
Desir angin menyibakkan kain penutup jendela kedai pinggir kota Arab, seorang pemuda terlihat
sedang berbincang dengan Qalbi penuh keseriusan mengenai sebuah rencana untuk
dikerjakannya ketika waktu tiba. Ketika angin tanpa sengaja mengecup lembut pipinya, seketika ia bergumam, “Uqzy, Wahai kekasihku. Apakah engkau mengirim syair indah kepadaku malam ini? Apakah engkau juga memberikan kecupan manis melalui sang angin malam ini?”
Kerinduan
Hatiku hebat, Cintaku padamu luar biasa
Kerinduan ini tidak memiliki batas
Cintamu
Aku harus menghirupnya
Aku suka itu, cintamu
“Akumemberi judul SYAUQ, yang berarti kerinduan SYAm kepada UQzy,” gumam pemuda itu. Tanpa sadar, banyak telinga mendengar syair indah itu hingga ada yang menghafal bahkan menulisnya.
__ADS_1
Malam ini, adalah malam yang akan mengantarkan malapetaka, seluruh jazirah Arab akan mengenal kisah cinta Syam kepada Uqzy. Layaknya kisah cinta Majnun yang terkenal, begitulah Syam, dengan beberapa gumamannya, orang-orang menyebarkan syair indah itu di seperjalanan mereka.
Hari silih berganti, dan sekarang matahari sudah menampakkan cahaya megahnya dengan sempurna untuk menyinari alam semesta ini. Burung-burung mulai bernyanyi dan menari di udara, sedangkan para pekerja, sudah berangkat sejak subuh tadi.
“Ya Allah, atas restu dan ijinmu, hari ini hamba akan melakukan suatu kebaikan serta kedamaian untuk dua kabilah. Akan hal itu, hamba memohon ridho-Mu, Ya Allah, Ya Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang.”
Sesuai rencana yang disepakati, Syam mendatangi ruang ayahnya sambil membawa sebuah permata cantik yang ia beli di pasar kemarin bersama Qalbi. Membuat hadiah yang dibawa anaknya, tentu saja membuat hatinya bahagia, bahkan melupakan kejadian yang telah berlalu itu.
“Untuk Abi,” ucap Syam sambil memberikan permata cantik itu.
“Apakah ada sesuatu yang ingin engkau minta dari abi ini. Syam?”
“Tentu saja Abi, Syam ingin mengajak Abi memanah. Yang kalah harus menuruti permintaan
“Hahahahaha, engkau sudah begitu besar sehingga sudah berani mengajak bertaruh dengan Abimu ini. Baiklah Abi turuti.” Sambil mengulurkan tangan sebagai lambing perjanjian.
“Bisakah dalam bentuk tulisan juga, Abi? Serta disaksikan banyak orang?”
“Hahahaha, siapa yang mengajarimu? Engkau sungguh pintar dalam membuat kesepakatan.
__ADS_1
Baiklah, ayah akan memerintahkan seluruh orang untuk menyaksikan pertandingan kita serta memperlihatkan perjanjian tertulis kita.”
“Terima kasih Abi.”
Senyum itu mengembang di bibir pemuda kecil itu, yang mana menandakan rencananya berhasil. Sesuai rencana kemarin, Qalbi bertugas untuk memberikan kabar kepada seluruh cendekiawan untuk berdatangan. Tentu saja dimohon untuk membantu membela seandainya Ayahanda Syam
melanggar ucapannya.
Seluruh masyarakat kabillah Aris melihat surat perjanjian yang bertengger di kedua sisi gerbang lapangan dan menyaksikan pertandingan memanah antara anak dan ayah ini. Tak ada niat kecurangan dalam pertandingan ini. Syam percaya kepada Allah, jika ia menang, maka artinya Allah meridhoi perjuangan ini. Namun, jika kalah, ia
akan mencari jalan lainnya.
“Apakah engkau sudah siap, Syam?” tanya Aris yang sudah berniat akan membidik papan
sasaran.
“Tentu, Abi. Syam sudah mempersiapkan semua ini dengan keahlian yang matang.”
“Baiklah, karena kedua pihak sudah siap. Pengawal, silahkan putar,” perintah ibunda Syam
__ADS_1
kepada penjaga untuk menggerakkan papan panah. Ya, pertandingan ini bukanlah hal yang biasa. Membutuhkan ketajaman dan perkiraan yang pas untuk dapat mengenai target dengan sempurna. Gerakan berirama di kedua sisi membuat penglihatan Syam begitu tajam untuk dapat menembusnya. Papan panah terus
bergerak dari kanan ke kiri, hingga sebuah busur akhirnya terlepas. Aris mengawali pertandingan ini yang membuat Syam terkejut. pasalanya ia tidak pernah melihat ayahandannya memainkan hal demikian, namun kali ini langsung mendapat nilai Sembilan, nyaris sempurna. Bagaimana dengannya? Tentu saja dia harus mendapat poin sempurna untuk memenangkan ronde pertama ini.