Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
TUJUH BULANAN


__ADS_3

Tak terasa usia kandunganku memasuki usia tujuh bulan.


"Dek, katanya lusa mau acara tujuh bulanan, belum belanja kebutuhan?"


Aku yang kini sedang duduk santai di kursi melirik Mas Fakhri yang kini berwajah bingung.


"Uangnya mana?" tanyaku sambil menadahkan tangan kanan meminta uang.


Meski tidak ada lagi jatah seratus ribu seminggu, Mas Fakhri tetap saja masih perhitungan jika mengeluarkan uang untuk belanja, apalagi yang mengeluarkan uang lebih dari dua juta.


"Kemarin, bukannya sudah Mas kasih ya?" tanya Mas Fakhri bingung.


Hello, Mas! Lima ratus ribu kalau untuk bikin acara tujuh bulanan mana cukup, beli ayamnya saja sudah berapa kilo jika memang mau mengundang warga sekitar meski tidak semuanya.


"Mas, uang lima ratus ribu buat beli ayam berapa kilo saja sudah habis, apalagi telur dan ayam bulan ini sedang naik harganya, belum lagi beli sayurannya, bumbunya, semuanya serba beli banyak ini, Mas. Malu lah kalau sampai kekurangan saat menjamu orang," ucapku sambil meminum susu Ibu hamil.


Mas Fakhri cemberut, lalu dengan wajah yang begitu berat diambilnya uang sebesar dua juta rupiah dari kantong celananya.


Entah di mana Mas Fakhri selalu menyimpan uang hasil untungnya dalam berdagang, selama ini aku hanya menerima dari tangan Mas Fakhri.


"Ya sudah, sini uangnya, Mas. Nanti biar Ibu sama Mamak yang belanja kebutuhan untuk mitoni besok lusa," ucapku akhirnya.


Mas Fakhri langsung saja duduk di sampingku dan ikut menonton serial ikan terbang yang biasa jadi film favorit Emak-emak zaman know, begitu pun denganku meski belum sah betul jadi Emak-emak karena si tole belum brojol.


"Mau Adek buatin kopi, Mas?" tanyaku saat akan beranjak ke dapur untuk mengembalikan gelas bekas susuku yang sudah habis.


"Em, boleh, jangan kopi hitam, ya," pinta Mas Fakhri.


Aku hanya menggeleng pelan, mau minum kopi enak tapi setiap pergi berdagang enggak mau beli kopi yang banyak minimal satu rentenglah, dari pada harus ngecer di warung.


Aku membuatkan Mas Fakhri kopi, lalu mengantarkannya ke ruang televisi lagi.


"Nih, Mas. Kopinya, masih panas jangan asal seruput," ucapku memperingatkan.


Kebiasaan Mas Fakhri, saat kopi kesukaannya sudah selesai dibuat langsung saja seruput, padahal kopi masih sangat panas.


"Iya, Dek."


Mas Fakhri menyeruput kopi sedikit demi sedikit, meniupnya lalu menghirup aroma kopi.


"Enak, Mas?" tanyaku saat melihat ekspresi wajahnya yang kenikmatan meminum kopi.


"Enak, Dek. Mantap sekali rasa kopinya," ucap Mas Fakhri sambil merem melek.


Aku tersenyum manis, lalu berbisik tepat di telinga suamiku tersayang namun pelit itu.


"Kalau enak, besok-besok beli yang banyak pakai uang jatahmu ya, Mas."

__ADS_1


Lalu aku pun melipir ke dalam kamar.


...****************...


Acara tujuh bulanan berlangsung khidmat, aku selalu menebar sanyum kepada para warga, sedangkan Mas Fakhri sedikit cemberut wajahnya.


Mungkin karena melihat porsi makan para warga saat mengambil makan dan lauk ayam yang begitu luar biasa.


Aku hanya mampu menghela napas lalu kuusap bahunya lembut, kubisikan kata-kata yang tidak tahu apakah mempan meredakan wajah cemberut Mas Fakhri yang tidak sedap dipandang itu.


"Mas, jangan berwajah cemberut, ini semua juga untuk kebaikan kita kan, juga calon anakmu, mereka semua datang atas undangan kita, juga mereka di sini mendoakan anak dan ibunya supaya sehat dan lancar saat bersalin nanti," ucapku berbisik pada Mas Fakhri.


Kuusap perutku lembut, dalam hati aku membatin agar anakku jangan sampai menuruni sifat pelit bapaknya, bukan apa-apa, meski pelit begitu aku mencintainya, hanya Mas Fakhri yang mau menerimaku yang tidak sesempurna setelah kejadian di masa laluku, karena yang lain cuman tau fisikku yang cantik dan pendidikan S1 ku.


Mas Fakhri terlihat melunak, aku berpamitan ke belakang sejenak, melihat Ibu dan Ibu mertuaku yang sibuk di belakang, tidak enak jika membiarkan mereka berdua kecapean.


"Bu, ada yang bisa kubantu," ucapku pada Ibu.


"Eh, tidak ada sudah selesai ini, tinggal menunggu yang lain selesai makan, lalu cuci piring," jawab Ibu.


"Biar aku bantu, Bu."


"Sudah, enggak usah, mending kamu istirahat saja." Ibu mertua datang sambil membawa piring bersih, mungkin habis mencuci piring.


"Tapi, Bu. Nanti kalian kecapean, lagian kan, ada Mbak Dina, nanti biar aku sama Mbak Dina saja yang cuci piring."


"Uwes to, enggak apa-apa sudah sana ke depan lagi, ini ibu juga mau ke depan."


Acara berakhir dengan tertib, tidak lupa doa keselamatan untukku dan calon anakku terlontar dari bibir para warga yang datang.


"Alhamdulillah, terima kasih doanya, Ibu-ibu," ucapku.


"Amin, doakan semoga cucu saya lahir dengan selamat," ucap Ibuku pula.


Mas Fakhri kini tak lagi cemberut, wajahnya tersenyum lalu membalas salaman dari warga dengan ucapan lembut.


Aku tersenyum lega melihat itu, takut saja para warga yang datang tidak nyaman jika wajah Mas Fakhri masih saja cemberut tadi.


Untunglah, hal itu tidak terjadi, kalau tidak, bukan hanya aku yang malu, tapi Mas Fakhri dan kedua orang tua kami, takutnya nanti dikira tidak ikhlas mengundang para warga.


...****************...


Bau wangi masakanku tercium enak sekali, sambal terasi, nasi yang masih mengepul hangat, lalapan daun singkong, juga pindang ikan nila.


Sengaja aku masak enak hari ini, mengingat kami berdua akan pergi ke Bidan untuk cek up dan USG untuk melihat jenis kelamin anak kami.


"Mas! Mas Fakhri ! Makan dulu, Mas!" seruku dari meja makan.

__ADS_1


"Wah baunya enak ini," ucap Mas Fakhri yang datang dari ruang tamu.


"Sudah selesai ngitung untungnya, jadi, kan pergi ke Bidan," ucapku pada Mas Fakhri .


"Iya, jadi kok, Dek. Tenang aja, enggak usah khawatir kamu," jawabnya sambil duduk, lalu Mas Fakhri mengambil nasi, sambal terasi, lalapan, serta ikan nila pindang.


"Berangkat agak siangan dikit ya, Dek. Soalnya si Jono mau antar barang ke sini, barang dagangan Mas sudah habis stoknya, besok gak bisa dagang kalau barang enggak sedia dari sekarang," ucap Mas Fakhri.


Aku hanya mengangguk saja, yang penting jadi berangkat saja, karena hari ini aku juga akan membeli perlengkapan bayi yang sama sekali belum kumiliki.


Aku duduk, lalu menyusul Mas Fakhri makan dengan lahap.


"Enak, kan, Mas. Kalau jatah uang belanja lebih dari seratus ribu, tak perlu lagi Mas ngomel makan ikan asin, teri, tahu dan tempe," sindirku pada Mas Fakhri.


Mas Fakhri hanya nyengir saja, halah.


Jam sebelas siang, aku dan Mas Fakhri baru berangkat ke rumah Bidan, untung saja antrian tidak panjang, jadi aku tidak perlu merasa pegal saat harus duduk di kursi tunggu dalam waktu yang lama.


Hamil tujuh bulan sudah membuatku sesak napas rasanya, berjalan susah, untung saja kaki tidak bengkak mengingat besarnya perutku meskipun baru tujuh bulan.


Saat namaku dipanggil, Mas Fakhri juga diminta masuk oleh asisten Dokter, lalu tidak lama Dokter datang, memintaku untuk tiduran di tempat tidur yang telah disediakan.


Perutku diberi gel yang terasa sangat dingin di perut, lalu suara Bidan terdengar antusias saat menjelaskan letak kaki, tangan, lalu melihat jenis kelamin anakku, serta letak kepala yang sudah terbalik meski belum sempurna lurus pada jalan keluar bayi itu nanti.


"Wah, jenis kelaminnya laki-laki, Bu. Selamat ya, air ketubannya cukup," ucap Dokter kandungan.


Saat mendengar degup jantung anakku, aku rasanya ingin menangis begitu pula Mas Fakhri, matanya terlihat memerah, satu tahun menikah dan barulah aku bisa hamil.


Setelah selesai, aku meminta prinan gambar USG tadi lalu menempelnya pada buku KMS Ibu hamil, Mas Fakhri saat ini tengah menebus vitamin.


"Mas, Adek, mau sekalian beli perlengkapan bayi," ucapku.


Mendengar itu, tanpa banyak kata, Mas Fakhri mengeluarkan uang berwarna merah yang lumayan banyak.


Eh, tumben sekali tanpa berkata apa-apa langsung memberikan uang?


Tapi sudahlah, aku mengambil uang itu lalu belanja perlengkapan bayi yang aku butuhkan.


"Makasih, Mas," ucapku sebelum pergi ke ruangan sebelahnya untuk memilih baju-baju bayi.


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya

__ADS_1


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih


__ADS_2