Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
SEBUAH KEJUTAN


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan tenang, lega rasanya saat Mita tidak lagi menganggu keluargaku.


Habib semakin hari semakin lincah dan lucu, aku pun semakin senang menyenangkan Mas Fakhri, segala masakan enak aku coba masak untuk mengenyangkan perut Mas Fakhri.


Sesekali di hari Minggu, keluarga kecil ini akan pergi jalan-jalan bersama, menikmati indahnya keberhasilan yang sudah kami rasakan.


Mita?


Aku sama sekali tidak tahu kabarnya, yang kudengar kini tengah menjalani masa persidangan perceraiannya.


Mas Fakhri pun, masih dengan baik hati menawarkan kerja sama pada Pak Bambang, membantu untuk Pak Bambang bisa dengan cepat mencicil uang yang dulu diberikan Johan untuk modal usaha Pak Bambang.


"Dek, kemeja putih biru Mas di mana, ya?" tanya Mas Fakhri yang masih mengenakan handuk di pingangnya.


"Ck kebiasaan deh, Mas. Pakai celana dulu kan, bisa. baju kemeja ya di dalam lemari, tempat biasa adek narok." Aku berucap sambil berkacak pinggang.


"Enggak ada, Dek. Udah Mas cari tadi," ucap Mas Fakhri masih kekeuh.


"Masa, sih, awas ya kalau nanti ada di lemari bajunya, gak aku kasih jatah selama seminggu," ucapku sedikit sebal karena Mas Fakhri yang tidak bisa menemukan barang-barang yang jelas-jelas aku simpan di tempat biasa tanpa pernah aku ubah tata letaknya.


Aku membuka lemari, lantas langsung bisa menemukan kemeja putih biru milik Mas Fakhri di tumpukan baju paling bawah nomor dua.


"Ini apa, Mas?" tanyaku sambil menunjukkan baju kemeja yang tengah dicari Mas Fakhri.


Mas Fakhri hanya bisa tertawa.


"Eh, ketemu ya, makasih Dek, Mas tanpa Adek tuh gak ada apa-apanya tahu," ucap Mas Fakhri sambil mengedipkan sebelah matanya genit.


Aku hanya bisa geleng kepala.


"Dasar, enggak ada jatah selama satu minggu kalau begitu," ucapku sambil melipir ke tumpukan baju kotor yang belum dicuci.


"Yah, Dek. Kok gitu, gak bisa dong." Suara protesan Mas Fakhri terdengar kecewa dan tidak terima.


Aku hanya mengedikkan bahu acuh, lucu rasanya bisa mengerjai Mas Fakhri.


Kutahan tawa sekuat tenaga, melihat Mas Fakhri yang kini berwajah cemberut sambil berdiri di dekat mesin cuci.


"Ngapain, sih, Mas. Adek mau nyuci loh." Aku jengah juga lama-lama melihat wajah merajuk Mas Fakhri.


"Pokoknya batalin ucapan enggak ada jatah selama satu minggu," ucap Mas Fakhri.


Aku akhirnya tidak tahan juga untuk tidak tertawa, Mas Fakhri malah semakin memasang wajah masam.

__ADS_1


Astaga, Mas.


"Ish, Mas. Adek tuh cuma bercanda, ya. Sudah sana berangkat kerja, sarapan dulu," ucapku memerintah Mas Fakhri untuk segera berangkat kerja.


"Iya, Adek sayang, Sebentar lagi, temenin Mas sarapan dong, nyucinya tinggal dulu," pinta Mas Fakhri manja.


Ada-ada saja kelakuanan Mas Fakhri kini, terkadang membuatku merasa memiliki dua bayi di dalam rumah, iya, Habib dan juga bayi besar Ayahnya.


"Ya sudah, ayo sarapan dulu, setelah itu, Mas harus berangkat kerja, yang semangat kerjanya, adek udah masakin makanan enak untuk Mas setiap hari, supaya Mas kerjanya semangat," ucapku pada Mas Fakhri.


"Oke, siap Bu Bos, siap laksanakan, ayo buruan."


Mas Fakhri mendorong lembut tubuhku dari belakang menuju meja makan yang sudah tersedia banyak lauk dan sayur serta nasi yang masih panas.


Saat tundung makan di buka, Mas Fakhri memandang masakanku dengan mata yang mendamba ingin segera menyantap semua makanan yang ada di meja.


"Duduk dulu, Mas. Baru makan, jangan tergesa-gesa ambil nasinya, sini biar adek saja yang ambilkan nasinya. Mas tuh suka kebiasaan buru-buru kalau lapar," ucapku sambil mengambilkan nasi serta lauk dan sayur ke dalam piring Mas Fakhri.


Sayur pakis muda atau yang biasa disebut tumbuhan paku itu adalah sayur kesukaannya Mas Fakhri sejak dulu, kuah santan yang dicampur dengan cabai merah giling membuat nafsu makan Mas Fakhri terlihat meledak-ledak.


Ikan tongkol yang aku goreng, serta ada ikan nila pepes juga amat sangat di sukai Mas Fakhri.


"Wah, terima kasih ya, Dek. Mas senang sekali di manja begini, bisa-bisa Mas gemuk lama-kelamaan," ucapnya sambil terkekeh.


"Aish, Mas mah bisa aja, adek sejak dulu kan memang sudah pintar masak, makanya Mas cinta." Aku berucap percaya diri.


Hari ini Mas Fakhri pulang sedikit terlambat dari biasanya, aku mengerut heran saat tidak ada satu pun pesan yang di kirim Mas Fakhri padaku.


Biasanya jika hendak pulang, Mas Fakhri dan Jono memang pulang terakhir dari yang lain.


Karena biasanya, Mas Fakhri dan Jono memastikan seluruh barang berada di tempat yang aman dan semua pintu di dalam toko terkunci serta toko yang tergembok sempurna.


Tapi... sudah jam sepuluh malam Mas Fakhri belum juga pulang, motor Jono juga tidak terdengar memasuki pelataran rumah untuk memberikan kunci mobil pick up yang biasanya selalu dipakai untuk mengantar barang.


Habib pula malam ini sedikit rewel, Ibu yang sejak tadi membantuku menenangkan Habib tidak bisa juga membuat anakku berhenti menangis, biasanya jika Habib menangis histeris hingga sesegukan, Mas Fakhrilah yang menggendong.


"Suamimu belum pulang juga, Nduk?" tanya Ibu yang juga terlihat khawatir.


Mungkin Ibu juga takut terjadi apa-apa pada Mas Fakhri, Jono pula tak kunjung kelihatan batang hidungnya.


''Belum, Bu. Enggak biasanya kalau Mas Fakhri pulang larut malam enggak telepon aku, Bu," ucapku pada Ibu.


"Coba kamu telepon, siapa tahu sekarang sudah di jalan mau pulang, Ibu merasa enggak enak ini," ucap Ibu.

__ADS_1


Aku pun sama, perasaan tidak enak sejak saat Mas Fakhri akan berangkat kerja aku abaikan saja.


Karena aku merasa tidak akan ada apa-apa, seminggu ini semuanya tenang dan tidak ada gangguan-gangguan yang berarti.


Mas Fakhri selalu pulang tepat waktu, dan selalu lancar berkomunikasi setiap akan pergi ke luar kota atau jika pulang larut malam.


"Sudah Auren telepon, Bu. Tapi nomor Mas Fakhri enggak aktif."


Gurat kecemasan semakin terlihat di wajah Ibu, begitu pula denganku yang kini mulai merasakan debaran takut pada jantungku.


Ibu masih berusaha menenangkan Habib yang belum berhenti menangis, sesekali tangan Habib menunjuk pintu.


Aku sedikit heran dengan hal itu, tapi karena panik tidak mendapat kabar dari Mas Fakhri membuatku mengabaikan tingkah aneh Habib.


"Ya ampun Mas, kamu di mana sih?"


Aku mengambil alih Habib dari gendongan Ibu karena Habib semakin menangis histeris.


Kupeluk anakku itu dengan sayang, lalu kususui sambil berdiri karena aku yang tidak tenang.


Tidak lama kemudian suara ponselku berbunyi, dengan cepat kurogoh ponsel yang ada di saku celanaku.


Ah, nomor Mas Fakhri, akhirnya Mas Fakhri kirim chat juga akhirnya.


Aku baru saja hendak bersuara mengatakan pada Ibu jika Mas Fakhri telah mengabariku saat tidak sengaja pesan itu tepencet dan terbuka.


Deg.


Apa ini?


Aku menatap tidak percaya pada apa yang tengah kulihat ini.


Foto dua sosok manusia yang sama-sama tidak mengenakan busana setengah badan karena tertutup selimut membuatku terbelalak.


Mas Fakhri dan Mita.


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya

__ADS_1


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih


__ADS_2