
Kemarin, rasanya begitu bahagia, saat bisa jalan bersama Mas Fakhri dan buah hati kami tercinta.
Baju couple yang manis, juga Mas Fakhri yang romantis, sungguh serasa bagaikan mimpi, aku rasanya ingin menampar diri sendiri jika betul itu mimpi.
Tapi ternyata, itu semua nyata, dan Mas Fakhri memang telah berubah sangat jauh dari yang dulu.
Suara denting hape yang terus menerus berbunyi membuatku tersadar dari hayalan manis yang baru kemarin aku rasakan.
"Ck, pasti dari si Mita, deh. Heran, udah dikasih foto mesra keluarga bahagia, masih aja ngeyel! Jengkel lama-kelamaan."
Tanpa berniat ingin membalas, aku hanya melihat chat via whatsappnya yang terlihat menampilkan begitu banyak emot marah dan capclok yang jebol.
Aku terkikik, lucu sekali membuat Mita kelabakan seperti ini.
[Jangan sombong kamu, Auren! Aku bakal rebut Fakhri dari kamu, camkan itu!]
Aku hanya membacanya saja, lalu menghapus chat yang hanya akan membuatku emosi.
Ting.
"Siapa lagi, sih. Ganggu orang lagi nidurin Habib," keluhku kesal.
Eh, ternyata pesan dari Ibu Mertuaku. [Ren, Ibu mau ke rumah nanti.]
Aku dengan cepat membalas pesan mertuaku itu.
[Iya, Bu.]
Habib menyusu sambil memejamkan matanya, anakku ini memang masih gemar tidur, bangun jam empat pagi, lalu mandi jam setengah enam pagi, biasanya aku masak sambil menyambinya di baby car sheat.
Jika sedang anteng, biasanya aku selesai membereskan rumah jam tujuh pagi.
"Assalamualaikum."
Aku bergegas ke depan, mungkin Ibu mertua yang datang.
Saat membuka pintu, betapa terkejutnya aku melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu dengan seorang laki-laki paruh baya bersamanya.
"Maaf, ada perlu apa, ya?" tanyaku berusaha dengan nada santai.
"Ya mau baha-"
"Mita!"
Suara laki-laki paruh baya itu memotong ucapan Mita, aku hanya menatap mereka dan belum mempersilakan masuk jika belum jelas apa keperluannya, mengingat Mita yang bisa saja melakukan apapun untuk merebut Mas Fakhri.
"Begini Bu, perkenalkan, saya Bambang, pemilik toko barang kaca yang ingin berkerja sama dengan toko milik Pak Fakhri, karena beberapa minggu yang lalu, Pak Fakhri sempat mengajak kami untuk bekerja sama," ucap Pak Bambang.
Aku mengangguk paham, lalu mempersilakan Pak Bambang untuk masuk.
Saat Mita akan masuk, aku sedikit menahannya.
"Mau kemana?" tanyaku heran.
"Ya mau masuklah, Mas Fakhri ada di rumah kan, makanya aku sama Ayah datang ke sini," ucap Mita dengan nada bangga.
__ADS_1
Aku berdecak sebal, tentu saja aku belum memintanya untuk masuk.
"Urusannya apa Ayah kamu ke sini dan kamu ikut?"
Mita kini memasang wajah masam, badannya hendak menerobos masuk ke dalam rumah ketika suara Ayah Mita menginterupsi anaknya.
"Mita! yang sopan. Lagian kenapa kamu ikut segala, ini kan, bukan urusan kamu." Ayah Mita berkacak pinggang.
Aku tertawa dalam hati, sukurin. Emang enak di marah ayahnya sendiri.
Aduh duh. Kasihan sekali Mita, ayahnya sendiri tidak membela.
Karena tidak ingin ada keributan di rumah, aku pun akhirnya menyuruhnya masuk. Kasihan juga kalau dibiarkan berdiri di depan pintu nanti yang ada dia dikerubutin lalat hijau, sekaligus aku menghormati Pak Bambang Ayah Mita.
"Silahkan duduk dulu, Pak. Biar saya buatkan minuman dulu," ucapku lalu berlalu ke belakang.
Dering hape yang berbunyi membuatku bergegas mengaduk minuman.
"Rasakan kamu Mita, minum nih teh asin," ucapku sambil cekikikan.
Baru setelah itu, aku menganggkat panggilan yang ternyata dari Mas Fakhri.
"Halo, Dek. Pak Bambang hari ini ke rumah?"
"Iya, Mas. Sama Mita juga, gak tau kenapa dia ikut ke sini juga." Aku mengadu kesal.
"Ya sudah, biarkan saja. Nanti Mas secepatnya pulang, barang yang perlu diambil di gudang besar sudah sampai di toko kita, jadi Mas bisa segera ke rumah."
"Iya, Mas. Cepet ya, adek tunggu lagian Ibumu juga mau ke rumah, Mas."
"Eh, masa? Ada si Mita juga di rumah sekarang?"
Mas Fakhri terdengar berdecak di sana, aku hanya tertawa.
"Sudah dulu, Mas. Adek mau anter minum dulu ke depan," ucapku mengakhiri panggilan.
Aku mengantarkan minuman ke depan, lalu menyuguhkannya pada kedua tamuku ini.
"Silakan diminum Pak, Mita," ucapku sambil tersenyum manis, meski rasanya empet melihat wajah Mita yang matanya kini jelalatan memindai sekeliling rumah dengan ganas.
Tidak lama setelah aku duduk dengan Mita yang kini wajahnya memerah setelah menelan teh yang kubuat, terdengar suara mobil Ibu mertua ya datang.
Wah, benar-benar bakalan terjadi adegan besar ini nanti.
Jaga-jaga, aku bisa segera berlari menggendong Habib yang tidur di kamar jika suara Ibu mertuaku mulai menggelegar.
"Asalamualaikum, Habib, nenek datang!"
Suara Ibu mertua terdengar lebih jelas saat kini telah masuk ke dalam ruang tamu, namun matanya sukses terbelakak saat melihat siapa yang duduk di kursi ruang tamu anak mantunya kini.
"Heh! Ngapain kau di sini?" tanya Ibu mertua yang kini terlihat galak.
Aku berusaha menenangkan Ibu mertua dulu, tidak enak pada Pak Bambang yang sudah mulai gelisah.
"Bu, bu, sudah, duduk dulu." Aku menuntun Ibu mertua untuk duduk di kursi.
__ADS_1
Kursi yang malah kini berhadapan langsung dengan Mita, wajah Mita terlihat menciut melihat Ibu mertua yang malah semakin memasang wajah ingin menelan Mita bulat-bulat saat ini juga.
"Maaf, Bu sebelumnya, saya minta maaf jika kehadiran anak saya membuat kalian tidak nyaman, saya minta maaf," ucap Pak Bambang dengan wajah terlihat bersalah.
Aku kasihan tentu saja, tetapi anaknya ini tidak tahu malu membuat ayahnya sendiri meminta maaf seperti ini.
Tidakkah Mita merasa bahwa kehadirannya di sini hanya merusak suasana?
Meski sempat berwajah gugup, kini Mita terlihat sudah menguasai dirinya lagi.
"Ayah, apa sih, aku dan Ayah kan tamu, ya wajarlah datang ke sini, lagian kita kan tamunya Mas Fakhri, jadi gak ada hubungannya sama Ibu Ayu yang terhormat."
Pak Bambang menoleh pada anaknya, terlihat akan memprotes ucapan Mita saat suara menggelegar mertuaku membuatku terkejut.
"Wah, wah, wah! Tentu saja ada masalahnya denganku ini, tak pantaslah wanita yang dulu pernah jadi mantan anak saya datang kemari, terlarang! Karena ibu tidak tahu kamu akan bertandang ke sini, sudah pasti tadi ibu akan meminta mantuku tersayang ini menyemprotkan obat hama di sofanya, siapa tahu hamanya terpental keluar sendiri," ucap Ibu mertua.
Aku mengusap-usap lembut bahu Ibu mertua, berperan layaknya wanita tersakiti dengan hadirnya si Mita wanita masa lalu Mas Fakhri.
"Hama ini tidak tahu malu datang setelah dulu sudah merusak tanaman yang elok meski tidak di dalam pot mewah saat menanamnya," ucap Ibu mertua menyindir Mita.
Wajah Mita terlihat merah padam, lalu mulutnya terlihat komat-kamit.
"Gak usah lebay deh, Bu. Lagian kami ke sini bukan mau ketemu Ibu, iya kan Ayah?"
"Lagian kenapa kalau aku ke sini? Ibu takut Mas Fakhri berpaling lagi sama aku, tenang saja, calon Ibu mertua sayang, sudah pasti Mas Fakhri akan kembali ke sisiku.
Pak Bambang yang mendengar itu lantas membelalakkan matanya, tidak percaya mungkin dengan ucapan anaknya yang secara terang-terangan menginginkan suami orang meski tahu dirinya masih berstatus istri orang.
"Mita! Jangan kurang ajar kamu di rumah orang, seperti wanita tidak bermoral saja!"
Ibu mertua dengan senang hati menampilkan wajah sinisnya lalu kembali bersuara dengan kata-kata yang tajam dan menusuk.
"Memang wanita tidak bermoral, syukur saja Fakhri tidak jadi menikah dengan wanita sepertimu, bisa saja jika kamu yang jadi istri Fakhri, hidupnya malah berakhir jadi belangsak!"
Mita melotot dan hendak berdiri untuk mendorong Ibu mertuaku, saat dengan sigap tangan ini lebih dulu mendorong Mita hingga terjungkal duduk kembali di sofa.
Ayah Mita hanya bisa geleng kepala, mungkin malu melihat anaknya yang dulu pernah dekat dengan Mas Fakhri kini bersikap tidak merasa bersalah, seolah-olah saat meninggalkan Mas Fakhri dengan sebuah penghianatan adalah hal yang wajar.
"Mita! Lebih baik kamu pulang saja, Ayah ingin membahas kerja sama! Bukan untuk membuat keributan atas masa lalu yang sudah kamu lakukan dulu. Urus saja suamimu sana, pulang ke rumah," ucap Pak Bambang sambil menarik tangan Mita.
Lalu Pak Bambang menarik Mita sampai di pintu, Mas Fakhri telah berdiri di ambang pintu dengan dahi yang berkerut dan pandangan yang kentara tidak suka.
Astaga! Pusing sudah kepalaku melihat ini.
Sungguh Mita nekat sekali menjadi tamu istimewa di rumah kami, tunggu sajalah apa yang akan terjadi, aku yakin kali ini pembahasan kerja sama yang akan terganti dengan obrolan panas yang belum selesai di masa lalu dulu.
Entahlah, aku hanya ingin semua ini cepat selesai, dan Mita tidak lagi mengganggu keluarga kami.
# bersambung
jangan lupa sedekahnya ya para reader
👇
Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya
__ADS_1
Terima kasih🙏🙏
Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih