
Dari sejak bangun pagi, perutku rasanya sudah sakit dan mulas. Aku tidak tau apakah ini waktunya aku melahirkan atau belum, karena jika menurut prediksi Bidan masih ada waktu seminggu lagi sampai tanggal HPL.
Mas Fakhri, sejak pagi sudah berangkat kerja, semenjak bisnis dagangnya lancar, Mas Fakhri selalu berangkat pagi dan pulang petang, bahkan tidak jarang pulang malam.
Aku maklum, mungkin kesibukan di toko kami membuatnya susah pulang seperti dulu.
Sebisa mungkin, aku abaikan rasa sakit di perut yang terasa berputar-putar, untung saja tas kecil untuk persiapan bersalin dan persyaratan surat-surat sudah aku siapkan jauh-jauh hari, jadi jika memang ini sudah waktunya melahirkan aku tidak perlu kerepotan menyiapkan segalanya.
Setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku menelepon Ibu untuk memberitahukan perihal sakit perutku ini, takutnya ini hanya kontraksi palsu, karena sebelum ini aku pun pernah sakit perut seperti ini dan besoknya sembuh.
"Halo, assalamualaikum, Bu," ucapku membuka percakapan.
"Walaikumsalam, ada apa, Nduk? Tumben pagi-pagi sudah telepon, kenapa, sudah mau melahirkan apa kamu, Nduk?" tanya Ibu yang suaranya terdengar cemas.
"Entah, Bu. Cuma memang perutku sakit, sakitnya berputar-putar di perut," jawabku.
"Oalah, jangan-jangan iyo iki, bentar, ibu panggil bapakmu dulu," ucap Ibu, lalu suara Ibu yang memanggil Bapak terdengar di telepon.
"Bentar, Nduk. Ibu siap-siap dulu, kamu tahan dulu, ya, Nduk."
"Iya, Bu."
Lalu telepon aku matikan, selama sakit perut masih terasa di perut, aku berjalan-jalan di sekitar rumah, tidak ada sakit pinggang seperti yang beberapa temanku bilang, yang ada hanya sakit yang terasa berputar-putar di perut.
Lama setelah itu, suara deru motor terdengar di luar rumah, aku membuka pintu, lalu terlihatlah Ibu dan Bapak yang berlari menyongsongku.
"Enggak apa-apa, Bu. Aku masih kuat kok, tolong teleponkan Ibu mertua Buk," pintaku pada Ibu.
"Yowes, tunggu sebentar."
Aku mengangguk.
Lama-kelamaan rasa sakit itu semakin tidak tertahan, dibawa tiduran semakin sakit, jadilah aku terus berdiri dan berjalan-jalan, saat perut mulai sakit berputar dalam perut aku berhenti berjalan lalu menundukkan setengah badan.
Ugh! Rasanya sakit, saat akan mengambil map yang berisi persyaratan melahirkan di Rumah sakit tempat Dokter kandungan itu pratek, aku merasakan sesuatu seperti air di dalam balon yang jika ditusuk dengan jarum pecah, kira-kira seperti itu rasanya.
Saat aku lihat, tampalan yang kuletakkan dalam ****** ***** telah berlumur darah.
Ibu yang melihat itu langsung meminta untuk berangkat ke rumah Bidan, Ibu mertua juga sudah sampai.
"Fakhri mana? Telepon Fakhri, istrinya mau melahirkan, dia menghilang entah kemana, dasar anak itu!"
Ayahku menelepon Mas Fakhri, namun setelah selesai menelepon, Ayah mengatakan bahwa Mas Fakhri baru saja pergi mengambil barang dagangan yang adanya di luar kota.
Aku meringis kesakitan, aku sejak dulu lumayan tahan sakit, meski baru pertama kali ini merasakan sakitnya saat akan melahirkan.
"Oalah, anak itu malah keluar kota, sudah tau istrinya hamil tua," omel Ibu mertuaku.
"Sudah, sudah lebih baik kita berangkat, ayo naik mobil Bapak, Selvi bahwa peralatan mba Auren ya kita berangkat" ucap Bapak mertuaku.
"Mas Fakhri telepon saja, Pak," ucapku pada Bapak mertua disela sakit perut yang luar biasa ini.
"Sudah, hapenya ketinggalan di toko, si Budi yang angkat, pegawai di tokomu itu," ucap Bapak.
Aku hanya bisa terdiam, rasanya sakit saat akan melahirkan anak pertama yang selama ini kunantikan tanpa adanya Mas Fakhri di sisiku.
Namun begitu, aku berusaha ikhlas jika benar nanti anakku tidak bisa di Azani Bapaknya.
"Sudah, Nduk. Jangan mikir macam-macam, sekarang yang terpenting kamu lahiran dengan selamat," ucap ibuku.
Aku mengangguk, menyetujui ucapan Ibu.
__ADS_1
Sampai di tempat Dokter, aku dipapah menuju tempat tidur, beberapa asisten Dokter mulai mengerubungiku untuk mengecek tekanan darah dan HB.
Sampai di sana, Dokter mengatakan bahwa aku baru pembukaan pertama, rasanya aku sudah mau mengejan terus, tetapi Dokter melarang untuk mengejan dulu.
Tidak ada suara teriakan, hanya suaraku yang terkadang tidak tahan untuk mengejan sesekali.
Sampai akhirnya setelah pengecekan yang kedua kalinya, tidak lama setelah aku berbaring miring air ketuban pecah disusul dengan kepala bayi yang ikut menyusul.
Sekuat tenaga aku mengejan, supaya kepala bayi mudah diambil oleh Dokter, di sela-sela itu aku teringat Mas Fakhri yang tidak bisa menemaniku di sini, tidak terasa air mata mulai membasahi pipi ini.
"Oek, oek, oek."
Mendengar suara bayiku, tangisku pecah tidak kuasa menahan rasa haru dan sedih secara bersamaan.
"Alhamdulillah, bayinya laki-laki, Bu. Sehat, saya bersihkan dulu bayinya," ucap Dokter itu lalu membawa bayiku itu untuk dibersihkan.
Asisten Dokter dengan sigap membersihkan badanku yang masih terasa lemas.
Mas, anak kita sudah lahir, kata itu hanya bisa aku ucapkan dalam hati.
Takut, takut jika mendengar itu mertuaku akan mengomel pada Mas Fakhri.
Tidak lama setelah pulang dari rumah Dokter, Mas Fakhri pulang dengan tergesa-gesa.
"Assalamualaikum," ucapnya lalu masuk rumah, melihatku yang sedang beristirahat.
Sebelum itu, Mas Fakhri terkena semburan omelan oleh ibunya, aku hanya bisa tertawa melihat wajah Mas Fakhri yang sudah gelisah ingin melihat anak laki-lakinya.
"Iya, Buk. Maaf, Fakhri kira belum waktunya lahiran, karena prediksi Dokter masih seminggu lagi menuju HPLnya," ucap Mas Fakhri.
"Makanya mas jadi suami itu harus siap siaga" Selvi menimpali ucapan ibunya.
" Anak kecil gak boleh ikut campur." balas Fakhri
Mas Fakhri tersenyum lega, lalu menghampiriku yang sedang menyusui.
"Dek, maafkan Mas ya, tidak bisa menemani di saat Adek melahirkan," ucap Mas Fakhri.
Aku tersenyum tipis, meski ada rasa sedih dan kecewa karena di saat kelahiran anak pertama kami, Mas Fakhri tidak bisa menemani, aku berusaha maklum.
"Tidak apa-apa, Mas. Coba lihat anak kita, coba tebak mirip siapa?" tanyaku pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri mendekat, melihat wajah anakknya yang kini telah terlelap kembali setelah menyusu.
"Mirip siapa, Mas enggak bisa lihat dia mirip siapa," ucap Mas Fakhri kebingungan.
Aku tertawa pelan, tidak mungkin juga aku tertawa terbahak-bahak, mengingat sakitnya perut saat digerakkan.
"Mirip kamu wajahnya, Mas. Persis sekali," ucapku dengan nada tidak terima yang dibuat-buat.
Kini gantian Mas Fakhri yang tertawa.
"Masa sih Dek?"
"Iya, Mas. Ibu sama Bapak saja bilang begitu mirip kamu waktu masih kecil dulu, ih, padahal aku loh yang ngandung dia selama sembilan bulan, masa wajahku enggak ada nempel sama sekali," ucapku tidak terima.
"Lah, enggak apa-apa, kan, Mas juga ikut nyumbang, Dek." Mas Fakhri tertawa ngakak.
Heleh! Dasar Mas Fakhri giliran yang begituan saja diingat, gak inget apa waktu hamil susah payah aku kerjain supaya enggak pelit lagi, huh! Efek dongkol sama Mas Fakhri selama hamil ini mungkin.
Aduh, si debay malah mirip banget sama bapaknya, asal jangan mirip pelitnya kamu ya, Dek.
__ADS_1
"Gpp sih, kalau Adek bayi mirip Mas, asal jangan niru pelit aja," ucapku pelan menyindir Mas Fakhri yang semakin ngakak.
"Mana ada itu pelit, yang selama ini Mas lakukan itu demi penghematan, tau?"
"Ck, hemat apaan, Mas. Ngeles terus kalau dipojokin."
Selama beberapa minggu, Ayah dan Ibu bergantian dengan Ibu mertua menjagaku, sesekali pula Mas Fakhri belajar menggantikan popok, grita dan baju untuk si Adek.
Mas Fakhri pula yang antusias menyiapkan acara aqiqah, nama pun Mas Fakhri yang memberi nama.
Habib Altahir Alamsyah, nama anak laki-laki kami.
...****************...
"Mas, bangun, Mas! Ambilkan popok Habib, Mas, sudah habis di sini, ambil di keranjang sana," ucapku pada Mas Fakhri yang masih tertidur.
"Hem, apa?"
"Ambilkan popok, Mas."
"Iya, sebentar," ucap Mas Fakhri, tetapi mata dan badannya masih menempel di bantal.
Kesal, aku pukul badannya dengan guling.
"Mas! Buruan, kenapa."
"Iya, iya, Dek. Bentar, ini ambilkan," ucap Mas Fakhri masih dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Nih, popoknya, sudah, Mas mau tidur lagi, ya," ucap Mas Fakhri setelah menyerahkan popok bayi dalam jumlah yang banyak.
Aku geleng-geleng, dasar laki-laki. Bikinnya senang, saat hasilnya sudah keluar bergadang sebentar saja sudah mengeluh ngantuk berat.
Aku menggantikan popok Habib yang basah karena ompol, lalu setelahnya menyusuinya supaya aku bisa istirahat.
Capek sebenarnya, terbangun di tengah malam beberapa kali karena suara tangis Habib, atau terkadang karena Habib mengompol atau BAB.
Meski begitu aku senang, meski Mas Fakhri lebih banyak ngorok setiap malam dari pada membantu untuk gantian menggantikan popok anaknya, terkadang aku sampai terkantuk-kantuk tidak tahan.
Hari-hari dilewati dengan sangat cepat, kini Habib sudah berusia sembilan bulan. bayi kecilku kini sudah pintar merangkak dan berceloteh riang.
Jika melihat Ayahnya pulang dari toko, Habib akan dengan senang hati merangkak dan tertawa menyambut Ayahnya di depan pintu.
Aduh, sungguh menggemasakan.
Usaha berdagang Mas Fakhri juga semakin hari semakin meningkat, banyak pelanggan yang kini menjadikan toko kami sebagai toko langganan.
Alhamdulillah, aku selalu bersyukur untuk itu, semoga dengan kehadiran Habib keluarga kecilku semakin harmonis dan langgeng hingga tua.
Meski terkadang, sifat perhitungan Mas Fakhri mulai kambuh, aku segera mengatakan bahwa itu semua untuk keperluan anaknya.
Alhasil, tidak ada lagi bantahan dari mulut Mas Fakhri.
Duh! Senangnya, Jiwa Emak-emak dengan perhitungan biaya belanja seratus ribu, kini berubah makin cerewet jika Mas Fakhri mulai rewel masalah uang.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
__ADS_1
Terima kasih🙏🙏
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih