Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
SUAMI ATM


__ADS_3

Namaku Swastamita, nama yang indah bukan? Ya iyalah, tentu saja.


Ayah yang memberikan nama indah itu, tentu saja, nama yang indah serta fisik yang cantik dan mempesona membuatku mudah menaklukan banyak laki-laki.


Termasuk Mas Fakhri dulu, ah bodoh sekali aku, jika tahu Mas Fakhri akan sesukses ini, aku tidak akan pergi menikah bersama Johan yang kaya raya tetapi kasar itu.


Syukur saja, sekarang dia sudah lumpuh dan tidak bisa memakiku serta berbuat kasar padaku.


Aku mendongkol di dalam taxi, gara-gara istri Mas Fakhri itu, aku jadi gagal merayu Mas Fakhri.


Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan Mas Fakhri kembali, karena sekian tahun lamanya aku meninggalkan Mas Fakhri setelah menikah dengan Johan


Kejam memang, tapi saat itu bisnis keluarga Fakhri sedang merosot, kemiskinan membayangi keluarga itu, sedangkan Fakhri saat itu juga belum sukses dengan usaha kecilnya itu.


Tentu saja, aku tidak mau dibawa hidup susah, lebih baik aku pergi bersama laki-laki yang lebih kaya.


Suamiku itu memang begitu loyal dengan uang berapapun yang aku minta pasti diberikannya, meski sikap tempramen dan suka memukulnya kadang membuatku muak.


Usaha Ayah juga kini semakin maju dan pesat, aku tidak terlalu khawatir jika diceraikan oleh Johan tetapi tetap saja, aku akan menuntut harta gono gini yang banyak untuk pengambdianku selama ini.


Ah, Mas Fakhri tenang saja, Mas. Aku akan kembali padamu, aku yakin kamu masih sangat mencintaiku Mas, takkan kubiarkan perempuan seperti itu menjadi istrimu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya terdiam merenung mengingat masa-masa manis saat masih berpacar dengan Mas Fakhri.


Johan? Biar saja, laki-laki itu tidak perlu ku urus karena ada suster yang aku bayar untuk merawat Johan.


Habis manis sepah dibuang, seperti itulah yang kini tengah aku lakukan pada Johan. Salah siapa, dulu begitu kasar padaku jadi sekaranglah balasannya.


"Sebentar, lagi sampai Mbak."


Aku hanya melirik sekilah supir yang ada di depan, mungkin tahu aku melamun sepanjang perjalanan pulang tadi.


"Oke."


Lalu rumah mewah dan megah kini telah tampak dari kaca taxi, setelah mobil berhenti, aku turun lalu membayar sesuai argo taxi yang ditunjukkan di mobil.


Aku berkecak pinggang menatap rumah mewah yang kini menjulang bak sebuah mansion ini.


Mewah memang, tapi jika aku sendirilah yang menepati rumah ini bersama Mas Fakhri dan bukan Johan si lumpuh itu.


Satpam yang tadi membuka pintu gerbang kini menutupnya kembali dan menguncinya, tanpa niat ingin berbasa-basi pada pegawai rendahan itu, aku berlalu masuk ke dalam rumah.


Yeah, im back home.

__ADS_1


...****************...


Sepulang dari toko Mas Fakhri dengan perasaan jengkel, aku pulang ke rumah.


"Mita! Dari mana kamu!?"


Aku memutar bola mata malas, lalu tanpa menjawab, aku duduk di kursi sofa sambil meyilangkan kaki.


"Gak usah berisik, deh. Udah kehilangan fungsi berjalan sekarang ganti mulut yang gak berhenti berisik."


"Heh! Jangan kurang ajar ya, kamu! Aku tau apa yang kamu lakukan di luar sana, jangan kira aku gak berani ya berbuat kasar!"


Aku memandang Johan dengan sinis, laki-laki yang beberapa tahun ini menyandang status sebagai suamiku, ah lebih tepatnya suami atmku.


"Dan kamu pikir aku takut."


"Jangan lupa kamu, kamu hidup enak di sini karena siapa!"


Aku mengdikkan bahu acuh tak acuh.


"Masa bodo, sesuai janji kamu dulu di atas materai, kamu gak akan bisa ceraikan aku," ucapku jumawa.


Johan terkekeh.


Aku melotot, dasar lumpuh, masih berani dia ngancam aku.


Karena muak melihat wajah laki-laki yang dulu membuatku berpaling dari Mas Fakhri, aku melangkah cepat ke kamarku sendiri.


"Hey Mita! Kurang ajar kamu, aku belum selesai bicara!" Teriakan Johan hanya aku anggap angin lalu saja.


Percuma kaya kalau lumpuh. Huh, dasar!


Iyap, aku dan Johan sudah pisah ranjang sejak beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat Johan tau aku hanya memanfaatkan hartanya saja untuk hidup enak.


Lalu, tidak lama kemudian Johan lumpuh, meski kaya, tetap saja Johan tidak bisa membeli kesehatan kakinya yang memang sudah tidak bisa di apa-apa meskipun dioperasi sekalipun.


Membanting pintu dengan keras, aku ambruk di atas kasur. Rasa lelah karena harus terus bertengkar dengan Johan membuatku semakin muak hidup di rumah mewah ini.


"Ck, sayang sekali Mas Fakhri susah sekali di pepet, sepertinya perempuan gendut dan jelek itu berhasil mengambil hati Mas Fakhri."


Seperti ada rasa tidak rela di hati, tetapi salahku juga dulu meninggalkannya, jika tahu dia akan sukses seperti sekarang sudah tentu aku akan lebih memilih Mas Fakhri yang gagah dan tampan.


Tidak seperti Johan yang kini lumpuh dan tidak berguna, membuatku muak saja terus-terusan melihatnya di atas kursi roda.

__ADS_1


"Ah, Mas Fakhri, Mita kangen."


Aku membuka hape, lalu mengirim chat via whatsapp pada Mas Fakhri, meski sering diabaikan tentu saja seorang Mita tidak akan menyerah begitu saja.


Send.


Semoga saja Mas Fakhri mau membalas chat dariku, enak saja, dulu Mas Fakhri begitu mencintaiku hingga mengabaikan larangan nenek lampir yang kini mungkin makin galak jika bertemu denganku karena dulu aku meninggalkan anaknya.


Aku tidak rela, jika Mas Fakhri mencintai wanita lain, lihat saja Auren, aku akan membuat Mas Fakhri kembali bertekuk lutut padaku dan sampai saat itu tiba, maka suami lumpuh itu akan segera aku hempaskan setelah mengambil harta gono-gini yang besar.


Ting.


Aku bersorak gembira! Akhirnya Mas Fakhri membalas cepat chat dariku.


Tentu saja akhirnya Mas Fakhri sadar, kalau Fakhri tidak ada apa-apanya denganku yang cantik dan sexy ini.


Cepat-cepat kubuka chat itu dengan perasaan bahagia.


Aku mengerutkan kening setelah membaca chat balasan dari Mas Fakhri.


[Percuma cantik kalau cuma di manfaatkan untuk menggoda laki-laki yang sudah beristri]


Amarah menggelegak dalam dadaku, dasar! Ini pasti kerjaan si Auren, dasar berengsek.


"Ck, aku gak bisa diginiiin!"


Aku membantik kesal ponsel di kasur, lalu berjalan mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya menggaet Mas Fakhri secepatnya dari Auren.


Aha! Dan sebersit ide licik terlintas di kepalanya.


"Lihat saja Auren, akan aku dapatkan Mas Fakhri dengan cara apapun."


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih

__ADS_1


__ADS_2