Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
MENGUAK SEMUA KEBOHONGAN


__ADS_3

Aku merasakan seluruh tubuhku gemetar hebat, sungguh, bukan karena aku percaya pada apa yang terlihat di foto, tapi pada kenekatan Mita untuk memiliki Mas Fakhri.


Aku yakin ada yang tidak beres di sini, aku menenangkan Habib terlebih dahulu, mata sembab anakku itu terlihat sangat jelas, namun sudah berhenti menangis dan kini terlelap dalam pelukanku.


"Bu, Auren titip Habib dulu, ya, Bu. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ucapku pada Ibu, lalu menyerahkan Habib yang telah tertidur lelap sekali.


"Mau kemana kamu, Nduk? Ini sudah malam, lebih baik tunggu saja sampai Fakhri pulang," jawab Ibu khawatir.


"Enggak apa-apa, Bu. Auren akan ajak salah satu karyawan Mas Fakhri yang terpercaya," ucapku lagi menenangkan Ibu.


"Ya sudah, hati-hati di jalan."


Aku hanya mengangguk, menyambar jaket lalu memgambil kunci motor, sebelum berangkat aku menelepon Tono untuk ikut bersamaku pergi ke toki Mas Fakhri secara diam-diam.


"Kita ketemu di perempatan jalan dekat toko Mas Fakhri, Ton. Nanti baru akan Mbak ceritakan semuanya," ucapku mengakhiri panggilan.


Bergegas aku memancu motor menuju toko Mas Fakhri, lalu nanti bertemu dengan Tono dulu.


Tiba di perempatan jalan, Tono sudah menungguku tiba.


"Gimana, Mbak, apa yang terjadi?" tanya Tono.


Lalu aku menceritakan semua yang aku alami tadi beserta foto Mas Fakhri dan Mita.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Mbak?" tanya Tono bingung.


"Begini, motor biar kita tinggal di sini, Mbak yakin si Mita masih ada di toko, kamu masuk diam-diam ke dalam ruang cctv lalu periksa kejadian apa yang terjadi yang terekam di sana, ambil memorinya lalu simpan video yang kira-kira bisa membuat Mita mati kutu," jelasku pada Tono.


Tono terlihat paham, lalu aku dan Tono bergegas berjalan menuju toko.


Sampai di sana, Tono langsung mengendap ke ruangan cctv yang ada di samping ruangan pribadi Mas Fakhri.


Di depan toko, terlihat Jono yang tertidur, aku mengerut heran, aku yakin pasti ada yang tidak beres di sini.


Aku mengendap, mengintip lewat jendela kaca yang ada di ruangan Mas Fakhri. Untung saja, gordennya tersibak, aku jadi lebih leluasa melihat ke dalam.


Di dalam sana, terlihat Mita yang mengoceh tentang kebusukannya dalam melaksanakan jebakan ini untuk membuatku menggugat cerai Mas Fakhri.


Segera saja, aku memasang ponsel dala mode rekam, supaya bisa merekam suara Mita yang keras itu.


Rasakan kamu, Mita! Jangan harap bisa menjebakku, buaya mau kamu kadalin, oh no! Jangan bermimpi.


Aku berdecih sinis, jijik melihat tubuh Mita yang kini sedikit terekspos.


Maka dengan diam-diam, aku memfoto tubuh Mita, ini bisa di jadikan bahan untuk menekan dan mengancam balik Mita.


Tono mengendap mendekatiku, lalu membisikkan sesuatu yang membuatku tersenyum.


Lihat saja, Mita. Kamu akan tamat kali ini.

__ADS_1


Tono kuminta untuk membangunkan Jono, aku kini tengah menyusun rencana untuk menumbangkan Mita.


Kuhubungi nomor polisi, saat telah memasukkan memori yang berisi kejadian Mita mengancam karyawan wanita dengan sebilah pisau.


"Dasar bodoh, kamu pikir di toko ini tidak ada cctv, di ruangan Mas Fakhri pun ada cctvnya, kini semua bukti itu telah aku kumpulkan, tinggal menunggu polisi datang lalu menembak Mita supaya sekaligus tumbang tanpa bisa bangkit lagi."


...****************...


Brak!


Aku mendobrak pintu dengan keras, Mita terlihat terkejut, namun sejuru kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi sendu.


Cih, dasar licik.


"Auren," ucapnya lirih sambil meneteskan air mata.


Aku hanya menatapnya datar, tidak lama kemudian suara erangan Mas Fakhri yang sudah tersadar memuatku menoleh pada Mas Fakhri.


Wajah bingungnya semakin terkejut saat melihat Mita di sampingnya dengan tubuh tanpa pakaian.


Tono dah Jono masuk ke dalam menyusulku tidak lama kemudian.


“Auren, kamu ... kenapa ada di sini, dan Mita... kenapa kamu bisa ada di sini, Hah!?" Fakhri menyentak keras.


Mita terisak-isak, lalu memukuli dada Mas Fakhri seperti di film-film, ck. Benar-benar membuat muak.


"Menjebak bagaimana, Mas. Kamu gak inget, kalau kamu yang maksa aku buat melakukan hal ini!" Mita masih berpura-pura.


Aku masih diam, lalu sejurus kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh tanpa busana Mita.


"Auren! Gila kamu!" Mita memekik kaget, mungkin malu karena ada Jono dan juga Tono.


"Kenapa? Bukanya ini mau kamu ya, memperlihatkan tubuh tanpa busanamu pada suami orang, lalu apa bedanya sekarang, jangan ditutupi, basi tau!" Aku berujar datar, mulai muak dengan Mita.


"Dasar gila, pokoknya aku gak mau tau, Mas. Kamu harus tanggung jawab, nikahin aku!"


Mas Fakhri hanya melengos, lalu meraih pakaian yang tergeletak di samping ranjang, memakainya cepat.


"Dengar, Mita. Aku yakin, bahwa kita tidak mungkin melakukan ini, jangan ngacok kamu! Aku ingat sekali bahwa sebelum ingin pulang aku sedang memeriksa laporan keuangan, dan mana mungkin tiba-tiba bisa bersama kamu di sini!"


Mita menggeleng.


"Pokoknya kamu harus menikah denganku, Mas. Aku bisa saja sebar foto kita tanpa busana," ucap Mita mengancam.


Wajah Mas Fakhri terlihat memucat.


Aku yang berang, menampar kedua pipi Mita bolak-balik.


"Jangan mimpi kamu, lihat ini!" Aku menunjukkan video-video Mita saat mengancam karyawati di toko Mas Fakhri, lalu rekaman video miliknya yang kurekam, juga video cctv aksinya dalam melepas pakaian Mas Fakhri tanpa melakukan sesuatu yang membuatku bisa meradang semakin panas.

__ADS_1


Meski adegan saat di mana Mita berbicara sambil mengelus dada Mas Fakhri membuatku marah.


Wajah Mita memucat.


Aku tersenyum puas.


"Polisi sebentar lagi datang ke sini, menangkapmu lalu memasukanmu ke dalam penjara atas tindakan pengancaman pada salah satu karyawan di toko ini," ucapku pada Mita.


Benar saja, suara sirine polisi terdengar di depan toko.


Wajah Mita semakin memucat, lalu kini Mita tersungkur bersujud di kakiku, memohon supaya jangan memenjarakan dirinya.


"Bisa saja, asalkan kamu menghilang dari kota ini, pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali lagi, atau kalau tidak... aku tidak akan segan-segan memenjarakanmu!"


Mita mengangguk, lalu buru-buru memakai pakaiannya di dalam selimut.


Aku meminta Jono dan Tono melakukan apa yang aku perintahkan sesuai dengan rencana.


Polisi itu memang datang untuk berpatroli, aku tidak jadi menelepon polisi saat kudengar suara sirine mobil polisi di sekitar sini.


"Dek, sungguh Mas tidak melakukan apa-apa dengan Mita," ucap Mas Fakhri dengan wajah melas.


Aku menatapnya tajam, lalu Mas Fakhri terlihat menciut.


Mita terdiam di samping ranjang dengan wajah ketakutan.


Pak Bambang sudah kuhubungi, beliau setuju saat aku meminta Pak Bambang untuk membuka toko di tempat lain, Mas Fakhri masih akan tetap membantunya jika mau melakukan itu.


Tak lupa pula, Johan juga membantuku memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Mita nanti saat pindah dan menetap di tempat lain.


"Sekarang, pergilah pulang bersama ayahmu, beliau kini sedang menunggumu di depan, aku sudah meneleponnya sebelum masuk ke ruangan ini," ucapku lagi.


Mita bergegas keluar, meninggalkan Mas Fakhri yang masih merasa bersalah padaku.


Yeah! Aku masih bisa memaafkanmu, Mas. Karena memang kalian tidak melakukan apapun.


"Ayo pulang!"


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih

__ADS_1


__ADS_2