
Ada yang mengatakan, saat laki-laki tengah berjaya dengan jabatan dan harta yang melimpah maka wanitalah godaan dalam langkah perjalanan rumah tangga yang sedang bahagia itu.
Saat ini, Mas Fakhri tentu saja mendekati ciri-ciri laki-laki yang sedang berjaya itu, usaha berdagangnya semakin hari semakin maju.
Kini, bahkan kami sudah memiliki dua buah mobil, satu mobil pribadi dan satu lagi mobil pick up pengangkut barang dagangan kami.
Di toko, kini juga sudah mulai membangun toko yang lebih besar dari toko yang dulu, toko juga kini sudah memiliki beberapa karyawan yang membantu Mas Fakhri di sana.
Sifat pelit Mas Fakhri juga sudah tidak pernah muncul lagi, namun sebagai seorang istri aku juga tidak akan menghambur-hamburkan uang.
Aku hanya berbelanja sesuai kebutuhan dapur dan juga keperluan Mas Fakhri serta Habib dan alat kosmetikku itu pun mertuaku yang menyuruh.
Habib, anak itu kini tengah merangkak sambil bermain dengan mainannya, sesekali anak itu tertawa bahagia mendengar mainannya berbunyi.
"Mamak, mamam, mamam," ucap Habib.
Aku tersenyum, lantas menghampiri anakku itu yang sedang asyik bermain sendiri.
"Adek, lagi main apa, Nak?" tanyaku pada Habib.
Meski tahu tidak akan mendapat jawaban, aku selalu saja berbicara pada anakku itu, responnya mungkin hanya berupa senyuman dan polanya yang merangkak saat mengetahui kehadiranku.
"Ayo, sini anak ibu, main sama-sama kita."
Aku duduk di dekat Habib, memainkan mainan bebek yang berserak di dekatnya.
Suara tawa Habib terdengar, suara yang menggemaskan khas anak kecil.
Beginilah sehari-harinya aku beraktivitas, di rumah, memasak dan mengasuh Habib, sesekali Mas Fakhri mengajakku pergi untuk melepas penat di sela kesibukannya menjaga toko, begitu pula denganku yang ingin cuci mata melihat baju-baju yang kini dengan senang hati akan dibelikan oleh Mas Fakhri serta kosmetik yang ku gunakan.
Suara dering ponsel membuatku beranjak dari duduk, menggendong Habib untuk mengambil ponsel yang berbunyi itu.
" Mas Fakhri pasti tadi pagi buru-buru, makanya ponselnya ketinggalan, kebiasan Mas Fakhri enggak juga berubah," omelku sambil meraih ponsel di atas meja.
Sebuah sms dari nomor yang tidak dikenal masuk di ponsel Mas Fakhri, karena penasaran, kubuka pesan itu.
[Mas Fakhri, ini nomorku di save ya.]
Aku mengernyitkan kening, nomor siapa?
Sudah pasti ini nomor perempuan, tetapi siapa perempuan ini? Aku mulai bertanya-tanya.
Suara pintu diketuk membuatku cepat-cepat menghapus pesan dari nomor tidak dikenal itu, lalu aku bersama Habib ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, Mas. Kok pulang?" tanyaku pada Mas Fakhri.
"Hape Mas ketinggalan, Dek. Tadi enggak ada sms atau pesan masuk, kan?" tanyanya dengan wajah yang terlihat khawatir.
Mendengar itu, aku semakin curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang Mas Fakhri sembunyikan dariku.
__ADS_1
Maka demi menutupi apa yang sudah aku baca dan aku ketahui, aku menggeleng.
"Enggak, Mas. Emang kenapa? Siapa yang mau sms atau telepon Mas?" tanyaku pura-pura.
"Oh itu, enggak ada kok, Dek. Mas kira ada langganan kita yang sms atau telepon saat hapenya tertinggal di rumah."
Aku mengangguk, lalu kuserahkan ponsel itu pada Mas Fakhri.
"Kalau gitu, Mas balik dulu ke toko ya, Dek. Dada sayangnya Ayah," ucap Mas Fakhri mencium kedua pipi anaknya dengan gemas.
"Dadah, Ayah," jawabku sambil melambaikan tangan kecil Habib, meski ada dongkol di hati pada Mas Fakhri yang sepertinya membunyikan sesuatu dariku.
Mas Fakhri pergi ke toko lagi, mengendarai mobil pick upnya menuju toko kami.
...****************...
Jam setengah sembilan malam suara mobil pick up Mas Fakhri terdengar, aku yang belum tidur mengintip Mas Fakhri dari balik tirai yang sedikit kusibak.
Mulai aneh, Mas Fakhri tidak biasanya pulang jam segini, aku mulai menaruh curiga.
Meski belum pasti adanya tanda-tanda Mas Fakhri main api di belakangku, aku tetap harus waspada.
"Assalamualaikum," ucap Mas Fakhri dari balik pintu.
Aku diam sejenak, menunggu agak lama baru membuka pintu untuk Mas Fakhri.
"Eh, Dek. Susah tidur ya? Maaf ya, Mas baru pulang, ada urusan mendadak tadi."
Mas Fakhri lalu mandi dan makan malam sebelum tidur, aku yang sudah berbaring di samping Habib sambil memainkan ponsel.
Tak lama, Mas Fakhri bergabung di kasur besar yang sudah diganti beberapa bulan lalu, karena tingkah pola Habib saat tidur yang rusuh.
"Belum tidur, Dek. Tumben main hape, biasanya udah ngorok?" tanya Mas Fakhri.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, Mas Fakhri masuk ke dalam selimut, ponselnya yang tadi berada di kantong celana, kini ditaruhnya di samping bantal.
Setelah itu, mungkin karena kecapekan, Mas Fakhri sudah ngorok, terlelap masuk ke alam mimpi.
Pas sekali, aku mengambil ponsel Mas Fakhri, ingin mengecek apakah nomor tidak dikenal itu kembali mengirimi Mas Fakhri pesan.
Kubuka ponsel Mas Fakhri dengan perasaan was-was, takut asumsiku benar soal Mas Fakhri yang mungkin saja mulai main api di luaran sana.
Benar saja, beberapa pesan dari nomor yang tidak dikenal tadi mengirim pesan lagi, kali ini via whatsapp.
[Mas, save nomorku ya, jangan sombong loh, mentang-mentang udah lama pisah.]
Aku mengerutkan kening, lama berpisah? Apa-apa sih itu, lebai sekali chatnya.
Aku mendumel dalam hati, siapa kira-kira
__ADS_1
perempuan yang chat Mas Fakhri ini.
Aku kembali menscrol chat itu ke bawah, ada balasan dari Mas Fakhri.
[Iya, aku save, enggak ada yang sombong, itu semua sudah masa lalu.]
Sudah masa lalu? Mungkinkah perempuan ini adalah perempuan di masa lalu Mas Fakhri, lalu kenapa sekarang muncul lagi.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalaku, meskipun jawaban Mas Fakhri sedikit banyaknya membuatku lega karena chat perempuan itu dibalas cuek oleh Mas Fakhri.
Lagi, kubaca chat dari perempuan yang belum kutahu siapa namanya, dan apa hubungannya dengan Mas Fakhri sekarang.
[Kok jawabnya, gitu, ya aku minta maaf kalau dulu sempat ninggalin kamu. Tapi, sampai sekarang aku masih cinta kamu, Mas. Aku belum lupa sama janji kamu yang mau nikahin aku dulu.]
Wah, wah mulai aneh nih perempuan chatnyaa. Dari chat perempuan itu, aku berusaha menggali memori.
Namun nihil, masih belum juga kuingat siapa perempuan ini.
Tidak ada balasan dari Mas Fakhri, alhamdulillah. Setidaknya aku tidak perlu menangis dengan hati terluka seperti peran wanita di sinetron kesayangan para Emak-emak.
"Untunglah Mas Fakhri balasnya cuek dan diemin si perempuan gatel ini, kalau enggak sudah akan ada perang dunia ketiga ini," ucapku lirih sambil memandang Mas Fakhri yang tertidur pulas.
Meski begitu, aku tidak dan belum merasa aman jika belum mengetahui siapa perempuan ini, Mas Fakhri bisa saja suatu hari terlena karena terus menerus diganggu perempuan centil ini.
"Hem, sepertinya aku harus melakukan sesuatu supaya bisa tahu siapa perempuan di masa lalu Mas Fakhri, ah, aku bisa tanya Ibu Mertua, iya. Ah, pokoknya besok aku harus sudah tau siapa dalang di balik chat yang mungkin saja bagian dari masa lalumu Mas."
Demi keluargaku, dan keutuhan dari orang-orang yang ingin merusak keluarga kami, di saat kami sedang jaya-jayanya dalam usaha dagang, hal itu tentu saja memicu rasa iri dari orang lain, atau justu orang terdekat yang aku tidak tau siapa.
Meski aku merasa tidak memiliki musuh, bukan berarti masalah seperti iri pada usaha Mas Fakhri tidak akan terjadi. Jadi, sebelum semuanya terjadi, aku harus waspada.
"Awas saja, Mas. Kalau sampai kamu ada macam-macam di luar rumah, aku sunat lagi kamu," ucapku lirih pada Mas Fakhri.
Setelah mengucapkan itu, aku malah terkikik sendiri mengingat tingkah absurd yang baru saja aku lakukan, berbicara pada orang yang sedang tidur.
Aku baru saja membaringkan tubuh untuk tidur, saat ponsel yang aku pegang berbunyi belum lama setelah aku menghidupkan data seluler.
Aku terkejut.
Ck! Nomor itu lagi, awas saja tunggu permainan cantik dariku wahai calon bibit pelakor.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
Terima kasih🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih