Suamiku Yang Pelit

Suamiku Yang Pelit
SOSOK MITA


__ADS_3

Aku baru saja selesai sarapan pagi saat suara dering telepon berbunyi, kulihat siapa yang pagi-pagi sudah menelepon.


Ternyata Jono, tumben sekali.


Karena penasaran, aku mengangkat telepon dari Jono.


"Mbak, gawat, Mbak. Itu loh, perempuan yang namanya Mita ke toko lagi, Mbak pagi-pagi sekali, bahkan kami baru buka toko.


Aku mengembuskan napas kesal.


Mita lagi, Mita lagi. Lagi-lagi Mita.


Lama-kelamaan aku bisa bosan dengar nama wanita itu, kalau belum dihadapi sepertinya belum akan kapok dia.


"Beneran, Jon. Sekarang dia masih di sana? Biar Mbak nyusul Mas Fakhri ke toko," ucapku pada Jono.


"Oke, Mbak. Siap, aku yang akan pantau Mas Fakhri sementara di sini, menunggu Mbak datang."


Lalu telepon tertutup.


Semalam, ibuku menginap karena sudah lama tidak berkunjung menjenguk cucunya itu, mumpung ada Ibu, aku bisa titip Habib pada Ibu sebentar sebelum mendatangi Mita.


"Bu?"


"Iya, Nduk. Kenapa to?" tanya Ibu yang sedang asyik main bersama cucunya.


"Aku mau nyusulin Mas Fakhri ke toko dulu, ada barangnya yang ketinggalan, mau Auren antarkan dulu ya, Bu."


"Oh, ngono to. Ya sudah, antarkan cepat, siapa tahu barangnya penting itu."


Aku mengangguk, lalu melesat dengan cepat, mengganti pakaian dengan rapi, lalu sedikit berdandan untuk membuat Mita sedikit terintimidasi dengan kecantikanku yang mirip Auren Hermansyah, eh.


Setelah siap, aku segera tancap gas ke toko, mengendarai motor matic yang dulu biasa kupakai saat Habib belum lahir.


Kutitipkan Habib pada Mbahnya, maaf ya, Bu, aku sedang berjuang untuk membasmi kutu rumah tangga yang bernama Mita itu.


Beberapa menit kemudian, toko Mas Fakhri sudah terlihat. Dari jarak yang kini mulai mendekati toko, aku bisa melihat perempuan dengan dress pendek tanpa lengan, berdiri di samping Mas Fakhri sambil menggelayutkan tangannya di lengan suamiku.


Wah! Minta dihajar pelakor itu.


Dengan pacuan gas motor yang mulai kukurangi, kutekan klakson motor dengan kencang dan berulang kali saat motor sampai di dekat Mita dan Mas Fakhri.


...****************...


Mita baru saja turun dari grab saat melihat Fakhri yang sudah selesai membuka toko.


Perempuan langsing, berwajah putih akibat bedak yang di pakainya itu tersenyum-senyum senang.


Fakhri baru saja selesai membuka toko dan segala macam peralatan di toko yang tidak lagi di tempat karena ulah pembeli kemarin, namun Fakhri tidak kesal karena berkat pelanggan dia bisa menafkahi Auren dan anaknya.


"Mas!"


Mita memanggil Fakhri yang sedang membuka tokonya, Fakhri yang di datangi Mita sepagi ini hanya bisa mengembuskan napas berat.

__ADS_1


"Mau apa ke sini?" tanya Fakhri dengan wajah datar.


Mita tersenyum manis lantas tiba-tiba menggelayut manja di lengan Fakhri secara tiba-tiba, membuat Fakhri tidak bisa mengelak karena dia juga terkejut dengan gerakan Mita yang tiba-tiba.


Suara klakson motor berkali-kali membuat Fakhri menoleh, wajahnya pucat. Lalu dengan cepat dibentaknya kasar tangan Mita yang bergelayut manja di lengannya.


"Heh! Siapa sih, kurang kerjaan ya, sampai bunyiin klakson berkali-kali."


Aku hanya bisa tersenyum sinis mendengar ucapan Mita.


"Sory, Tante, klason motornya tadi rusak, makanya kupencet terus, gak usah sewot, yang lainnya aja enggak ada yang protes!"


Mita terlihat kesal.


Halah, bodo amatlah.


Kuhampiri Mas Fakhri dengan berjalan anggun dengan senyum yang tersungging manis, sengaja kutabrakkan sedikit bahu kami.


"Up! Gak sengaja, Tan. Minggir dikit, dong. Mau deket Mas Fakhri nih," ucapku dengan manja.


Mas Fakhri yang melihat tingkahku mengulum senyum. Ck, awas saja kamu, Mas. Mau-maunya dipegang-pegang Mita.


"Heh! Siapa sih kamu, gak sopan, ya. Manggil Tante segala, emangnya aku setua itu apa!"


Aku hanya mengedikkan bahu, lalu setelah sampai di dekat Mas Fakhri, kukecup pipinya mesra, lalu sekilas kulirik dari ekor mataku si Mita yang membelalakkan matanya.


"What! Cewe dari mana sih, ini. Heh! Main cium-cium aja, belum tahu ya kalau laki-laki yang kamu cium itu sudah punya istri, dasar kegatelan!"


Mita baru saja akan mendorongku saat suara Mas Fakhri melerai pertengkaran kami.


Mas Fakhri lalu menuntunku masuk ke dalam toko, hal itu tentu saja membuat Mita semakin terbakar api cemburu.


"Mas! Ngapain kamu malah bawa cewek gak jelas itu masuk ke dalam toko, hati-hati Mas. Bisa jadi dia pencuri yang mau curi barang kamu di toko!"


Astaga! Aku ingin tertawa rasanya, jangankan untuk mencuri toko, mencuri hati Mas Fakhri saja aku bisa dan mampu.


Mita mengekori Mas Fakhri dan aku masuk ke dalam toko, ya ampun. Hama satu ini bener-benar susah dibasmi, ya.


Lama-kelamaan aku jadi gregetan dekat Mita.


"Dek, ngapai ke toko, tumben? Ada barang Mas yang ketinggalan?" tanya Mas Fakhri mengabaikan Mita.


Jelas saja hal itu membuat wajah Mita semakin cemberut, dan aku bersorak dalam hati.


"Enggak apa-apa, Mas. Adek cuma ngecek aja takut di toko banyak hama yang susah dibasmi," ucapku menyindir Mita.


Mas Fakhri terlihat mengernyitkan kening, mungkin bingung karena aku membicarakan hama di toko.


"Mas Fakhri, ayo kita jalan, nanti sore aku tunggu ya, Ayah juga bilang mau bahas kerja sama dengan toko Mas tau," ucap Mita dengan nada suara yang dibuat-buat manja


Jijik.


Aku benar-benar ingin ******* habis perempuan di hadapanku ini.

__ADS_1


Tidak habis pikir, penampilan cantik, gaya modus kok bisa-bisanya godain suami orang.


Memangnya, stok perjaka di bumi sudah habis apa?


"Enggak bisa Mita. Kamu gak lihat istriku datang ke sini, lebih baik kamu pulang sana!" usir Mas Fakhri.


Aku tertawa puas. Sukurin.


"What!? Cewek ini istri kamu, Mas!"


Mita memperhatikan aku dari atas sampai bawah.


"Kamu enggak salah, Mas. Perempuan jadul begini yang jadi istri kamu!"


Aku melotot mendengar ucapan Mita, dasar cewek gila! Dandananmu itu yang kayak nenek lampir, bibir merah kayak gilingan cabe, muka penuh sama bedak dempul saja bangga.


"Sory, ya Tante. Enggak kebalik ya, kali Tante yang jadul, bibir merah kayak gilingan cabe aja bangga, masih kan kalah sama aku yang cuma pakai daster tiap harinya di rumah," ucapku memanas-manasi Mita.


Mas Fakhri terlihat memijit keningnya pelan, lalu menarik tanganku untuk mendekat pada Mas Fakhri.


"Mita, sudahlah. Jangan sampai kamu bikin aku emosi sekarang, lebih baik kamu pulang!"


Aku ikut takut saat suara keras Mas Fakhri terdengar menggelegar, sejak menikah meskipun dulu pelitnya minta ampun, Mas Fakhri tidak pernah bersuara kencang seperti kali ini.


Mungkin karena takut juga, Mita akhirnya mengalah untuk pulang.


"Oke, Mas. Oke, aku pulang, tapi aku gak akan nyerah. Aku yakin aku lebih baik dari istri kamu itu, Mas."


Lalu setelah mengatakan itu, Mita pergi meninggalkan toko.


Kalem.


Aku berusaha mengatur napas untuk meredakan emosi yang sejak tadi kutahan, untung saja aku tahan untuk tidak menggampar mulut lancang Mita, kalau tidak sudah habis dia di sini tadi.


"Dek, ayo masuk saja," ajak Mas Fakhri padaku.


Aku memasang wajah cemberut, lalu mengikuti Mas Fakhri masuk ke dalam toko.


Di dalam toko memang ada ruangan kusus untuk istirahat Mas Fakhri, Mas Fakhri mengajakku masuk ke dalam sana.


Masih dengan wajah cemberut, hais, Mas Fakhri! Adek marah karena Mas diam saja dipegang Mita tadi.


Ingin aku ucapkan kalimat itu, hanya saja gengsi karena nanti disangka aku cemburu.


Duh. Kenapa jadi ribet begini sih?


# bersambung


jangan lupa sedekahnya ya para reader


👇


Kasih like,coment, hadiah, dukungan, dan votenya ya para pembaca ter the bast. Biar Author semangat untuk nulisnya ceritanya

__ADS_1


Terima kasih🙏🙏


Jangan lupa follow ig Author @selvi_julianengsih


__ADS_2