SYAUQ

SYAUQ
Balasan


__ADS_3

Membaca surat dari Syam, tentu saja membuat gadis itu bahagia sekaligus bersedih di waktu bersamaan. Wanita berkerudung itu pun hanya bisa menatapnya, merasa terharu dengan kisah keduanya. Apakah akan berakhir bahagia? Jika kedua ego ayah mereka masih meninggi. Apakah anaknya akan menjadi korban oleh perbuatan perang dingin antar kabillahnya?


“Ibu peri, ku mohon tunggulah sebentar. Ijinkan aku membalas surat ini. Tapi, bagaimana aku dapat membalasanya? Jika aku masuk dan kembali keluar, tentu itu akan mengundang banyak pertanyaan.” Cemas Uqzy


“Ini, aku sudah menyiapkanya untukmu.”


“Terimakasih,” balas Uqzy sambil memberikan senyum terbaiknya.


“Sungguh, senyum itu begitu indah seperti milik Syam. Tak heran jika keduanya saling mabuk,” batin wanita berkerudung itu.


“Sudah, saya ucapkan begitu banyak terimakasih. Adakah yang bisa saya beri untuk membalas kebaikan ibu peri?” tanya Uqzy sambil menyodorkan surat balasan.


“Berbahagialah, nak. Itu permintaan ibu perimu ini,” ucapnya sambil membelai kepala Uqzy dengan begitu lembut. Seusai itu, iapun menghilang dari balik dinding yang sebelumnya ia panjat.


Entah kenapa semenjak ibu peri itu pergi, seolah-olah hatinya juga ikut tak rela. Mungkin, hanya ibu perinya itu yang dapat memahami beban yang sedang menimpanya. Walaupun demikian, ia tetap bahagia karena walaupun terpisah, ia tetap masih bisa mengetahui kabar kekasihnya walaupun kabillahnya memisahkan mereka.


Sesampainya di luar kamar anaknya, wajah berbinar tampak jelas dari balik pintu ketika ia membukanya. Seperti anak kucing yang begitu lucu, pemuda kecil itu terus mendekati ibundanya, berharap mendapat apa yang ia inginkan. Sedangkan ibundanya, ia terus menggoda dengan

__ADS_1


menahan apa yang ingin ia dapatkan.


“Ayolah Umi, engkau sudah berjanji kepadaku. Ceritakan apa yang umi lihat. Bukankah dia begitu cantik. Apakah umi melihat senyum indahnya? Bagaimana kabarnya? Bagaimana keadaanya? Apakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya?” tanyanya bertubi-tubi itu terus keluar dari mulut Syam yang sudah sangat penasaran kepada ibundanya.


“Bacalah sendiri, dan carilah jawabannya,” balas ibunya sambil menyodorkan kertas berwarna violet.


Terlihat jelas ukiran tangan yang begitu indah. Seketika ia mencium serta menghirum wangi dari bekas kekasihnya itu. Begitu memabukkan hingga ia tersenyum sendiri. Melihat anaknya seperti hidup kembali, ibundanya pun meninggalkannya sendiri bersama selembar kertas itu.


Seperti Syam, surat Uqzy dimulai dengan Do’a :


Uqzylail menuju Syam:


Bagaimana kabarmu, wahai kekasihku? Apa yang engkau lakukan setiap pagi, siang dan malam? Maafkan aku, yang pernah meninggalkanmu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jika aku mampu, mungkin sekarang aku akan menemuimu. Namun, sekarang aku sedang terkurung di dalam rumahku sendiri. Layaknya seorang tawanan, hanya tersisa kesedihan yang aku miliki. Bagaimana denganmu?”


Tanpa sadar, air mata Syam mulai mengalir. Merasakan kesedihan dan kepedihan sang kekasih


yang jauh disana. Mengucap beribu maaf yang jelas tidak dapat didengar oleh gadisnya.

__ADS_1


Aku selalu disisimu,


Dan selalu setia bersamamu lebih dari ini


Seumur hidupku,


Aku tak pernah bermimipi


Bahwa hidupku akan seperti ini


Segala sesuatu yang telah terlewati


Dan kita tak bisa mengubahnya


Mari kita menata kembali hidup


Apakah engkau ingin menurutiku sekali saja? Cobalah untuk menata kembali yang runtuh. Disini, kapanpun dan dimanapun, aku akan selalu dipihakmu. Apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2