
Mini bangat ya cerita Mas Fakhri dan Auren ya, nih aku tambahkan extra partnya ya walaupun gak banyak dan khusus buat yang udah mau baca cerita absurd ini๐. Meskipun enggak ngikutin aku, tapi aku terima kasih sekali karena ada yang mau baca ceritaku ini.
So, happy reading ya para reader ku.
...****************...
Aku baru saja selesai menjemur baju saat Mas Fakhri pulang ke rumah dengan raut wajah yang kesal dan mulut yang terlihat komat-kamit. Keningku berkerut karena tingkah absurd Mas Fakhri pagi ini.
"Kenapa sih, Mas? Pagi-pagi mukanya udah kaya jemuran baru diperes?" tanyaku pada Mas Fakhri.
Mas Fakhri hanya mendecakkan lidah, wajahnya malah terlihat semakin kesal. "Habib mana?"
"Ada, lagi nonton film boboboy kesukaannya tuh. Kenapa?" tanyaku balik.
Mas Fakhri hanya menggeleng. "Enggak apa-apa, aku males ke toko hari ini, biar si Jono aja yang handel semua jual beli di toko hari ini, sekali-kali bos mau santai," ucap Mas Fakhri padaku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk saja, lalu beralih fokus pada cucian piring yang belum kucuci.
Mas Fakhri terlihat berjalan menuju ruang televisi dimana anaknya berada. Tumben sekali tingkah Mas Fakhri aneh pagi ini, aku mengedikkan bahu, mungkin saja suamiku itu sedang bad mood, pikirku positif.
Saat semua pekerjaan rumah telah selesai, aku ikut bergabung bersama Mas Fakhri dan Habib yang masih asyik di depan televisi. Ada berbagai macam snack yang berserak di atas meja depan televisi.
"Asyik banget sih, lagi pada nonton apa?" tanyaku, namun saat melihat ke arah televisi kontan saja mataku melotot.
"Astaga, Mas. Film apaan sih yang kamu perlihatkan buat Habib? Kenapa malah nonton sinetron pelakor begitu!" seruku kesal sekali pada Mas Fakhri.
"Loh, kenapa. Biar Habib tau kalau-kalau nanti ada bibit-bibit pebinor yang berusaha deketi kamu, kan si Habib jadi tau tuh ciri-cirinya gimana," jawab Mas Fakhri santai.
Sedangkan Habib yang melihatku mengomel hanya menyimak sambil memakan snack favoritnya itu.
"Ck, iya-iya aku ganti. Gitu aja ngomel-ngomel, iya kan, Bang," ucap Mas Fakhri pada anaknya yang tentu saja diangguki kepala dan jempol tangannya yang mengacung tanda setuju dengan ucapan Mas Fakhri.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuatku semakin kesal sampai ke ubun-ubun. "Oh, jadi kompak gitu ya anak sama bapak, oke, siang ini, enggak ada jatah sop buntut untuk kalian berdua ya," ucapku sambil berlalu.
"Akh! Jangan Bu!" seru Mas Fakhri dan Habib secara bersama, kepala keduanya otomatis berputar melihatku yang melenggang pergi dengan tangan mengangkat ke atas tanda dilarang protes.
Wajah Mas Fakhri lesu, mulutnya terbuka, namun tertutup kembali sambil berpandangan pada anak laki-lakinya yang ikut terkulai lesu.
"Hahaha, rasakan itu. Ibu jangan dilawan ya. Keok kalian berdua."
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
๐
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
__ADS_1
Terima kasih๐๐
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih