
...Bab 31 Kalahkanlah Aku Kalau Kamu Memiliki Kemampuan...
Hubungan yang terjalin di antara Lisa dan Freddy hampir telah diketahui oleh semua orang di dalam perusahaan.
Lisa bermaksud untuk mempublikasikan mengenai hubungan meraka dan Freddy juga tidak berusaha menghentikan atau menyangkalnya. Maka hal itu telah mengindikasikan adanya hubungan di antara mereka berdua.
Saat ini Lisa bukan hanya seorang seketaris, namun mungkin saja bakalan menjadi Nyonya Muda Keluarga Budiman. Banyak orang yang kini lebih bersikap sopan kepadanya, dikantor dia lebih memiliki muka.
Ketika Freddy kembali ke kantor, lalu ada orang yang datang menanyainya dengan rasa ingin tahu "Kakak Lisa, kamu dengan Presiden Budiman keluar pergi makan makanan enak apa? Kami semua merasa sangat iri kepadamu."
Lisa melirik sekilas ke arah Chelsea dan menjawabnya sambil tersenyum "Tidak ada spesial, semuanya hanyalah menu makanan biasa, burung dara goreng, ayam kukus putih ala Hainan dan udang jumbo rebus."
"Wah, itu semua adalah makanan kesukaanmu" Wajah Victoria menunjukkan ekspresi kagum terhadapnya "Presiden Budiman memperlakukanmu dengan sangat baik"
Lisa hanyalah tersenyum simpul lalu secara tanpa sadar dia mengutak-atik kuku-kuku jari tangannya yang sangat cantik dibuatnya. Dia sebenarnya tidak mengucapkan sepatah kata apapun, namun sekarang di pandangan orang-orang itu seperti mengiyakan.
Victoria lalu bertanya lagi "Kakak Lisa, kamu dengan Presiden Budiman kapan berencana menikah?"
Lisa yang sedang mengutak atik kuku-kuku jari tangannya yang indah itu sontak agak sedikit tersedak ketika memikirkan akan hal ini. Kalau bukan karena Chelsea, sudah sejak lama dia telah menjadi Nyonya Muda Keluarga Budiman.
Itu semua gara-gara dia yang telah menghalangi jalannya.
Demi menjaga citra diri yang baik di hadapan Freddy maka dia langsung bertindak sendiri terhadap Chelsea. Namun dia bisa menggunakan seseorang untuk mencelakainya, dia bisa menggunakan seseorang untuk membuatnya tidak bisa bekerja dengan tenang di kantor.
Dia lalu tersenyum dengan sangat teramat manis, "Victoria."
"Kakak Lisa." balas Victoria dengan ramah.
"Penerjemah yang baru datang itu sangat tidak tahu aturan." Lisa sengaja memasang tampang yang sedang tidak senang.
"Dia sudah membuatmu marah?"
"Tidak juga, sudahlah tidak usah dibahas lagi, sekarang sudah waktunya untuk mulai bekerja." Lisa sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya, dia tahu kalau Victoria pasti sudah dapat mengerti akan maksudanya.
Victoria melirik ke arah Chelsea dan berkata dalam hati apakah lantas wanita ini tidak mengetahui hubungan di antara Lisa dan Presiden Budiman hingga telah menganggunya?
Mungkin juga, dia yang baru masuk bekerja belum mengetahui situasi yang ada di kantor. Kalau dia sampai membuat Lisa merasa terganggu juga mungkin saja.
Dia lalu duduk kembali ke meja kerjanya dan dalam hatinya berkata nanti kalau ada kesempatan dia akan memberikan pelajaran kepada Chelsea.
Setelah Chelsea habis makan, dia membuang bungkus bekas makanannya lalu pergi ke ruangan dapur untuk pergi mengambil air.
Victoria melihat hal itu dia lalu mengambil gelas tehnya dan mengikutinya pergi ke dapur.
Dia sengaja berdiri pas di belakang Chelsea dan dia sengaja maju selangkah ke depan pas ketika Chelsea telah selesai mengisi air dan membalikkan badannya. Chelsea yang tidak mengetahui kalau di belakangnya ada orang lalu bertubrukan dengannya ketika berbalik badan hingga air yang ada pada gelasnya tertumpah membasahi rok yang dikenakan oleh Victoria.
"Kamu berjalan tidak memakai mata?" Victoria dengan marah membentaknya.
__ADS_1
Air yang dipegangnya tertumpah membasahi badan orang lain adalah kesalahannya, lalu dia buru-buru meminta maaf "aku minta maaf, aku minta maaf, aku tidak sengaja."
"Kalau tidak sengaja lantas kamu bisa menumpahkan air kepadaku?"
Chelsea terdiam sesaat, tidak disangka orang ini bicaranya sangat tidak enak di dengar.
"aku sudah mengatakan minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya" jelas Chelsea dengan sangat sabar.
"Apa gunanya kata minta maaf? Apakah kalau aku menamparmu sekali lalu meminta maaf, lalu kamu bisa begitu saja merelakannya?" Kata Victoria dengan emosional, tampak dia ingin begitu saja mengakhiri perkara ini.
Chelsea mengkerutkan keningnya, ini bukannya sudah terlalu berlebihan.
Dia tidak sengaja menumpahkan air ke tubuhnya mana bisa dibandingkan dengan sebuah tamparan.
"Apa yang kamu inginkan?" Kata-kata Chelsea juga ikut menjadi serius.
Dia tidak ingin menyudahi begitu saja, meminta maaf juga tidak ada gunanya.
Victoria lalu mengambil segelas air putih yang mendidih dan berkata terhadap Chelsea "Kamu menumpahkan air pada tubuhku makan aku akan menumpahkannya juga kepadamu supaya adil."
Chelsea menatap segelas air panas yang masih mengepul-ngepul di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Dia mengalami kerugian apa hingga mau membalasnya.
Air putih yang tertumpah di tubuhnya itu sama sekali tidak menimbulkan luka bakar.
Karena dia sudah ingin meminum airnya, air yang ada pada gelas yang dipegangnya tadi adalah air dingin, sehingga tertumpah pada tubuhnya pun juga hanya membasahi roknya saja dan tidak menimbulkan luka apapun.
Victoria sedang menimbang-nimbang kalau air yang ada gengggaman tangannya kini tertumpah membasahi tubuh Chelsea akan mendatangkan luka yang seperti apa.
Airnya telah dipegangnya beberapa saat sehingga sudah sedikit mendingin, pastinya suhu tingkat kepanasannya sudah tidak 100 derajat lagi, setidaknya kalau mengenai tubuhnya pasti akan menimbulkan beberapa lecet.
Karena dia ingin mengambil hati Lisa, jadi dia harus melakukan suatu usaha ekstra untuk menunjukkan kepadanya. Victoria lalu tersenyum sinis berkata kepada Chelsea, "Kalau kamu memiliki kemampuan untuk bisa mengalahkan aku baru bicara"
Sebelum dia selesai mengucapkan kata-katanya tersebut, air yang dipegangnya telah tertumpah mengenai Chelsea.
Chelsea tidak sebodoh itu untuk tetap diam berdiri di sana membiarkannya menumpahkan air kepadanya. Gerakannya sangatlah cepat.
"Apa yang sedang terjadi?" Terdengar sebuah suara dingin yang bertanya. Orang yang sedang berkerumun di sana untuk melihat keramaian ini segera menyingkir ke pinggir.
Lisa yang berdiri di samping Freddy melirik sekilas ke Victoria lalu diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Hubungan di antara Chelsea dan Freddy tidak ada orang yang mengetahuinya, namun dia mengetahuinya.
Dia tidak bisa berbicara dengan cara yang baik kepada siapapun, jadi diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun adalah pilihan yang terbaik buatnya.
Victoria meliriik sekilas ke arah Lisa, di dalam hati Victoria berpikir ada Lisa yang membelanya tidak ada yang perlu untuk ditakutkan. Lagipula Victoria adalah seorang penerjemah baru.
"Dia sengaja menyiram air ke tubuhku dan tidak berniat untuk meminta maaf. Oleh sebab itu aku menyiraminya balik"
__ADS_1
Freddy mengarahkan pandangannya ke bawah untuk melihat wanita yang tersungkur terduduk di lantai yang berada dalam posisi direndahkan dan tidak dapat membela diri itu sambil berkata "Apakah benar demikian?"
Chelsea berusaha bangkit berdiri dari bawah lantai, tetapi karena lututnya sangat teramat sakit sehingga ketika dia mencoba berdiri lututnya lalu menjadi lemah dan hendak terjatuh kembali. Namun ketika dia hampir terjatuh kembali itu, tiba-tiba ada sebuah lengan tangan yang besar dan kuat yang secara refleks langsung segera merangkulnya dan akhirnya dia terjatuh masuk ke dalam sebuah pelukan.
Freddy merangkul pinggangnya, pinggangnya sangatlah lemah, takutnya ketika dia dengan sedikit lebih bertenaga merangkulnya bisa-bisa pinggangnya langsung patah.
Chelsea di dalam hatinya mengeluhkan nasibnya dan menarik napas panjang sambil berpikir mengapa dia begitu sial.
Sebelumnya dia didorong oleh Freddy hingga satu kakinya terluka dan kini kakinya yang satunya lagi terluka.
"Apakah kamu bisa berdiri?" Tanya Freddy.
Chelsea mencoba menggerak-gerakkan kakinya dan mengangguk-angguk, "Bisa."
Semua orang yang ada di situ yang datang untuk menyaksikan keramaian ini maupun Victoria menjadi terpana akan apa yang dilihatnya kini.
Kalau melihat dari karakter seorang Freddy seharusnya dia tidak bakalan bisa untuk megulurkan tangan membantu orang.
Lalu semua mata orang yang ada di sana mendadak tertuju kepada Lisa sambil bertanya siapakah wanita ini?
Secara kasat mata wanita ini tidaklah begitu istimewa, mengapa hingga bisa mendapatkan perhatian dari Presiden Budiman.
"Karena sekarang masalahnya sudah beres, harap semuanya kembali ke tempat masing-masing" kata Lisa yang menginingkan agar semua ini segera berakhir. Reaksi dari Freddy barusan sungguh di luar dugaanya.
Jelas-jelas dia telah mengatakan kalau tidak akan membongkar identitasnya. Namun kini dia dengan statusnya sebagai seorang presiden direktur memeluknya pasti akan menimbulkan banyak spekulasi orang-orang.
Lisa menatap tajam dengan penuh kekesalan ke arah Victoria karena ulah yang barusan dilakukannya kali ini.
"Presiden Budiman sudah tiba saatnya untuk memulai rapat" kata Lisa dengan lembut.
Freddy melepaskan Chelsea lalu sebelum pergi meninggalkannya dia berdiri sesaat di depan pintu dapur sambil memandang semua kekacauan yang telah terjadi di sana lalu berteriak memanggil "Kiki."
Kiki menyahut membalas panggilannya.
"Bawa petugas pengawas ke kantor aku." Setelah selesai mengatakannya, dia lalu berbalik memandang ke arah Lisa dan berkata, "Tunda rapatnya setengah jam kemudian!"
Lisa lalu melirikkan matanya ke arah Victoria dan Victoria tampak panik.
Lalu Lisa mendekati Freddy dan berkata, "Presiden Budiman, rapatnya telah dimulai dan semua orang sedang menunggumu dan kamu mengundurnya"
Freddy dengan wajah tanpa ekspresi hanya menatapnya dan tidak berkata apa-apa.
Dengan tatapan tanpa ekspresi itu, Lisa tidak berani lagi untuk berkata apa-apa dia segera menjawab, "Baik, aku akan segera pergi menyampaikannya."
Namun kini Victoria sudah tidak bisa tenang lagi. Kalau seandainya pengawas akan mengungkapkan kejadian yang sesungguhnya bahwa dia sengaja membuat Chelsea menumpahkan segelas air terhadapnya lalu dengan sengaja mencari-cari kesalahanya.
"Kakak Lisa...."
__ADS_1