Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
MULAI MENCARI TAHU


__ADS_3

[Mas, belum tidur?]


Aku mendengkus, dasar perempuan enggak tau malu, malam-malam berani sekali chat suami orang.


Buru-buru aku tutup data ponsel, biar saja terabaikan karena pesan yang sudah kulihat sudah pasti centang dua biru di ponsel perempuan itu.


Rasain kamu! Dicuekin melulu kalau terus kirim pesan-pesan nyeleneh. Pakai acara tanya-tanya belum tidur segala.


Hello, ini perempuan emang siapa? Ya bodo amatlah kalau jam segini belum tidur, sok mau perhatian, dikira semua laki-laki akan bertekuk lutut hanya dengan trik begini, pura-pura bertanya lalu beraksi sok peduli.


Cih! Naif sekali sih.


Aku mengambil ponsel milikku, lalu mendownload sebuh aplikasi penyadap untuk mengetahui percakapan yang nantinya mungkin saja dilakukan Mas Fakhri dengan perempuan ini.


Setelah selesai, besok tinggal aku telepon Jono untuk mengawasi gerak-gerik Mas Fakhri, lalu pergi ke rumah Ibu mertua untuk mencari tahu perempuan-perempuan di masa lalu suamiku itu.


Semua yang harus aku lakukan sudah selesai, besok tinggal menemui Jono untuk memantau Mas Fakhri karena hanya dirinya yang selalu mengantar barang ke toko, juga hanya dia yang selalu menemani Mas Fakhri.


Tunggu saja kau wanita pelakor, jangan harap aku akan diam saja saat kamu mulai beraksi menggoda suamiku.


Baru setelah selesai, aku merebahkan tubuh untuk segera tidur, tidak sabar rasanya menanti pagi tiba. Siapa sebenarnya perempuan yang sering chat Mas Fakhri, benar-benar membuat jiwa berjuangku berkobar.


...****************...


Pagi-pagi sekali, Mas Fakhri sudah akan berangkat ke toko bahkan jam masih setengah tujuh pagi.


"Tumben, Mas, berangkatnya buru-buru amat?" tanyaku penasaran.


Saat ini, aku masih menyuapi Habib makan.


"Iya, Dek. Mas udah sarapan duluan tadi, ada barang yang Mas lupa beli kemarin, dan hari ini yang pesan barang mau datang ke toko," ucap Mas Fakhri yang memasang sendal terburu-buru.


"Oh, oke. Hati-hati di jalan kalau gitu, Mas."


Seperginya Mas Fakhri ke toko, Jono yang terlihat melintas di depan rumah dan akan berangkat ke toko menggunakan mobil pick up, sontak membuatku memanggilnya keras.


"Jono!"


Jono celingak-celinguk, lalu matanya berhasil melihatku yang terburu-buru menghampirinya dengan Habib yang masih anteng kugendong.


"Iya, Mbak. Kenapa?"


Aku menceritakan chat yang kulihat di ponsel Mas Fakhri meski tidak detaile kuceritakan, Jono mengangguk dan setuju akan membantu menyelidiki kasus ini.


Dan dengan senang hati pula, Jono akan mengawasi gerak-gerik Mas Fakhri.


"Tapi, sebenarnya... Mbak. Kemarin ada perempuan yang datang ke toko, sepertinya Mas Fakhri kenal, soalnya langsung tahu nama si Mbak itu, kalau enggak salah Mir, Mir siapa ya? Eh itu, Mita iya, namanya Mita. Mbak kenal?"


Aku melotot, astaga! Jangan sampai aku keduluan start.


"Terus, terus, ngapain perempuan bernama Mita itu ke toko Mas Fakhri?" tanyaku pada Jono.

__ADS_1


"Waktu tanya sama Mas Fakhri, katanya perempuan itu anak dari pemilik toko yang mau kerjasama sama Mas Fakhri."


Aku manggut-manggut.


"Memangnya, Mas Fakhri mau kerja sama sama siapa?"


"Jono juga kurang tau Mbak, katanya cuma toko Bapak dari perempuan yang datang ke toko kemarin yang kualitasnya bagus, makanya Mas Fakhri ambil di sana."


Aku mencoba mengingat nama Mita, siapa sih? Sepertinya aku familiar dengan nama itu, dulu sewaktu pertama bertemu Mas Fakhri dan mulai untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius Mas Fakhri pernah bercerita soal masa lalunya.


Tapi apa dan siapa perempuan bernama Mita itu? Aku berhenti berpikir saat Habib merengek sambil mengucek kedua matanya dengan punggung tangan.


Sepertinya Habib sudah mengantuk, aku menyudahi saja keingintahuan ini sementara waktu.


"Ya sudah, makasih informasinya ya, Jon. Nanti kalau ada informasi lain jangan lupa beritahu Mbak."


"Iya, Mbak. Beres, pasti Jono bakalan dukung Mbak, soalnya cuma Mbak Auren yang bisa bikin Bos Mas Fakhri jadi gak pelit lagi," ucap Jono sambil terkekeh.


Aku hanya tersenyum tipis, Jono lalu masuk ke dalam mobil dan berpamitan untuk berangkat ke toko.


"Aduh, duh, anak Ibu ngantuk ya, ayo kita bobo dulu."


Aku membawa Habib masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar setelah membereskan piring bekas makan Habib tadi.


Anak pintar, sudah kenyang makan minta bobo dia.


...****************...


"Istirahat dulu, Bu. Ibu pasti capek," ucapku pada mertuaku.


"Enggak capek kok, malah Ibu senang, udah lama enggak main ke sini, udah kangen sama cucu Ibu," ucap Ibu mertua.


Aku mengangguk, lalu meminta Ibu untuk minum dan mencicipi makanan ringan yang tersedia di rumah.


"Habib baru saja tidur, Bu. Tadi baru selesai makan, bangun jam lima pagi dia tadi, makanya jam segini dah bobo lagi."


Ibu mertua terlihat senang mendengar ucapanku soal Habib, lalu memintaku duduk untuk berbincang-bincang.


Lalu aku mulai melancarkan pertanyaan tentang perempuan di masa lalu Mas Fakhri, benarkah bernama Mita pula?


"Bu, sewaktu belum bersama dengan Auren, siapa perempuan terakhir yang Mas Fakhri pacari?"


Ibu mertua terlihat mengerutkan kening, mungkin karena selama beberapa tahun mengenalku selama berpacaran dengan Mas Fakhri dan kini telah menjadi istrinya, aku sama sekali tidak pernah bertanya mengenai masa lalu Mas Fakhri pada Ibu mertua.


Terkecuali saat Mas Fakhri dengan sendirinya menceritakan masa lalunya.


"Kenapa, enggak ada angin, enggak ada hujan tiba-tiba tanya begitu, Nak?" tanya Ibu penasaran.


Aku hanya bisa tertawa, takut membuat Ibu mertua curiga. Jangan sampai Ibu mertua tahu sebelum aku bisa membereskan perempuan yang terus menerus mengganggu Mas Fakhri meskipun sudah dicueki Mas Fakhri.


"Enggak ada apa-apa kok, Bu. Aku hanya ingin bertanya saja, lagian pengen saja bercerita tentang Mas Fakhri bersama Ibu, kan sudah lama kita enggak bisa cerita bersama Bu," ucapku berusaha meyakinkan Ibu mertua yang menatapku curiga.

__ADS_1


"Bener enggak ada apa-apa? Takutnya ada wanita di masa lalu Fakhri yang datang kembali, mengingat kini Fakhri yang sudah mulai sukses dalam usahanya," ucap Ibu mertua.


Mendengar itu, aku jadi tertohok. Benar juga sebenarnya, hanya saja aku harus bermain cantik dan rapi karena jika bermain bar-bar hal itu hanya akan mempermalukanku sendiri,


"Enggak kok, Bu. Mana berani Mas Fakhri berbuat begitu," ucapku sambil menambahkan kata semoga di dalam hati.


"Ya sudah, sini, dekat Ibu, akan Ibu ceritakan wanita terakhir yang membuat Ibu pusing karena tingkahnya yang membuat Ibu kelimpungan."


Aku menurut, mendekat dan duduk di dekat Ibu mertuaku.


Ibu mertua bercerita, setelah Rafi Ayah mertua mengundurkan diri dari perusaan om David, dia dengan Ayu ibu mertua membuat bisnis sendiri dan kala itu, saat di titik masa ekonomi keluarga sedang anjlok dan Fakhri yang saat itu masih merintis usaha berdagang kecil-kecilan.


Saat itu Ayah mertua memang sedang pusing karena bisnisnya sedang mengalami kemunduran, Mas Fakhri sedang berpacaran dengan seorang wanita yang begitu cantik fisiknya.


Hanya saja, Ibu mertua tidak begitu suka dengan wanita yang akan dipersunting beberapa bulan yang akan mendatang.


Namun belum sempat melamar, perempuan itu sudah lebih dulu pergi bersama laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih mapan dari Fakhri.


Fakhri yang merasa terpukul, menjadi laki-laki yang begitu pelit saat mengeluarkan uang dan begitu perhitungan padahal sifat itu sudah di wanti-wanti agar tak sampai tertular. Hal itu terjadi karena obsesinya yang ingin cepat kaya supaya bisa dia tunjukkan pada perempuan yang menghianati Fakhri bahwa dia bisa sukses juga.


Aku tertegun.


Ternyata itu alasan Mas Fakhri dulu begitu pelit meski terhadap istrinya sendiri.


"Sayang, Nak. Ibu beruntung saat Fakhri bisa jatuh cinta padamu, saat itu banyak perempuan yang menolak Fakhri karena dia yang terkenal pelit, dan Ibu benar-benar bersyukur kamu bisa merubah sifatnya itu, lihatlah sekarang, kalian bisa membangun rumah, memiliki toko yang berkembang semakin besar," ucap Ibu mertua dengan air mata yang berlinang.


Aku mengusap bahu Ibu mertua, tidak menyangka begitu rumit kisah cinta Mas Fakhri dulu. Pantas saja, mungkin Mas Fakhri trauma karena di saat miskin dia ditinggal pergi pacarnya dengan orang lain.


Pasti begitu sakit, ah, aku jadi kangen Mas Fakhri.


Setelah Ibu mertua tenang, aku berusaha menanyakan siapa perempuan itu.


"Lalu, Bu. Siapa nama perempuan itu?"


Kilatan emosi terlihat di wajah Ibu mertuaku, mungkin sebagai seorang Ibu, Ibu mertuaku merasa terpukul akan perubahan Mas Fakhri dulu saat ditinggal pergi oleh pacarnya dan hal itu masih berlanjut saat penolakan harus diterima Mas Fakhri karena sifat pelitnya.


Tentu saja, hal itu membuat sakit hati Ibu mertuaku.


"Perempuan itu, bernama Swastamita, ya, Mita."


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih

__ADS_1


__ADS_2