SYAUQ

SYAUQ
Tertolak


__ADS_3

“Sedikit lagi, Qalbi. Berjinjitlah lebih tinggi,” perintah Syam yang langsung dituruti oleh sahabatnya itu. “Lebih tinggi lagi….. sedikit lagi...Dapat,” ucap Syam ketika ia akhirnya bisa berpegangan dinding milik Uqzy yang berfungsi sebagai jendela kamar gadis kecil itu.


Untuk beberapa saat, keheningan menghampiri mereka berdua. Cukup lama, bahkan bisa dikatakan beberapa menit telah berlalu, hingga membuat Qalbi bertanya-tanya.


“Apa yang terjadi Syam? Mengapa engkau hanya berdiam diri? Apa yang kau lihat?”


“Masyallah Qalbi, bahkan di tutupnya kelopak mata itu, wajah indahnya tidak memudar sama sekali,” puji Syam kepada gadis yang telihat di depan matanya tengah berbaring dengan begitu anggun. “Astagfirullah,” pekiknya ketika ia menyadari ada darah segar di tangan gadis itu mengalir lembut walaupun hanya sedikit bahkan tidak ada bandingannya terhadap tubuhnya saat ini karena ulah ayahnya.


Karena pekikan itu begitu kencang, seseorang dari balik pintu kamar pun segera masuk untuk memeriksa sesuatu yang terjadi. Ya, tampaklah seorang Ibunda Uqzy yang begitu pucat karena mengkhawatirkan anaknya yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.


“Apakah engkau pemuda yang bernama, Syam?” tanya lembut ibunda Uqzy dengan mendekati arah jendela. Tanpa bisa berkata, Syam pun hanya mengangguk pelan. “Bisakah kau pergi dari sini, sekarang? Dengan melihat wajahmu, kebencian ini membara kembali.”


“Untuk sebentar saja, ijinkan untuk memandangi rembulan tercantik itu,” sambil menunjuk gadis yang masih berbaring rapi.

__ADS_1


“Apakah kau tidak lihat? Putri tercintaku seperti ini karena ulah ayahmu!” bentak ibunda Uqzy. “Aku tidak membencimu, nak. Tapi, wajahmu membuatku mengingat seseorang yang menyakiti putriku dengan begitu jelas,” lanjutnya dengan nada kembali lembut. “Jadi, ku harap engkau mengerti dan segera kembali.”


Kupertaruhkan diriku untuk menemuimu


Tetapi, mengapa semua orang menyuruhku untuk berhenti?


Kalian, orang-orang, tidak mengerti!


Kekasihku ini adalah jiwa dan ragaku


Mendengar syair itu mengalir indah dari mulut pemuda kecil itu, hati Ibunda Uqzy mulai tergerak untuk menggapai bibir kecil penuh darah itu.


“Bagaimana bisa bibir yang mengalunkan syair indah ini mendapat begitu banyak luka?” lirih Ibunda Uqzy sambil membelai bibir pemuda di depannya.

__ADS_1


“Istriku,” panggil seseorang sambil membuka pintu kamar Uqzy. Seketika terkejutlah Ibunda Uqzy mendapati suaminya yang tiba-tiba mendatangi kamar anaknya. Dengan sigap, Ibunda Uqzy membelakangi Syam. Berusaha untuk menyembunyikan pemuda kecil itu.


“Pergilah nak, ini permohonan dari seorang ibu dari gadis yang amat kau cintai.”


Mendengar ucapan itu tentu membuat Syam tak berdaya. Ia pun memberi isyarat kepada Qalbi untuk menurunkannya tanpa ada suara sedikit pun. Di setiap langkah perjalanan pulangnya, Syam hanya menunduk dan membisu. Perilaku Syam membuat Qalbi khawatir, ia ingin bertanya, namun ia merasa bahwa sahabatnya itu tertolak karena tanpa sengaja ia mendengar bentakan dari ibunda Uqzy. Tanpa sadar, pemuda itu kini mulai mengeluarkan air matanya.


“Sakit," lirihnya.


“Bagian mana?” tanya Qalbi sambil mengecek setiap luka Syam satu persatu yang berada di tubuhnya. Mulai dari mata, pelipis, pipi, dagu, tangan bahkan sampai kaki.


“Disini.” Memegang dadanya.


“Apa maksudmu? Apakah ada luka di dadamu?” tanya Qalbi penuh kecemasan jika terjadi sesuatu buruk yang terjadi kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


“Disini, sungguh sakit, rasanya seperti tercabik-cabik oleh cakaran harimau. Tergores oleh duri tajam yang mematikan,” jelas Syam sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


__ADS_2