SYAUQ

SYAUQ
Teka teki


__ADS_3

“Naila, Uma ingin bertanya. Apakah engkau mengetahui sesuatu mengenai Uqzy dan Syam?”


“Tidak Uma. Apa yang Uma pikirkan? Uqzy selalu bermain bersamaku.”


“Apakah mereka pernah bertemu?”


“Tidak pernah.”


“Jika demikian, bagaimana pemuda kecil itu begitu mencintai putriku? Apakah ini rasa sepihak?” batin Ibunda Uqzy


“Apa yang Uma pikirkan?”


“Tidak, hanya sebuah teka-teki ringan,” balasnya sambil tersenyum lembut.


Disisi lain, setelah beberapa waktu, akhirnya gadis yang terlelap dalam bawah sadarnya pun terbangun. Dengan pergerakan lemah, ia mencoba untuk duduk di ranjangnya. Merasa seperti kehampaan menyelimuti hatinya, ia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi sebelum ia berada disini. Memegang kedua pelipis dengan tanganya sambil mengerutkan dahi masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.

__ADS_1


Kehausan menghantuinya, ketika berusaha meraih secangkir cawan di samping ranjangnya, begitu malangnya ia terjatuh. Tentu saja gadis itu memekik, namun karena jatuhnya itu membuat memori kembali. Ia terbawa lagi ke dalam kenangan di dalam masjid agung berlapis emas yang berada di kota Arab.


“Syam, apa yang telah telah terjadi padanya?” tanya monolog gadis itu sambil meringkukkan badan di sudut kamarnya.


“Uqzy,” panggil Naila yang baru saja mendatangi kamar sahabatnya itu.


“Naila,” ucap Uqzy sambil mendekat. “Apa engkau mengetahui kabar Syam?” tanyanya penuh harapan.


“Lupakan mengenai Syam. Perpecahan sudah terjadi, dan masa depan sudah tergambar jelas. Aku akan memberitahukan faktanya. Namun, berjanjilah kepadaku, bahwa setelah hari ini, tidak ada Syam lagi.”


“Mengapa Uqzy? Apakah pertemanan kalian begitu berarti sampai engkau tidak dapat melupakannya? Ini salah! Dan aku ikut salah, seharusnya aku selalu melindungimu, menjagamu dan bersamamu."


“Mengapa engkau berkata demikian? Ini bukan salahmu, Naila.”


“Tolong berjanjilah padaku, lupakan yang sudah terjadi. Dan hiduplah seperti sebelum kamu mengenal Syam. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu secara rinci mengenai apa yang sudah terjadi. Ya, demi melindungimu, aku dan Qalbi, sahabat Syam membuat ide dengan memojokkan Syam. Membuatnya menjadi kambing hitam atas semuanya. Tentu saja itu membuat Syam tersiksa dua kali. Yang pertama adalah teraniaya oleh ayahnya sendiri, dan yang kedua karena aku telah mengatakan bahwa sebenarnya kalian tidak berteman, engkau hanya dipaksa oleh Syam. Engkau hanya gadis lugu nan polos yang tidak menahu hal demikian.”

__ADS_1


“Mengapa engkau mengatakan hal yang begitu kejam?”


“Ini semua demi kebaikanmu dan kabilahmu Uqzy. Dan tenang, Qalbi pasti akan mengungkapkan kebenarannya kepada Syam. Jadi, diantara kalian tidak ada kesalahpahaman.”


“Lalu, bagaimana keadaan Syam sekarang?”


“Mungkin sekarang dia dihukum, karena dia telah mempermalukan ayahnya yang mana dia bersujud di depan ayahmu yang merupakan musuh dari ayahnya sendiri.


“Naila, bisakah engkau mengambilkan cawan baru? Cawanku terjatuh ketika aku hendak mengambilnya tadi.”


“Tunggulah disini,” balas Naila dan sesegera ia keluar untuk mengambil cawan baru.


Dalam keheningan, ia berbicara penuh kebisuaan. Air matanya mengalir deras sambil bibir yang terus tertutup oleh kedua tangannya. Berharap tidak ada yang dapat mendengar atau bahkan mengetahui kesedihan gadis kecil itu.


“Aku harus bagaimana? Bagaimana kabarmu Maafkan aku,” batin Uqzy di sela tangisnya. Ia sungguh merasa bersalah, namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Layaknya seorang perempuan biasa yang tidak memiliki kendali sepenuhnya. Ia hanya dapat meratapi nasibnya.

__ADS_1


Nasib yang begitu sendu yang dimiliki dua sepasang kekasih itu. Apakah kisah cinta mereka akan berakhir demikian? Kisah cinta tanpa sentuhan fisik ini kemana akan berlabuh. Apakah takdir memang tidak berniat untuk menyatuhan keduanya? Sungguh penderitaan yang begitu menyakitkan yang dirasakan oleh anak kecil itu.


__ADS_2