu keluarga, apa yang kamu mau, tinggal katakan saja, semuanya akan menjadi milikmu."
Saat ini, perusahaan sedang berada di masa sulit, tidak ada gunanya memberikan tanah ini kepadanya, sekarang waktunya untuk menyelesaikan masalah di perusahaan.
Dia memberikan isyarat kepada Chelsea lewat mata, menyuruhnya berbicara dengan Freddy, Chelsea yang mengerti maksudnya tetapi berlagak belum mengerti, seperti begitu perhatian bertanya, "Ada apa dengan matamu?"
Jika Freddy tidak ada disana, mungkin Tom sudah marah dan berdiri.
Freddy memandangi wanita itu lagi.
__ADS_1
Sangat jelas, dia kebingungan.
Ada sedikit pintar...-Imut.
Patricia sekarang turut untuk turun tangan membantu, menambahkan lauk Chelsea, "Chelsea, perusahaan papamu sedang dalam masalah......" Dia berkata-kata tetapi matanya tertuju pada Freddy, "Kamu dengan Freddy, dia adalah menantu kami, kami hanya bisa meminta bantuan kalian, jika dahulu ada sesuatu yang kami lakukan salah, tolong jangan masukkan dihati."
Chelsea tampak cuek, Freddy adalah menantunya, dengan ini dia mengambil kesempatan emas itu.
"Apakah kamu melahirkan atau membesarkan aku?" Chelsea menyandarkan tubuhnya dilengan Freddy, sambil memandanginya, "Suamiku, apa yang bisa dilakukan seorang menantu saat ini?"
Patricia sangat emosi sampai mengepalkan tangannya, tetapi senyum diwajahnya masih ada, "Aku tahu kamu tidak merestui hubunganku dengan ayahmu, tetapi kami saling mencintai...."
"Hari ini aku datang untuk mengambil barang-barangku!" Chelsea meragukan kata-katanya dan kembali bertanya, apakah kamu betul-betul tulus mencintainya?
Dia ingin tahu, apakah saat Tom memilih istrinya atau meilih kesempatan uuntuk memnyelamatkan perusahaannya!
Tom tidak mau pembicaraan ini berlanjut, beranjak berdiri, "Kamu ikutlah denganku."
Tom beridir lalu menatap Freddy sambil tersenyum lalu berkata, "Kami permisi sebentar."
"Ehm." Dia hanya berkata itu.
Chelsea mengikuti Tom ke ruang baca.
Tom mengubah kelembutannya sejak sampai di ruang makan, wajahnya tajam, "Apakah kamu sudah berbicara dengan Freddy?"
Chelsea melihat ekspresi wajah Tom, dia tidak tersentuh, karena terlalu banyak disakiti, dia sudah terbiasa seperti begini.
"Berikan barangku terlebih dahulu. " Akan sulit mendapatkan barangnya kembali, jadi dia ingin barangnya duluan di dapatkan.
Tom memelototinya, "Barang itu dapat diberikan kepadamu, tetapi kamu harus membiarkan Freddy membantuku mengatasi kesulitan di perusahaan."
"Kamu waktu itu mengatakan, membantumu mengambil sebidang tanah itu, sekarang tanah sudah kuberikan, sedangkan mengenai perusahaan itu merupakan urusan lain, aku sudah katakan, ingin aku membantu untuk berbicara dengan Freddy, boleh, tetapi kamu dengan Patricia bercerai dulu, setelah itu aku akan membantumu." Seteah berbicara, Chelsea berhenti sejenak, "Kamu seharusnya sudah melihat, Freddy sangat mencintaiku, jika aku meminta padanya, dia pasti mengabulkannya."
Tom terdiam.
Chelsea berusaha dengan gigih, "Apakah perusahaan penting atau lebih penting seorang wanita yang tidak bisa memberikanmu anak lebih penting, kamu pertimbangkan sendiri."
Setelah selesai berbicara, Chelsea meninggalkan ruang baca.
Tom menghentikannya, "Aku berjanji padamu."
Tentu Saja......
Chelsea menghentikan langkahnya, berbalik memandanginya, "Aku hari ini ingin membawa pulang barangku."
Untuk menghindari semakin berlama-lama lagi, barang-barang yang besar tidak usah diambil dulu, barang-barang yang kecil dan uang tiba waktunya akan diambil dulu, lagipula biaya pengobatan Ibu buat bulan ini sudah harus dibayarkan lagi.
Tom mengigit giginya, "Chelsea, kita ini keluarga."
Chelsea tertawa, "Aku tahu, tetapi barangku dan ibu, bukankah seharusnya diberikan kepada kami?"
Satu keluarga?
Sekarang sudah ingat kalau mereka itu satu keluarga.
__ADS_1