SYAUQ

SYAUQ
Hukuman


__ADS_3

“Sakit abi,” jerit Syam ketika tubuhnya di cambuk oleh ayahnya.


“Itu tidak seberapa dengan rasa malu ayah, Syam.”


“Qalbi, tolong bantu aku menyakinkan ayahku.”


“Untuk saat ini, jangan bela Syam Qalbi. Karena kesalahan Syam begitu fatal. Sepertinya aku harus memindahkanmu sekolah ke negeri seberang.”


“Jangan Tuan.” Potong Qalbi. “Saya tadi tidak sengaja mendengar bahwa Uqzy juga akan pindah sekolah ke negeri seberang. Jangan engkau pindahkan Syam juga, karena itu akan membuatnya bertemu gadis itu kembali.”


“Benarkah? Kalau begitu bagus.”


“Qalbi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengkhianatiku?”


“Tidak, Syam. Aku tidak mengkhianatimu. Ini semua untuk kedamaian.”

__ADS_1


“Lihat, bahkan anak Jendral saja paham. Semua demi kedamaian.”


“Kedamaian? Bukankah Abi yang memulai perpecahan ini? Engkau menghina kabilah Uqzy dengan cara merendahkan mereka.”


“Memang mereka rendah.”


“Tidak, mereka tinggi, Abi. Abilah yang rendah karena menghinanya. Sesungguhnya orang yang rendah adalah orang iri akan sesuatu yang tidak dapat dimilikinya. Akan hal itu, perbuatan hina akan membuatnya lebih rendah dari yang dihinannya.”


“Cukup, Syam.” Sebuah pukulan keras pun terjadi hingga membuat pemuda kecil itu melayang menghantam dinding kamar. “Jangan buat abi semakin marah. Tutup mulutmu itu!” dan pergi meninggalkan anaknya yang sudah penuh luka. Tentu saja dengan cekatan Qalbi pun medekat dan membopong Syam menuju ranjangnya.


“Apakah ini balasanmu setelah aku membantumu, Syam?”


“Membantu, kau bilang? Jelas-jelas kau berkhianat.” Senyum sinis itu mengembang di bibir penuh luka Syam.


“Baiklah, terserah apa katamu, karena aku tidak akan pernah mengkhianatimu sekalipun. Jikapun demikian, itu juga untuk kebaikanmu.”

__ADS_1


“Kebaikanku? Jangan bercanda!”


“Sudahlah, Syam. Untuk saat ini janganlah engkau berbuat masalah lagi jika engkau tidak ingin kekasihmu itu berada dalam masalah.”


“Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi? Benar, kekasihku sedang sakit. Aku harus menjenguknya,” ucap Syam sambil mendorong Qalbi dan berlari keluar menuju kabilah Uqzy.


“Syam,” teriak Qalbi dengan penuh frustasi akan tindakan sahabatnya itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia sudah menyanyangi sahabatnya itu. Ia pun mengekori Syam untuk melindunginya jika ada mara bahaya di perjalanan.


Dinding – dinding yang begitu tinggi membuat Syam kesusahan untuk menggapainya. Ia merasa bahwa di lantai dua itulah kekasihnya beristirahat. Mencoba memanjat, namun ia selalu gagal dan terjatuh berulang kali. Walaupun luka yang diakibatkan oleh ayahnya belum diobati, ia tetap tidak menyerah. Rasa sakit bahkan perih bukan suatu hal yang penting baginya. Karena yang terutama adalah bisa mengetahui kabar dari kekasihnya itu. Sekali, dua kali, tiga kali bahkan sudah seratus kali, ia terus gagal untuk memanjatnya. Padahal dia adalah pemuda paling pandai memanjat bahkan semua olahraga ia kuasai. Mungkin, untuk saat ini karena luka yang membekas di sekujur tubuhnya begitu menghalangi. Kali ini, ia tetap berusaha walaupun dalam keadaan merangkak sekalipun untuk menggapai dinding tinggi nan kokoh itu.


Qalbi yang melihat perjuangan Syam begitu merasa iba, pasalnya sebegitu dalamnya cinta Syam kepada Uqzy bahkan seluruh hal ia pertaruhkan. Sekalipun itu adalah nyawanya. Merasa tak kuasa, ia pun mendekati Syam dan memberikan bantuan dengan cara membopong tubuh Syam yang sudah tak berdaya itu.


“Naiklah, akan ku antarkan engkau untuk melihat kekasihmu itu,” ucap Qalbi sambil berjongkok di depan Syam. Sedangkan pemuda yang masih tergeletak di tanah sambil merangkak itu kebingungan antara melihat sahabat kenapa bisa disini dan kenapa dia ingin membantu? “Cepat naik atau aku tinggal?”


“Tunggu,” balas Syam yang membuat senyum Qalbi mengembang.

__ADS_1


__ADS_2