Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
AKAL BULUS


__ADS_3

Sudah satu minggu lamanya aku tidak bisa melihat Fakhri secara dekat, meski begitu aku masih bisa memantau dari jarak jauh untuk melihat Mas Fakhri.


Aku memasang wajah marah, jika bukan karena Auren si wanita sialan itu, tentu saja aku sudah pasti bisa menggaet Mas Fakhri dan juga harta Johan.


"Lihat saja kamu Auren, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia."


Aku tertawa terbahak-bahak, ayahku bahkan tidak membela anak perempuannya sendiri.


Baiklah, aku tidak akan meminta bantuan siapa pun untuk mendapatkan Mas Fakhri.


Dengan kemampuanku sendiri, aku yakin Mas Fakhri akan bertekuk lutut dan menyesal telah memilih Auren.


Kasus persidangan dengan Johan sedang berlangsung, masa bodo meski harus kehilangan atm berjalanku, setidaknya aku masih bisa merebut Mas Fakhri dari Auren.


Hanya saja, rasa kekesalan karena tidak mendapatkan harta gono-gini membuatku harus memutar otak untuk tetap bisa hidup dan bergaya mewah.


Sambil berjalan mondar-mandir, aku menyusun rencana untuk menjebak Mas Fakhri sekaligus mendapatkan uang.


Sukur-sukur jika bisa menjebak Mas Fakhri sampai mau menikahiku.


Aku terkekeh, tunggu saja pembalasanku.


Auren, Johan dan semua yang telah mempermalukanku kemarin tidak akan bisa lepas dari cengkaramku.


"Ayo Mita, kamu pasti bisa, jangan biarkan Auren dan Nenek tua itu kegirangan melihatku tidak bisa balik membalas," ucapku menyemangati diri sendiri.


"Ck, ayolah. Pikir-pikir, kira-kira apa yang bisa aku lakukan untuk menjebak Mas Fakhri."


Aku menatap sekeliling rumah kecil yang kini kutinggali, rumah yang dibeli oleh Ayah. Well, rumah jelek dan tidak lengkap fasilitasnya ini gunanya?


Benar-benar membuat aku bagaikan berada di perumahan kumuh yang sama sekali bukan levelku.


"Argh! Pokoknya harus punya akal untuk merebut Mas Fakhri !"


...****************...


Malam ini seperti biasanya, aku mengintip toko Mas Fakhri dari jauh.


Aktifitas mereka masih sama, beberapa karyawan terlihat sibuk melayani pembeli dan mengecek pemasukan serta pengeluaran barang di gudang.


Mas Fakhri sendiri terlihat semakin tampan di mataku, tunggu saja Mas, sebentar lagi kita pasti bisa bersama.


Memakai kacamata hitam kembali, aku terus mengamati mencari celah untuk mulai beraksi menjalankan ide cantik yang kini sudah ada di kepalaku.


Jam delapan malam, Mas Fakhri masih ada di toko, Jono dan dua orang karyawan paling terakhir pulang.


Aku baru saja akan beranjak meninggikan toko saat terlihat seorang karyawan wanita berjalan sendiri menuju gudang.


Seringai licik kini menghiasi wajahku, bergegas aku bersembunyi, menunggu wanita itu keluar dari gudang lalu menyergapnya secara tiba-tiba.

__ADS_1


Pas, aku keluar saat wanita itu hendak mengunci gudang.


"Jangan bergerak atau pisau ini akan menggores wajah dan lehermu secara perlahan," ucapku mengancam wanita itu yang kini terlihat ketakutan.


"Si-si, siapa kamu, kenapa menggangguku," ucap wanita itu terbata-bata.


Aku terkekeh.


"Turuti saja apa yang aku katakan, maka nyawamu akan selamat!" seruku tajam.


Wanita itu mengangguk, lalu aku dengan suara berbisik mengenai rencana yang sudah aku pikirkan beberapa hari ini.


"Jangan coba-coba untuk kabur, atau memberi tahu yang lain, atau pisau ini akan benar-benar menyanyat pipi dan lehermu."


"Ba-ba-baik, s-saya akan lakukan apa yang Mbak perintahkan."


Aku tertawa puas.


"Bagus, segera laksanakan apa yang aku perintahkan tadi," ucapku sambil meregangkan cekalan pada lengan dan pisau yang menempel di leher wanita itu.


Wanita itu terlihat lari ketakutan, lalu saat kembali menoleh aku mengacungkan pisau, lalu pura-pura menggorok leherku sebagai tanda ancaman.


...****************...


Beberapa menit yang berlalu terasa sangat lama, jam setengah sembilan barulah aku melihat wanita itu kembali keluar dengan dua gelas teh yang tadi kuminta untuk dicampur dengan obat tidur.


Semoga saja wanita itu berhasil, supaya aku bisa langsung menjalankan rencana ini dengan sempurna.


Lama menunggu, wanita itu belum juga kunjung keluar, membuatku memikirkan bahwa keryawan itu gagal.


"Ck, awas saja jika gagal."


Karyawan itu keluar dengan nampan yang sudah kosong, Yes! Itu pasti tandanya berhasil.


Setelah itu aku keluar karena Jono yang sudah tertidur.


"Kerja bagus, sekarang pulang dan jangan berani bilang dengan siapa pun, jika tidak aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" aku berucap tajam mengancam karyawan itu.


"Ba-baik, Mbak. Saya pulang," ucapnya dengan lutut yang sejak tadi terlihat gemetar oleh mataku.


"Well, saatnya menina bobokan Mas Fakhri tersayang," ucapku sambil tertawa puas.


Saat masuk ruangan, Mas Fakhri sudah terlelap di atas meja.


Aku mendekat dengan senyum mengembang, juga rasa bahagia akhirnya bisa mendapatkan ide untuk menarik Mas Fakhri untuk menikahinya.


"Mas, sudah aku bilang, bahwa seharunya kita memang bersama," ucapku sambil membelai Mas Fakhri.


Aku masih betah berlama-lama membelai wajah, dagu serta bibir sexy dan merah alami milik Mas Fakhri.

__ADS_1


Sejak dulu, wajah tampannya memang sangat memikat siapapun wanita yang melihatnya, jelas saja dulu aku begitu bangga memilikinya.


"Yah, hanya sayang dulu keluargamu sedang susah Mas, jika tidak aku akan dengan rela menikah denganmu."


Lalu dengan susah payah, aku menyeret Mas Fakhri ke atas kasur yang ada di dalam ruangan kususnya itu.


"Sabar saja, Mas. Sebentar lagi kamu akan terbebas dari wanita jelek seperti Auren."


Aku melepas semua pakaian yang dikenakan Mas Fakhri, lalu kemudian melepas pakaianku juga. Kamera hape sengaja aku letakkan di dekat jendela yang mengarah tepat pada tubuhku dan Mas Fakhri.


Aku berpura-pura tidur dan memeluk Mas Fakhri mesra, begitu pula Mas Fakhri yang tangannya aku lingkarkan di pinggangku yang tidak memakai sehelai benang pun.


Terdengar bunyi ckrek, saat timer pada kamera sudah habis.


Aku berdiri, mengambil hape untuk aku kirimkan pada Auren.


Dan ... send.


"Tara! Kejutan yang manis untukmu, Auren. Semoga kamu syok dan meminta cerai dari Mas Fakhri. Dan aku bisa jadi satu-satunya wanita di hidup Mas Fakhri," ucapku sambil tertawa terbahak-bahak.


Aku masih setia duduk di atas ranjang, menunggu Mas Fakhri terbangun dan memulai akting sebagai wanita yang baru saja di paksa melakukan hubungan intim.


Tawa membahana menghiasi seluruh ruangan ini, dengan senang, aku mengelus dada bidang Mas Fakhri yang sedang terlelap.


"Duh, sungguh menyenangkan bisa membuat Auren kapok," ucapku sambil kembali terkekeh.


Tinggal menunggu reaksi Auren, dan saat sudah melihat foto yang kukirim maka ... boom! Semua rencana sukses terlaksana.


"Jangan harap bisa melawan Mita yang pintar ini."


Aku mengintip sebentar ke depan melalui jendela ruangan Mas Fakhri, Jono masih terlelap.


Masih banyak waktu untuk menunggu Auren kelabakan, dan pada saat waktu itu tiba, aku hanya perlu menertawakan kehancuran seorang Auren yang begitu sombong bisa mengalahkanku.


"Rasakan kamu Auren! Jika perlu Nenek sihir cerewet itu mati kena serangan jantung saat melihat foto anaknya telanjang bersama seorang Mita yang ditolaknya."


Huh! Dasar sekumpulan orang-orang idiot, mana mungkin bisa mengalahkanku.


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih

__ADS_1


__ADS_2