SYAUQ

SYAUQ
Gejolak Api


__ADS_3

Pertemuan indah yang tak terduga.


Dan hatiku terasa indah ketika melihatmu


Katakan padaku, bagaimana kabarmu?


Syair tanpa persiapan mengalir indah di mulut seorang pemuda kecil yang tengah berjinjit mengintip ruang seberang.


Engkau,


Membuat hatiku menjadi bingung.


Yakinkan aku, bagaimana keadaanmu?


Disisi lain, syair indah juga terdengar dari seberang, dan itu berasal dari gadis yang tengah berjalan merunduk. Walaupun merunduk, tentu saja pemuda itu paham jelas siapa gadis itu. Suara yang merupakan candu sejak pertemuan tadi membuatnya terus terbayang-bayang apalagi pemuda itu memiliki daya ingat yang begitu tajam.


Bawalah diriku, kekasihku.


Aku menginginkanmu.


Bahkan lebih dari yang kamu pikirkan.

__ADS_1


Kamu satu-satunya untukku.


Jika aku ingin mendeskripsikanmu, apa yang harus aku lakukan?


Sebuah kalung dari bunga melati, dan ada hati penuh kebaikan.


Ya, aku menemukan kebaikan.


Aku lebih kuat jika kamu tidak jauh dariku.


Ada semacam energi dalam senyummu


Bersamaan itu, angin menyibak cadar transparan dari gadis itu. Senyum indah dari bibir mungil itu terukir dengan begitu indah bahkan bisa terpahat dalam ingatan pemuda yang masih setia menatap gadis kecil di depannya.


Tatapan dalam terjadi lagi diantara keduanya, dan kali ini bukan hanya membisu seperti pagi tadi. Namun, suasana terhiasi oleh karangan bunga taman karena senyum indah yang dimiliki keduanya mengembang. Jika saja ada yang menyaksikan senyum mereka itu, pasti, akan dibuat mabuk sekaligus candu sebagai efek sampingnya.


“Ingin berkenalan dengan seorang musafir sepertiku?” tanya Syam memulai percakapan.


Tidak ada balasan atas pertanyaan itu, gadis itu pun memilih merunduk karena merasa malu. Tentu saja membuat pemuda itu kesulitan melihat wajah cantik gadisnya itu. Ia pun seketika langsung melompati pagar dengan tinggi satu meter itu. Gadis itu pun terkejut dengan kedekatan jarak diantara mereka.


“Bagaimana, Aini?” ulang Syam yang membuat pipi gadis itu memerah karena panggilan

__ADS_1


manis dari pemuda itu yang berarti mataku.


“Uqzyla,” balas gadis itu dengan lembut sambil mengigit bibir mungilnya yang terlihat jelas di balik cadar transparannya.


Masih dalam keadaan hening karena rasa canggung dan hati yang terus berdebar itu membuat mereka berdua kebingungan berat. Apa yang terjadi dengan tubuh mereka? Mengapa terasa panas seolah ada yang membakar dalam diri mereka. Gejolak api yang berasal dari mana ini? Tapi, kenapa terasa begitu manis?


“Syam,” balas pemuda itu sambil mengulurkan tangannya. Tanpa ragu gadis itupun menangkapnya. “Berteman?” tawarnya.


“Tentu,” jawab Uqzy sambil tersenyum lebar.


“Senyummu begitu indah, hingga membuatku terasa mabuk, bagaikan aku tengah meminum sebuah anggur,” ucap Syam tanpa paham dengan apa yang dia ucapkan itu.


“Kalau begitu, aku akan menggulungnya kembali, tuan musafir bernama Syam.”


Syam pun terkekeh mendengar balasan gadisnya, “Jangan! Aku sudah terlanjur candu dengannya. Biarkan aku melihatnya setiap hari.”


“Bagaimana caranya?”


“Mulai sekarang, setiap pulang sekolah, kita akan bertemu disini. Ini adalah tempat pertemuan kita ya. Jangan beritahu siapa-siapa, ini rahasia atau kita akan dihukum.”


“Iya,” balas Uqzy menuruti ucapan Syam. “Kalau begitu, ijinkan saya undur diri terlebih dahulu wahai musafir karena hari sudah mulai petang.”

__ADS_1


“Hati-hati, dan jangan lupakan janji kita untuk bertemu kembali.”


__ADS_2