
Hari ini, Mas Fakhri sengaja menutup toko, hari Minggu memang sekarang menjadi jadwal bersama oleh Mas Fakhri.
"Dek, ayo kita jalan-jalan, Mas mau ajak anak kita jalan," ucap Mas Fakhri setelah selesai sarapan pagi.
Aku yang keheranan, memegang kening Mas Fakhri. Tidak panas? Tumben sekali ngajak jalan.
"Enggak panas, tumben ngajak jalan?" tanyaku setelah menempelkan telapak tangan di kening Mas Fakhri.
Mas Fakhri tertawa saja.
"Ya, sekali-kali, Dek. Sekarang setiap hari minggu, abang seutuhnya milik kalian berdua, iya kan, Dek." Mas Fakhri berbicara sambil memainkan anaknya yang kini di pangkuannya.
Mulutku menganga tak percaya, suami pelitku kini berubah begitu banyak.
"Beneran, nih, Mas. Kalau gitu, adek juga mau dong dikasih duit buat ke salon, biar adek makin cantik kayak Auren Hermasyah eh maksud Aurel Hermasyah, atau enggak Nia Ramadhani lah, hehehe" ucapku bercanda pada Mas Fakhri.
"Boleh, beneran mau ke salon? Tumben ngajak ke salon, setahu Mas kamu biasanya di ajak ibu atau gak Selvi ke salon itupun di paksa, apalagi adek sejak dulu tidak terlalu hobi ke salon," ucap Mas Fakhri keheranan.
Aku hanya nyengir saja, mana mungkin aku memberitahu bahwa semua itu aku lakukan untuk menghempas Mita yang ganjen.
"Gak apa-apa, Mas. Sekali-kali lah, biar adek kelihatan cantik glowing gitu loh."
Mas Fakhri menatapku dengan wajah yang mengulum senyum.
"Aduh, Dek. Tanpa Adek ke salon buat perawatan pun, Mas masih kan tetap cinta sama adek, istri yang setia menemani Mas baik suka mau pun dukanya Mas."
Aku terharu rasanya mendengar ucapan itu dari Mas Fakhri, sejak menikah, Mas Fakhri bukan tipe suami yang suka mengutarakan isi hatinya pada istrinya.
Jadi, saat mendengar ucapan tadi, rasanya aku begitu sangat dihargai sebagai istri Mas Fakhri. Aku pun sama, bangga pada diri ini yang masih betah dan tahan di sisi Mas Fakhri yang dulu begitu pelit.
"Ya sudah, adek selesai makan dulu, lalu kita siap-siap jalan."
Mas Fakhri lalu menggendong Habib pergi ke ruang televisi, aku yang ditinggalkannya di meja makan, hanya mampu terdiam melihat perubahan besar dari Mas Fakhri.
Benarkah Mas Fakhri berubah karena aku dan anaknya? Dulu, aku begitu sangsi bila Mas Fakhri akan berubah tidak pelit.
...****************...
Sesuai ucapan Mas Fakhri tadi, aku pergi ke salon untuk perawatan tubuh, aku tidak terlalu paham apa saja bentuk perawatan tubuh karena tidak sering kesana, dan memang sejak gadis dan menikah sama sekali tidak terlalu suka ke salon.
Tapi, ini semua demi membuat Mas Fakhri makin tergila-gila pada istrinya ini, supaya Mita tidak bisa merebut Mas Fakhri dari sisiku sesuai saran mertuaku.
Beberapa jam di salon, aku sudah dapat merasakan perubahan pada wajah ini, yang tadinya memang sudah putih, kini semakin mulus dan bersinar.
__ADS_1
Aku keluar salon setelah selesai, Mas Fakhri yang menungguku di kursi tunggu bersama dengan anaknya tidak sama sekali terganggu dengan keriuhan di sekitar.
"Mas, ayo kita jalan-jalan," ajakku pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri mengangakan mulutnya, aku mengerutkan kening tidak mengerti, kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahnya?
"Mas, ish, kenapa sih, kok malah mangap gitu. Adek kan, jadinya minder," ucapku pada Mas Fakhri.
"Astaga, bidadadarinya Fakhri, cantik banget kamu, Dek."
Aku tersenyum malu-malu, aih, Mas Fakhri bisa saja memuji yang mengandung banyak gula.
"Ah, Mas mah, masa sih?"
Mas Fakhri mengangguk mantap.
"Tentu saja, kalau gak percaya, ayo foto bertiga," ajak Mas Fakhri.
Aku pun mengangguk, aku mendekat pada Mas Fakhri dan Habib, lalu meminta tolong seseorang untuk memfoto kami bertiga.
Mas Fakhri yang duduk memepet wajahku dengan Habib di tengah-tengah kami.
Melihat hasil foto yang begitu bagus itu, aku terpikir untuk mengirimkannya pada Mita.
Aku mengirim pesan gambar hasil kami berfoto tadi, biarkan saja Mita sadar diri, bahwa secantik apapun dia, Mas Fakhri insyaallah akan tetap setia padaku.
...****************...
Suasana mall ramai sebagaimana mestinya, aku dan Mas Fakhri serta anak kami, berjalan bergandengan tangan layaknya keluarga bahagia.
Meski hanya jalan-jalan di mall saja, aku sudah senang, sebab Mas Fakhri kini terlihat lebih romantis dari pada dulu.
"Mas, masuk toko baju couple itu yuk? Adek pingin deh, punya baju couple bertiga," pintaku pada Mas Fakhri.
"Boleh, ayo kita masuk. Lagian kita juga belum punya baju samaan kayak gitu."
Yeay! Aku bersorak gembira. Akhirnya Mas Fakhri mau memiliki baju couple, dulu saja dia sama sekali tidak mau beli baju itu, hemat duit katanya.
Aku dan Mas Fakhri melihat-lihat baju couple dengan berbagai model dan bentuk gambar di setiap ukiran bajunya.
Lalu, pilihanku jatuh pada baju couple yang tidak terlalu mencolok jika dipakai laki-laki, sebuah kaos berwarna putih dengan tulisan hitam di depan kaos bertuliskan 'Be, sedangkan kaos pasangannya bertuliskan 'Mine. Kaos kecilnya, yang entah kenapa begitu pas dengan ukuran badan Habib itu, bertuliskan happy Mama Papa.
Wah, semakin sukalah aku dengan baju itu.
__ADS_1
Kurasa, itu tidak terlalu mencolok saat dipakai bersama-sama, dan Mas Fakhri tidak perlu merasa malu setiap memakainya di tempat ramai.
"Mas, beli baju couple yang warna putih dengan tulisan hitam ini saja, ya. Bagus banget ini cocok untuk keluarga kita," pintaku pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri mengamati baju yang aku elus dengan sayang itu.
"Boleh, Dek. Sepertinya tidak salah pilihan Adek ini, karena Mas juga suka baju ini, simpel, dan bahannya juga lembut," ucap Mas Fakhri.
Aku dengan segera memanggil pelayan toko, meminta mereka untuk membungkus ketiga baju yang membuatku jatuh cinta itu.
Selesai membeli baju, lalu aku dan Mas Fakhri memutuskan untuk makan di lesehan ayam bakar enak.
Sejak dulu, aku dan Mas Fakhri memang lebih suka makan di lesehan, anakku itu, sejak masuk ke dalam mall tadi sudah tidur digendonganku.
Baru setelah itu aku dan Mas Fakhri memutuskan untuk pulang, di samping sudah lelah, aku juga kasihan pada Habib yang kini nulai rewel karena capek.
Di dalam mobil, tiba-tiba Mas Fakhri menggenggam tanganku lalu menatapku dengan pandangan seolah berterima kasih.
"Dek?"
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Terima kasih."
Aku menoleh, menatap Mas Fakhri dengan pandangan penasaran.
"Terima kasih untuk?"
"Semuanya, terima kasih untuk bertahan di sisiku, juga memberiku seorang malaikat kecil yang lucu."
Aku hanya tersenyum, lalu wajah Mas Fakhri semakin mendekat, euforia manis dan hangat yang kurasakan kini semakin terasa oleh kecupan manis dari Mas Fakhri.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
Terima kasih🙏🙏
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih
__ADS_1