SYAUQ

SYAUQ
Berpisah


__ADS_3

“Anak nakal, apa yang kau lakukan?” tanya Ayah Syam dengan penuh kemarahan yang tergambar jelas di matanya.


“Aku akan menikahi Uqzy, Abi.”


“Apa kau gila? Dia adalah anak musuh ayah.”


“Bagaimana bisa ayah mengatakan musuh kepada keluarga baik-baik. Lihatlah Abi, bukankah wajahnya begitu indah dan tidak terlihat aura kejahatan yang berada dalam dirinya. Ia sungguh bersinar layaknya rembulan yang menyinari malam yang penuh kegelapan.”


Mendengar kalimat itu, Ayah Syam semakin marah dan mencoba menarik anaknya.


“Gadis kecil, bisakah engkau melepaskan genggaman tanganmu itu?”


“Tidak,” angkuh Uqzy yang semakin membuat Aris – ayah Syam- marah besar. Ia pun mendorong gadis kecil itu hingga terjatuh dan pingsan karena tak sengaja menabrak mimbar kayu.


Bersamaan itu, orang tua Uqzy baru saja datang. Melihat kejadian itu tentu saja membuat amarah memuncak. Sejak saat itulah ayah Uqzy mengumumkan bahwa akan terjadi peperangan antara dua kabilah ini. Disisi lain, ibunda Uqzy langsung mendekati anaknya untuk mencoba menyadarkannya.


“Abi begitu kejam terhadap gadis kecil tanpa dosa itu. Lepaskan aku, Abi!” berontak Syam dengan berakhir mengigit tangan ayahnya.


“Uqzy, bangun,” tangis Syam memecah di dalam masjid itu. Namun, ketika tangan kecil itu akan membelai lembut pelipis Uqzy yang sedikit tergores, langsung ditepis oleh Ayah Uqzy.

__ADS_1


“Pergilah, nak! Selagi aku tidak seperti ayahmu yang begitu kejam dan tidak memiliki rasa kemanusiaan,” ancam Ayah Uqzy.


“Tidak tuan, aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Bawalah aku bersamamu,” ucap Syam sambil bersujud di depan ayah Uqzy.


“Kau anak gila! Berdiri! Apakah kau tidak paham, jika tindakanmu ini sungguh menghina ayahmu ini. Dimana harga dirimu?”


“Mengapa aku harus memiliki harga diri di depan kekasih-,” ucapan itu terpotong oleh pintu yang terbuka dengan keras. Ya, Naila dan Qalbi pun akhirnya tiba.


“Aba, apa yang terjadi dengan Uqzy? Apakah ini berhubungan dengan pemuda itu?” tanya Uqzy sambil menunjuk Syam. “Sejak dulu, pemuda itu selalu mengganggu Uqzy. Jadi, jangan pernah salahkan Uqzy, karena semua kesalahan ada pada pemuda itu.”


“Memang ini salahku, tapi kami saling mencintai.”


PLAKKK


“Kau masih kecil dan berkata cinta? Kau sungguh gila! Sepertinya engkau harus dihukum agar jernih pikiranmu.”


“Tidak Abi, itu benar. Qalbi adalah saksiku, ia mengetahui kisah kami berdua.”


“Jangan mengarang, jika demikian, Uqzy akan menceritakannya kepadaku. Bagi Uqzy, engkau bukanlah seseorang yang berarti. Camkan itu!”

__ADS_1


DEGGG


Entah mengapa ucapan itu membuat Syam tergores, seolah ia baru saja tertebas oleh pedang besar tepat di dadanya. Begitu perih dan darah mengucur begitu deras hingga ia sendiri bisa mendengar darahnya mengalir.


“Bukankah ucapannya terlalu berlebihan? Bukan ini yang aku suruh. Aku hanya berniat memojokkan, bukan membuat luka di hati Syam. Sungguh, kebohongan ini begitu kejam,” batin Qalbi.


“Tidak, engkau tidak mengerti.”


“Sudah cukup!” geram Ayah Uqzy. “Istriku, ayo kita pulang. Naila, ayo.”


“Tidak, tunggu! Biarkan aku ikut dengamu, Tuan. Biarkan aku mengetahui keadaan kekasihku itu.”


PLAKKK


Sebuah tamparan tercetak lagi di pipi pemuda kecil itu.


“Kau memang sungguh gila. Pulang! Dan akan Abi ajarkan kepadamu apa yang harus kamu lakukan di hadapan musuh kita.”


“Tidak, Abi,” rengek Syam ketika ditarik oleh Aris. “Qalbi, tolong bantu aku menjelaskan kepada Abi. Semua ini benar adanya.”

__ADS_1


“Maafkan aku, Syam. Untuk saat ini, mungkin akan menyakitkan, tapi pasti suatu hari engkau akan berbahagia.”


__ADS_2