
Aku hampir saja berteriak kesal saat mendengar nama yang Ibu mertuaku sebut itu.
Jelas, sudah jelas itu Mita, perempuan di masa lalu Mas Fakhri. Aku hanya mampu menahan rasa geram di dalam hati, takut Ibu mertua curiga dan malah melabrak Mita yang saat ini masih belum jelas jejaknya untuk apa kembali mendekati Mas Fakhri.
"Eh, aku sepertinya pernah dengar nama itu, Bu. Mungkin waktu Mas Fakhri pertama kali ingin mengajak serius Auren, Bu."
Ibu mertua mengangguk.
"Jadi, Fakhri sudah pernah cerita soal masa lalunya juga soal Mita ini, aduh. Jangan sampai perempuan itu kembali lagi ke sini, kalau ibu ada lihat perempuan itu lagi, ibu sambel dia," ucap Ibu berapi-api.
Aku hanya diam mendengarkan mertuaku berbicara, Bu. Si Mita ini memang sudah kembali, dan aku belum tahu apa maksud dia kembali merecoki hidup Mas Fakhri.
Mungkinkah karena Mas Fakhri sudah sukses, atau memang wanita itu belum move on.
Mungkin untuk opsi yang kedua itu mustahil, karena dulu saja Mita mampu meninggalkan Mas Fakhri yang jelas-jelas sudah ingin serius melamarnya.
"Semoga saja tidak, Bu. Aku yakin Mas Fakhri bukan orang yang seperti itu," ucapku menenangkan Ibu mertua.
"Yah, semoga saja, ibu juga berharap begitu, ibu tidak ingin melihat rumah tangga yang sudah bahagia ini dimasuki seseorang seperti Mita itu!"
Ting.
Suara notifikasi dari aplikasi yang kupasang, berbunyi. Secepat mungkin, aku membuka chat itu.
Dari Mita ternyata, apa mau perempuan
ini terus chat Mas Fakhri.
[Mas, ketemuannya enggak jadi di tokomu, Ayah bilang kita bahas kerja samanya di cafe tempat dulu biasa kita nongkrong, masih ramai loh sampai sekarang, aku tunggu ya]
Chat itu diakhiri dengan emot mata berkedip sebelah, wah, apa-apa itu, dasar perempuan kurang kerjaan memang.
"Pesan dari siapa? Ren?" tanya Ibu.
"Itu, Bu. Ada, pesan dari teman."
"Oh, ya sudah kalau gitu, ibu mau lihat cucu ibu dulu," ucap Ibu mertua sambil berjalan ke dalam kamar.
"Iya, Bu."
Setelah Ibu berlalu masuk ke dalam, aku kembali fokus pada ponsel, menanti reaksi apa yang akan Mas Fakhri tunjukkan saat membaca chat manja dari Mita itu.
Astaga! Apa perempuan itu tidak malu? Tidak ingatkah dulu dia yang meninggalkan Mas Fakhri, dan sekarang dengan tidak tahu malunya kembali.
Ting.
Lagi, pemberitahuan dari aplikasi yang aku gunakan untuk menyadap Whatsapp Mas Fakhri kembali berbunyi.
[Maaf Mita, tapi saya maunya di toko, kalau tidak bisa tidak apa-apa bisa lain kali.]
__ADS_1
Yes! Yuhu, Mas Fakhri sayang, tunggu pulang nanti Mas, aku sambut dengan kecupan manja.
Aku terkekeh.
Rasain kamu Mita! Emang enak enggak ditanggepin.
Ting... ting... ting... ting....
Tidak lama setelah jawaban dari Mas Fakhri, ponselku berbunyi kembali dengan nada masuk berkali-kali.
Aku ingin tertawa, satu pesan jawaban dari Mas Fakhri dibalas dengan banyak pesan oleh Mita.
[Kenapa, sih. Mas! Lagian cuma ke cafe saja, kan, enggak ngapa-ngapain.]
[Enggak usah takut, deh. Lagian istrimu di rumah gak akan tahu, Mas.]
[Lagian perempuan yang sudah punya anak, biasanya jelek loh, Mas. Kumal, sibuk ngurusin anak saja, lebih baik jalan bareng aku, kita bisa kenang masa-masa indah waktu dulu kita pacaran.]
Hening. Tidak ada jawaban dari Mas Fakhri, aku semakin tertawa ngakak.
Sukurin! Makan tuh masa lalu, kenangan manis gundulmu Mita, mimpi saja sana!
[Mas! Jawab, dong. Kok aku dicuekin sih, kamu niat enggak sih kerja sama sama toko ayahku, toko kami sudah besar loh.]
Aku hanya bisa geleng kepala, dasar tidak tahu malu! Sudah tidak direspon, masih juga bebal kirim chat begitu banyak.
Kami ini para istri bermartabat, jangan samakan dengan dengan kamu yang suka godain suami orang, seperti tidak laku saja.
Ingin rasanya aku balas chat Mita itu, perempuan tidak tahu diri dan tidak bisa menghargai diri, mentang-mentang cantik, eh. Bentar.
Aku klik foto profilnya, memang cantik, putih. Tapi , kulitku juga putih walaupun putih karena pakai hand body dan perawatan bagus dan aku pun tak kalah cantik kan, iya dong namanya juga perempuan, mana terima dibilang jelek.
Mungkin karena kesal tidak ditanggapi Mas Fakhri, Mita akhirnya berhenti mengirim pesan.
Sekalian saja, enggak usah kirim-kirim chat lagi, bikin sepet mata dan dongkol hati saja.
Ponsel kusimpan dalam saku daster yang kukenakan, baju kebangsaan para Emak-emak yang sangat membanggakan.
Tidak semua laki-laki memandang empet istrinya yang kerepotan di rumah, terkadang bisa mandi meski harus cepat-cepat saat masih memiliki anak balita saja sudah syukur.
Makan pun, harus sambil menggendong anak yang kadang suka rewel.
Jadi, bukan istri tidak mau berdandan di rumah, hanya saja, sarapan yang dimakan suami setiap pagi itu buatan siapa?
Kalau sejak pagi istri sudah bersih dan wangi, wajah sudah terpoles make up tebal. Siapa yang akan masak dan memberaskan rumah serta menyiapkan pakaian bekerja suami?
Begitulah kira-kira, untung saja aku tidak bertemu Mira secara langsung, kalau tidak sudah habis dia kulumat dengan tamparan kata, ups.
Tamparan kata yang menohok loh, bukan tamparan pipi. Kalau bisa itu juga gpp, mengingat begitu tidak tahu malunya perempuan satu itu.
__ADS_1
Sudahlah, aku pun menyusul Ibu mertua masuk ke dalam kamar.
...****************...
"Ren, itu kayaknya suamimu sudah pulang," ucap Ibu mertuaku yang sedang bermain dengan cucunya di teras rumah.
Aku yang baru saja selesai mandi, segera menyemprotkan parfum yang wangi.
Mas, tunggu Adek, Mas.
"Assalamualaikum," ucap Mas Fakhri.
Aku yang sudah selesai berpakaian, langsung menuju teras depan.
Mas Fakhri pulang sambil membawa sebuah bungkusan plastik berwarna putih.
"Baru pulang, Mas?" tanyaku.
"Iya, Dek."
"Mau adek siapkan air untuk mandi?"
"Iya, boleh. Mas mau main sama Habib dulu," ucap Mas Fakhri langsung mencium anaknya.
"Ih, Mas. Bukannya cuci tangan dulu baru cium Habib," omelku pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri hanya menjawil pipiku saja, lalu mengedipkan mata menggodaku.
Astaga! Dasar Mas Fakhri, wajahku memerah saat menangkap raut wajah dari Ibu mertuaku yang kini mengulum senyum.
"Ya sudah, biar Adek siapkan air untuk mandi Mas dulu."
Aku pergi ke belakang untuk menyiapkan air mandi Mas Fakhri, sembari menunggu air bak penuh, aku tersenyum-senyum sendiri.
Ah, Mas Fakhri yang dulu kembali lagi, jiwa saat dulu gencar mendekatiku kini kurasakan kembali.
Mas, inilah yang membuatku bertahan selama ini, meski kamu pelit dan perhitungan sama istri tapi kegigihanmu dulu untuk mendapatkanku membuatku kembali berpikir untuk berpisah dari laki-laki ulet sepertimu.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
Terima kasih🙏🙏
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih
__ADS_1