
Aku masih menunjukkan wajah masam, bahkan saat Mas Fakhri sudah duduk di kursi tempat biasa Mas Fakhri mengisi buku kas hasil penjualan.
"Sini, Dek. Kenapa malah berdiri aja," pinta Mas Fakhri.
Aku hanya diam saja, malas melihat Mas Fakhri yang enggak peka sama sekali.
"Beneran mau berdiri aja, kalo capek duduk aja, Dek. Mas mau lanjut nulis kas harian pendapatan toko," ucapnya kembali fokus menulis.
Aku menggeram gregetan dalam hati.
Ampun, Mas! Dirayu sedikit kenapa istrinya, rela-rela aku ke sini ngebut luar biasa sampai-sampai aku merasa jadi pembalak terkenal yang kalau pakai motor miring kanan kiri sampai terlihat seperti jatuh.
"Enak ya, Mas. Dipegang-pegang sama cewek cantik!" Aku menyindir Mas Fakhri.
Kesal! Kesal! Kesal! Kalau kini aku bisa nelan manusia, sudah pasti Mas Fakhri orang pertama yang aku telan.
Mas Fakhri hanya melihatku sekilas, lalu lanjut menulis sambil menjawab sindiranku itu.
"Yah, enak enggak enak lah, Dek. Lagian enaknya apa dipegang perempuan yang bukan istri sendiri, tadi kebetulan saja Mita tiba-tiba gandengan tangan Mas, ya gak sempat ngelak, itu bisa dibilang beruntung memangnya?"
Mendengar jawaban santai Mas Fakhri, aku mendekat lalu memukul bahunya dengan buku nota yang ada di meja.
"Aduh! Dek, sakit, kekerasan rumah tangga ini namanya!" Mas Fakhri menjerit saat aku yang masih dengan semangat memukuli bahunya.
"Oh, jadi senengnya Dipegang-pegang istri orang!"
Mas Fakhri mengelak, lalu tangannya memblokir kedua tanganku dengan satu tangannya saja.
Lalu... cup.
Wajahku seketika memerah, astaga Mas Fakhri!
"Mas! Ish, apa-apa sih, kayak anak ABG aja!"
Aku berteriak, namun tidak terlalu kencang, karena masih berpikir di luar ada Jono dan para karyawan Mas Fakhri yang mungkin sudah datang ke toko.
"Loh, kenapa, cium istri sendiri masa enggak boleh, kan, jatuhnya jadi pahala," ucap Mas Fakhri santai.
Aku hanya bisa terdiam, secara tiba-tiba Mas Fakhri mencium pipi yang mungkin nyaris mendekati sudut bibirku.
Ugh! Aku jadi merasa seperti kembali awal berpacaran dengan Mas Fakhri, meski dulu enggak sampai ada adegan manis cium begini.
"Tau ah, adek mau pulang, kasihan Habib ditinggal lama-lama," ucapku pada akhirnya.
"Mas anterin, ya?"
Aku hanya mengangguk saja, ternyata amarahku hanya sampai di sini saja, sudah dapat kecupan sayang. Marahnya reda.
Halah! Benar-benar jual murah sekali amarah ini.
"Ya sudah, tunggu sebentar, Mas bereskan buku-buku ini dulu, lalu baru antar Adek pulang ke rumah."
__ADS_1
Aku menunggu Mas Fakhri membereskan buku-buku kas bulanan, maupun harian di toko.
Mas Fakhri termasuk orang yang teliti, setiap uang yang masuk harus dicatat untuk meminimalisir kecurangan yang ada di dalam toko.
"Ayo," ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Aku keluar dari ruangan bergandengan tangan dengan Mas Fakhri, malu sebenarnya, saat aku dan Mas Fakhri jadi pusat perhatian karyawan toko dan juga Jono yang sudah memasang wajah mesem-mesem gak jelas.
"Mau pulang, Bos?" tanya salah satu karyawan yang aku ingat bernama Toni.
"Iya, mau anterin istri pulang, jaga toko yang benar, semuanya sudah tahu kan, harga-harga semua barang yang dijual?"
"Iya, Mas sudah. Silahkan antar istrinya dengan tenang. Bos. Hati-hati di jalan."
"Iya, Ton. Ayo Dek, kita pulang."
"Eh, pinjam helm Jono!"
"Iya, Bang, pinjam saja.”
Aku hanya diam dan mengamati interaksi Mas Fakhri bersama para karyawannya, meski tidak hobi bercanda berkebihan setidaknya Mas Fakhri bukan tipe Bos yang kaku.
"Ayo, Dek. Kita pulang."
Aku dan Mas Fakhri menaiki motor matic yang tadi kubawa untuk mengebut sampai ke toko supaya bisa mengusir perempuan tidak tahu malu itu.
Sampai di rumah aku turun sambil membawa bungkusan plastik berisi martabak manis dan juga martabak telur bebek kesukaan ibuku.
Sangat berbeda sekali dengan Mas Fakhri yang dulu, yang jika pergi keluar yang dibeli hanya gorengan seharga sepuluh ribu atau paling tidak kerupuk yang satu bal harganya enam ribu rupiah.
"Mas enggak masuk dulu?" tanyaku saat sudah turun dari motor.
"Enggak usah, Mas langsung ke toko lagi saja, motornya pulang nanti Mas minta Toni yang antarkan ke rumah, ya Dek."
"Iya, Mas, terserah Mas saja. Adek masuk dulu, ya, Mas."
"Sebentar, Dek. Nah, hape Mas Adek saja yang pegang, supaya Adek percaya, Mas gak akan macam-macam dengan Mita itu, meskipun dulu pernah jadi wanita yang hampir jadi istri Mas di masa lalu," ucap Mas Fakhri sambil menyodorkan poselnya padaku.
"Terserah mau Adek apakan semua chat-chat dari Mita," ucap Mas Fakhri lagi.
Ah, aku spechles rasanya.
Kuambil ponsel di tangan Mas Fakhri, lalu dengan wajah malu-malu, aku mengecup pipi Mas Fakhri cepat.
Lalu sebelum Mas Fakhri kembali bersuara, aku lebih dulu kabur masuk ke dalam rumah. Memanggil anak laki-lakiku tersayang itu.
Fiuh, pengantin lama rasa pengantin baru ini namanya.
Aku geleng-geleng kepala sendiri saat menyadari tingkah konyol dan pikiran ngawurku tadi.
"Makasih loh, hadiah semangatnya tadi!"
__ADS_1
Aku mengulum senyum saat mendengar teriakan Mas Fakhri dari teras depan sebelum kemudian suara motor berbunyi dan pergi meninggalkan teras.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar, terlihat ibuku yang sedang asyik bermain bersama Habib di atas kasur.
"Baru pulang, Nduk?" tanya Ibu yang sudah menyadari kadatanganku.
"Sudah, Buk. Auren belikan martabak buat Ibu, bentar ya, buk. Auren ambil piring dulu ke dapur."
"Iya, Nduk."
Aku menuju dapur untuk mengambil piring, lalu meletakkan potongan-potongan martabak manis, lalu martabak telur dengan kuah yang kupisah dalam wadah mangkuk kecil.
"Di makan dulu martabaknya, Bu. Auren beli martabak kesukaan Ibu."
"Aduh, kok yo repot-repot toh."
"Enggak apa-apa toh, Bu. Mumpung Ibu di sini."
Aku makan martabak manis sedangkan Ibu memakan martabak telur, sedang asyiknya makan suara dering ponsel di saku baju milikku berbunyi.
Hape Mas Fakhri.
Aku mengerutkan kening, jangan-jangan chat dari si Mita. Wah jika benar berarti belum juga kapok dia.
Kubuka ponsel dengan penasaran, benar saja. Baru juga beberapa menit berlalu dari kejadian tadi, perempuan itu sudah kembali chat Mas Fakhri.
[Mas, kamu jangan mau hidup sama perempuan kayak gitu, ampun deh. Udah jelek, gendut belagu lagi ga ada cantik cantiknya sama sekali. Mendingan aku ke mana-mana Mas.]
Wah, nantangin Mita ini, enggak tau saja dia gimana cantiknya aku zaman masih gadis dulu.
Sekarang pun, meski sudah memiliki anak, aku tetap memiliki berat badan tidak jauh dari waktu masih gadis.
Dengan rasa kesal luar biasa, aku membalas pesan Mita.
[Percuma cantik kalau cuma di manfaatkan untuk menggoda laki-laki yang sudah beristri.]
Send.
Aku menepuk tangan seperti sedang membereskan debu, lalu menatap puas pada chat yang kukirim tadi.
Masih belum kapok? Maka akan aku buat kamu kapok mendekati Mas Fakhri, Mita!
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
Terima kasih🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih