Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
OBROLAN MENEGANGKAN


__ADS_3

Mas Fakhri melengos begitu saja masuk saat sekilas tadi melihat Mita dengan tatapan tidak suka.


"Pak Bambang, mumpung Bapak ada di sini, sebelum kita membahas kerja sama ada baiknya kita selesaikan masalah anak Bapak yang terus mengganggu saya," ucap Mas Fakhri tegas.


Aku bersorak gembira saat Mas Fakhri mendekat dan mengusap-usap bahuku lembut, menenangkan aku yang pura-pura syok dengan keadaan ini.


Pak Bambang terlihat mengembuskan napas lelah, wajah tuanya itu terlihat semakin resah.


Kasihan melihat Pak Bambang, di usia tuanya itu bukannya tenang malah harus pusing memikirkan anak perempuannya yang kelakuannya seperti itu.


"Baiklah, mari Pak Fakhri kita segera selesaikan masalah yang dibuat anak saya."


Pak Bambang kembali menarik Mita untuk duduk kembali, aku yang melihat wajah Mita yang mendelik sinis balas menatapnya dengan tatapan pongah.


Lihat saja, siapa yang akan menang di sini nanti.


"Tunggu sebentar, ada seorang tamu lagi yang sedang saya tunggu saat ini, mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Mas Fakhri.


Ibu mertua terlihat berdiri dan berjalan ke kamar, mungkin mengecek Habib yang sedang tidur.


Suara mobil masuk terdengar di depan rumah, aku yang penasaran mengintip lewat kaca jendela yang tidak tertutup horden.


Karena tidak terlalu jelas, aku hanya dapat melihat sosok laki-laki yang duduk di atas kursi roda listrik bersama dengan seorang bodyguard.


Aku mengerutkan kening, apa itu seseorang yang sedang Mas Fakhri tunggu? Siapa sosok laki-laki itu.


Suara ketuka di pintu yang memang telah terbuka lebar membuatku semakin jelas melihat wajah laki-laki yang kini tengah berada di depan pintu.


"Masuk saja, Johan," ucap Mas Fakhri.


Johan? Siapa? Dan sejak kapan Mas Fakhri kenal laki-laki yang terlihat cukup tampan itu, penampilannya menunjukkan bahwa dia seorang sultan alias orang kaya.


Hastaga, aku mulai deg, degan. Kulirik Mita yang kini berwajah tegang.


Mungkinkah laki-laki bernama Johan itu ada hubungannya dengan Mita?


"Nak Johan."


Suara Pak Bambang sedikit terkejut, kini Johan telah berada di antara kami.


"Baiklah, mungkin kita sudah bisa mulai membahas perilaku Mita beberapa hari ini pada saya," ucap Mas Fakhri.


Ibu mertuaku kembali lagi ke ruang tamu karena mungkin Habib masih tidur pulas, anak itu jika sudah ngantuk tidurnya bisa sangat lama.


"Ini, apa-apa sih, Mas?! Pake segala Johan ke sini, mau ngapain kamu ke sini!?"

__ADS_1


Mita bersuara keras dan kasar pada laki-laki yang kini terkekeh melihat wajah Mita yang kentara sekali panik.


"Mita! Bisa diam tidak! Kamu enggak sopan sama suami sendiri!" Bentak Mas Fakhri.


Aku melongo, jadi... laki-laki tampan dan terlihat kaya itu suami Mita?


Ah, pantas saja dulu Mita bisa meninggalkan Mas Fakhri, modelan laki-laki ternyata seperti ini, pantas saja Mita tergiur.


Ibu mertua ikut meradang melihat tingkah Mita yang kurang ajar.


"Heh! Mulutmu itu gak pernah sekolah, ya?! Lagian ini rumah anak saya, jadi terserah dia mau bawa tamu siapa aja ke rumah!"


Mita terlihat emosi sekarang, wajah cantiknya yang selalu terpoles make up kini merah padam mengalahkan blus on yang menghiasa kedua pipinya itu.


"Jangan ikut campur deh! Orang tua macam kamu tahu apa?!" Mita balas berteriak.


Aku sudah pening rasanya, ingin rasanya ikut berteriak, tapi tangan Mas Fakhri sudah lebih dulu mengggenggam tanganku di bawah meja.


Kini, Pak Bambanglah yang bertindak, bukan dengan ucapan tapi dengan berupa sebuah tamparan di pipi yang keras.


Wajah Mita terpaling ke kiri dengan keras, sudut bibirnya sedikit berdarah.


"Mita! Almarhumah ibumu tidak pernah mengajarkanmu jadi seperti ini," ucap Pak Bambang dengan suara yang kini terdengar sedih.


Mita hanya diam saja, mulutnya terkatup rapat tanpa ingin membalas perkataan ayahnya.


Melihat hal itu, tentu saja membuatku terenyuh, mataku panas. Teringat akan Bapak yang tidak pernah menunjukkan wajah kecewa di depanku sejak dulu.


Perkataan yang keluar dari mulut Pak. Bambang seolah menunjukkan sikap kecewa seorang Ayah pada anaknya.


Betapa terluka hati Pak Bambang hingga harus mengucapkan kata seperti itu, istri yang telah tiada mungkin dulu mendidik anak perempuan mereka dengan baik, kini harus dihancurkan dengan kelakuan Mita yang seperti ini.


"Pak, sudah Pak, biar kita selesaikan masalah ini secepatnya," ucap Johan yang sedari tadi hanya diam dan mengamati.


Mas Fakhri berdiri, lalu meminta bodyguard Johan untuk berjaga-jaga di dekat Mita sampai masalah selesai.


"Tolong, Mita sampai sekarang aku masih sabar sama kamu, tolong jangan buat aku berlaku kasar sama kamu!"


Mita menatap tidak percaya pada Mas Fakhri.


"Mas! Apa ini sih? Memangnya aku kenapa? Dan masalah apa yang aku lakukan, aku hanya ingin mengambil kembali kamu dari wanita itu," ucap Mita lembut sambil menunjuk dengan sengit ke arahku.


"Sudah cukup! Dasar wanita tidak tahu diri!" Ibu mertua bangkit, lalu mendorong Mita sampai terduduk kembali di sofa dengan keras dan tentu saja hampir terjungkal.


Aku menutup mulut, takut kelepasan tertawa melihat wajah syok Mita.

__ADS_1


Mas Fakhri tentu saja langsung memegangi ibunya, ck, ck, ck ternyata mertuaku galak juga jika sedang marah.


Mungkin juga ini adalah bentuk pelampiasan Ibu mertua dulu, melihat anaknya yang terpuruk karena Mita selama bertahun-tahun.


Pak Bambang lalu meminta Mita untuk duduk dan diam hingga masalah ini selesai.


"Mita, aku ingin kamu dengar baik-baik apa yang akan aku ucapkan ini, kita sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Dan sekarang aku sudah bahagia dengan anak dan istriku, tolong jangan ganggu aku dengan terus datang dan mengirim chat yang aneh-aneh, karena sekarang pun hapeku dipegang oleh Auren, kita sudah berakhir, sejak kamu pergi dan menikah dengan Johan, jadi lebih baik kamu rawat dan jaga rumah tanggamu," ucap Mas Fakhri panjang lebar.


Mita terlihat tidak terima, namun mulutnya bungkam, entah itu berarti dia paham atau mungkin kini otaknya itu tengah memikirkan sesuatu.


"Dan juga aku akan menceraikan kamu di sini kutalak kamu Mita talak tiga! Jangan karena surat perjanjian itu, kamu bisa seenaknya saja. Aku bisa saja menuntutmu tapi aku lebih memilih memaafkanmu, mungkin aku memang kasar dan tempramental tapi demi menghargai pengabdianmu dulu, aku tidak akan memepermasalahkannya."


"Huh! Cerai darimu tidak akan membuatku rugi! Laki-laki cacat sepertimu meskipun kaya, siapa yang akan mau jangan belagu kamu!"


Aku yang mendengar ucapan Mita merasa panas, benar-benar perempuan gila.


Tanganku yang sejak tadi ditahan Mas Fakhri, kini sudah mendarat mulus di pipi kanan Mita dengan tamparan yang keras.


"Ini, untuk mulutmu yang lancang dan kotor karena berniat merebut suami orang, dan tamparan itu sekaligus ingin mengingatkanmu bahwa kamulah yang meninggalkan Mas Fakhri dulu!"


Habis sudah kesabaranku, Mita terlihat menahan sakit, luka fisik belum seberapa di bandingkan dengan perasaanku yang suaminya ingin direbut, bahkan dengan mulut yang lantang mengatakan itu di depan wajahku sendiri.


Mata Pak Bambang memerah, mungkin ada rasa tidak rela anaknya diperlakukan seperti itu tapi apa mau di kata, bahwa Mita jelas salah di sini.


Johan terlihat ingin menyampaikan sesuatu, lalu aku pun kembali duduk supaya Johan bisa menyamampaikan apa yang ingin di utarakannya.


"Dan satu lagi Mita, tidak akan ada harta gono-gini saat di persidangan nanti, oh ya, modal usaha untuk Ayahmu dulu, tolong dikembalikan, bisa dicicil mengingat Pak Bambang yang begitu baik dan mau menganggapku mantu tanpa melihat harta kekayaan yang kumiliki."


Skak mat!


Mita mati kutu, wajahnya pucat pasi seperti tanpa aliran darah.


Aku kasihan, hanya saja itu baik untuk membuat Mita instropeksi diri untuk bisa jadi lebih baik ke depannya.


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih

__ADS_1


__ADS_2