
Satu tahun berlalu, kini gangguan Mita tidak ada lagi, seluruh anak buah Johan yang mengawasi Mita bekerja dengan sangat baik.
Toko Mas Fakhri semakin berkembang dan besar, beberapa toko cabang kini telah kami miliki.
Habib pun kini telah berusia satu tahun lebih, hidup yang dulu kesusahan karena sifat pelit Mas Fakhri kini tidak lagi aku rasakan.
"Bund, baju kemeja hitam Ayah, mana?"
Aku berdecak, selalu seperti ini, kebiasaan Mas Fakhri yang tidak bisa menemukan barang-barang yang masih sama letak tempatnya sejak pertama kali menempati rumah ini, sama sekali tidak membuat Mas Fakhri paham di mana seharusnya mencari.
"Ada Yah, di dalam lemari urutan ke dua itu loh," ucapku sambil bermain bersama Habib.
"Enggak ada, Bund. Coba deh cari ke sini!"
Aku pun akhirnya berdiri, meninggalkan Habib yang tengah asyik main dengan mainannya di karpet.
"Mana sih, Mas jelas-jelas di dalam lemari semua baju kemejanya," ucapku pada Mas Fakhri.
"Mana, Bunda? Kok ayah enggak nemu?"
Aku berjalan menuju lemari, lalu melihat tumpukan baju-baju kemeja milik Mas Fakhri.
"Ini apa, Yah?" tanyaku sambil mengancungkan baju kemeja yang tengah di cari Mas Fakhri.
"Ya ampun, padahal tadi udah ayah cari di situ loh, Bund. Tapi kok gak ketemu ya?"
Aku mengedikkan bahu.
"Ayah mah, dari dulu kebiasaan suka enggak bisa nemuin barang yang jelas-jelas tempatnya masih sama seperti pertama kita ke rumah ini," ucapku pada Mas Fakhri.
"Hehehe, udah dong jangan ngambek, kan ayah selalu bilang kalau ayah enggak ada apa-apanya tanpa Bunda," ucap Mas Fakhri lagi sambil mencium keningku.
Marahku luntur seketika, Mas Fakhri selalu saja membuatku tidak bisa tahan lama-lama marah padanya.
"Makasih ya, Bund ayah mau ganti baju dulu," ucapnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Aku pergi ke ruang keluarga lagi, melihat Habib yang kini telah duduk di sofa sambil memainkan robot miliknya.
"Wah, anak bunda main, apa?" tanyaku pada Habib.
"Ain bhot, Nda," jawabnya dengan suara khas anak kecil. ( Kali ini sesuai permintaan temanku yang chat di WA kalau bahasanya di sesuaikan )
"Wah main robot, main sama bunda juga yuk?" ajakku pada Habib.
Habib turun dari sofa lalu mengambil robot miliknya yang lain untuk diberikan padaku.
"Ain, bhot, Nda. Yah ain bhot," ucap Habib saat melihat Ayahnya telah rapi dengan pakaian kerja.
"Main robot Ayah, diajak main robot sama anaknya itu," ucapku menjelaskan pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri tersenyum lalu duduk di atas karpet berbulu yang sengaja kupasang di ruang keluarga.
__ADS_1
"Habib ajak ayah main robot?"
Habib mengangguk, lalu mengambil robot miliknya lagi untuk diberikan pada ayahnya itu.
"Makasih anak ayah yang tampan," ucap Mas Fakhri pada anaknya.
Aku tersenyum, terima kasih Ya Allah untuk semua berkah dan kebahagiaan yang kini tengah aku rasakan, semoga selalu seperti ini keluarga kecilku.
Lalu ruangan kini penuh dengan suara canda dan tawa serta adu berkelahi sesama robot milik Habib anak kami.
...****************...
Hari ini adalah hari aniversary pernikahanku dengan Mas Fakhri yang ketiga tahun, sengaja aku membuat kue dan makanan khusus untuk dinner kami nanti malam.
Meski harus repot sambil mengasuh Habib tapi hal itu tidak membuatku mengeluh untuk lebih memilih jasa tukang kue dan katering.
Hari spesial, maka makanan yang disajikan di atas meja juga harus spesial dari tanganku untuk Mas Fakhri.
"Aduh, Habib! Lilinnya jangan di makan, Nak!" seruku panik saat melihat Habib yang memasukkan lilin angka tiga ke dalam mulutnya.
"Amam, Bund, amam, emen enyak," ucapnya menunjuk lilin yang kini telah kupegang di tangan.
"Ini bukan permen, Nak. Ini enggak enak, wek, gak enak pahit," jawabku mengelabui Habib supaya tidak mau lagi memakan lilin yang di kiranya permen.
"Ait? Wek, ait."
Wajahnya kini berubah seperti ingin muntah.
Selesai dengan olahan kue, kini aku berkutat dengan bahan masakan untuk makan malam nanti.
Di atas meja sudah tersedia semua bahan yang ingin aku masak, ada ikan emas yang nantinya akan aku pepes, lalu sayur gulai pakis, sambal terasi dengan lalapan juga pindang ikan nila.
Meski semua masakan terlihat begitu aneh jika disajikan untuk dinner roamantis ala cafe atau restoran bintang lima, namun aku tetap lebih senang seperti ini.
Memasakan makanan untuk Mas Fakhri di hari spesial, meskipun setiap hari pun aku memasak untuk keluarga kecilku ini.
Mas Fakhri tentu saja pernah memintaku untuk menyewa jasa pembantu, tetapi kutolak, karena aku ingin akulah yang melayani suamiku saat pulang dari kerja juga memasakkan anakku sendiri makanan yang sehat dan bergizi.
Tidak salah, jika memang ada yang meminta jasa pembantu untuk membantu meringankan pekerjaan rumah, semua tergantung keinginan masing-masing setiap orang, asalkan suami mampu dan kebutuhan tercukupi.
Jam empat sore, semua masakan dan juga kue sudah selesai dimasak.
Kini aku bersiap untuk mandi dan memandikan Habib, Mas Fakhri mungkin pulang sebelum Magrib.
Bisalah aku panaskan makanan jika sudah dingin nanti.
Selesai membersihkan badan, Habib tertidur pulas, mungkin capek karena sejak tadi mengikutiku yang sibuk memasak.
Aku mulai menata semua makanan di atas meja, lilin di tengah meja juga kue aniversary tiga tahun kami, saking sibuknya menata makanan supaya terlihat cantik di atas meja, aku sampai tidak menyadari Azan Magrib telah tiba.
Suara deru mobil terdengar, kusemprotkan parfum harum ke seluruh tubuhku untuk menyambut Mas Fakhri.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bund. Ayah pulang!"
Aku bergegas membuka pintu, lalu menjawab salam dari Mas Fakhri.
"Walaikumsalam, Yah. Sudah pulang, ayo masuk, bunda sudah siapkan air mandi untuk Ayah," ucapku sambil menggandeng mesra tangan Mas Fakhri.
Mas Fakhri terlihat mesem-mesem, mungkin tergoda dengan aroma tubuhku yang wangi dan dandananku yang sedikit berani ini.
"Ayah mau mandi dulu kalau gitu, Bund. Tunggu ya!"
Aku hanya bisa geleng kepala.
Tidak lama kemudian, Mas Fakhri sudah segar dengan kemeja dan kaus putih di dalamnya, celana jeans hitam terpasang bagus di kakinya.
Mungkin Mas Fakhri tahu bahwa hari ini adalah aniversary kami, dan seperti tahun belakangan kami akan berlagak dinner makan keluar meski hanya pura-pura.
Bukan Mas Fakhri tidak mampu membawaku makan malam romantis di restoran terkenal, hanya saja biarlah kemesraan ini hanya kita berdua saja yang tahu tidak perlu orang lain tahu dan memuji betapa romantisnya pasangan ini.
Aku menyambut Mas Fakhri dengan senyuman manis di meja makan, Mas Fakhri duduk di sampingku.
"Happy aniversary, Sayang. Semoga pernikahan yang ketiga tahun kita selamanya sampai maut memisahkan," ucap Mas Fakhri di teligaku sambil berbisik.
Lalu kecupan singkat di daratkannya di bibirku-kekasih halal Mas Fakhri.
"Happy aniversary juga, Yah. Aku selalu mencintai Ayah dulu hingga nanti maut memisahkan kita," jawabku membalas ucapan Mas Fakhri.
Aku dan Mas Fakhri bersama-sama meniup lilin di atas kue, lantas kemudian saling menyuapi satu sama lain.
Meski hanya seperti ini saja, aku sudah bersyukur masih bisa bertahan dan bersama menghadapi suka duka sebuah pernikahan.
Mas Fakhri terlihat mengambil sesuatu di saku celananya, sebuah kotak berwarna merah yang di dalamnya berisi sebuah kalung dengan berlian di liontinnya membuat mata ini berkaca-kaca.
"Mas....?"
Lidahku tercekat, anggap saja aku lebai namun, melihat betapa pelitnya Mas Fakhri di masa lalu, tentu saja hal ini mmbuatku kaget.
"Sini, Bund, ayah pasangkan kalung ini, pasti Bunda semakin terlihat cantik," ucap Mas Fakhri lalu berdiri untuk memasang kalung itu di leherku.
Mas Fakhri memelukku dari belakang. mengecup tengkukku dengan mesra lalu tidak bosan diucapnya kata cinta yang dibisikannya di telinga.
Sungguh! Aku malu dan rasanya ingin melayang sampai ke Langit.
...********END********...
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
Terima kasih🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih