
“Janganlah begini, karena musuh akan bahagia melihatmu menderita. Dan bagaimanapun aku juga termasuk musuhmu karena mengabdi untuk kabilahmu bukan kabilah Uqzy. Dan ku tahu, engkau pasti akan membela kabilah Uqzy sepenuh hati jika ada pertumpahan darah,” batin Qalbi.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Hari libur tiba, seperti biasa, Naila mengunjungi Uqzy sambil membawa beberapa makanan yang di bawakan oleh ibunya. Ketukan pertama menampakkan ibunda Uqzy yang begitu rupawan dengan wajah yang begitu keibuan.
“Naila, selagi engkau disini. Bisakah Uma menanyai sesuatu kapadamu?” Naila sudah dianggap layaknya anak sendiri oleh ibunda Uqzy. “Apakah engkau mengetahui anak dari Kabilah Aris? Katanya kalian berada di sekolah yang sama.”
“Memangnya, ada apa Uma?”
“Aba Uqzy ingin memindahkan sekolah Uqzy begitupun engkau di negeri seberang.”
“Mengapa demikian?”
“Setengah tahun lalu, terjadi perpecahan antara kabilah. Dan pemicunya berasal dari Kabilah Aris, karena terdengar berita bahwa anak Kabilah Aris juga belajar di sekolah yang sama dengan Uqzy. Akan hal itu, Aba ingin melindungi Uqzy dan engkau dari kejahatan.”
“Siapa nama anak itu Uma?”
“Syam, Syamsun Badrun.”
Mendengar nama itu, mata Naila seketika membesar. Pra duga mengenai pertemanan Syam dan Uqzy memang seharusnya tidak terjadi. Sesegera mungkin ia mengabarkan Uqzy mengenai segala hal tanpa terkecuali.
__ADS_1
“Jika demikian, Syam tetap tidak bersalah. Kata-kata ayahnya yang menyakiti, dan tidak selayaknya aku membenci Syam atas perbuatan Ayahnya,” ucap Uqzy. “Dan apakah kita harus pindah?” tanya Uqzy dengan begitu lirih berharap itu tidak akan terjadi karena gelora rindu itu sudah lama ia tahan dan pendam yang berharap akan terbebas, namun sebaliknya.
“Uqzy, aku tidak tahu mengenai isi pikiranmu. Yang terpenting adalah kita harus mematuhi Aba. Ini juga demi melindungimu, patuhilah beliau, dia dihina di depan banyak rakyatnya.”
Benar, tapi apakah harus merelakan perasaan ini? Perasaan semanis madu yang memabukkan.
“Baiklah, tapi aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Syam. Ijinkan aku besok menemuinya,” rengek Uqzy penuh harapan.
“Baiklah, akan aku temani dan jaga.”
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Semua orang menyuruhku untuk berhenti menemuimu
Bahkan keluargaku, mencoba memisahkannya
Apa yang harus kulakukan?
Aku hanyalah seorang gadis kecil yang begitu lemah
“Siapa yang mencoba memisahkan kita?” tanya seseorang dengan nada yang begitu serius.
__ADS_1
“Syam,” panggil Uqzy dengan begitu bahagia setelah lama tidak berjumpa.
“Kemana saja engkau, habibati? Tahukah engkau? Aku tersiksa oleh rindu setiap saat. Terbakar oleh hasrat ingin menemuimu. Dan engkau, melupakan serta meninggalkanku.”
“Tidak, engkau salah paham Syam,” ucap Uqzy dengan nada lirih, ia pun tak kuasa dan memilih merunduk. “Disini, aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Aku akan pergi dari sekolah ini.”
“Kenapa?”
“Syam,” ucap Qalbi sambil memegang pundak pemuda itu.
“Apakah karena Abiku? Maafkan beliau yang telah menyakiti kabilahmu bahkan mungkin telah merendahkan. Maafkan aku Uqzy,” ucap Syam bersamaan dengan dia yang berlutut di depan gadis kecil itu. “Marahlah kepadaku, hukumlah aku. Aku akan menerima semuanya,” lanjutnya.
Melihat reaksi Syam sebegitu, tentu saja membuat tiga orang disana -Uqzy, Qalbi yang berada di samping Syam dan Naila yang berada di depan pagar untuk mengawasi sekitar- pun terkejut.
“Uqzylail,” teriak seseorang yang membuat mereka berempat semakin terkejut.
“Uma?” gumam Uqzy
“Syam,” teriakan lagi dengan ciri suara berbeda.
“Abi?” gumam Syam
__ADS_1