
“Uma, ijinkan aku bermain di taman bunga. Cukup sendiri,” ucap gadis kecil tak lupa senyum tipis mengembang sebagai permohon tulusnya. “Kumohon uma, hanya sebentar. Tak ada penjagaan maupun orang lain yang boleh mendekat.”
“Bagaimana bisa? Engkau harus selalu terjaga, sayang. Bagaimana jika seperti dulu terjadi lagi?” tanya seseorang dengan suara memberat.
“Percayalah, Aba. Untuk sekali ini saja. Uqzy akan berteriak kencang jika sesuatu terjadi,” rengeknya yang membuat kedua orang tua itu tak berdaya atas permintaan anaknya itu.
“Baiklah jika itu yang engkau inginkan. Pergilah, anakku. Ayah akan menurutinya.”
Dalam kesunyian taman, bunga-bunga merasa ikut bersedih, mereka tidak merekah sedikitpun, seolah mengetahui isi hati dari tuannya yang sekarang sudah duduk di tengah-tengah taman bunga milik kabillahnya. Dinding-dinding kokoh yang mengeliling i taman itu sesekali ingin rasanya untuk gadis kecil itu melarikan diri melalui pagar itu. Namun, untuk kali ini ia belum bisa. Ia masih begitu kecil untuk memanjat.
“Suatu hari nanti,” gumamnya terfokus dengan dinding itu.
Masih setia memandang i dinding itu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang berkerudung cadar. Tubuhnya sama seperti ibunya, namun itu bukan ibunya. Karena ia tengah memanjang dinding itu dari luar dan mencoba masuk.
“Bisakah engkau mambantuku? Mungkin dengan memberiku tangga.”
“Siapakah engkau?”
“Aku hanyalah peri, pengantar pesan dari kekasihmu.”
“Benarkah peri itu ada? Tunggulah sebentar,” balas Uqzy sambil segera membawakan tangga untuk membatu orang asing itu.
__ADS_1
Seuasai itu, mereka berdua duduk bersama. Kali ini berada di sudut taman, karena takut ada seseorang yang akan melihat mereka berdua.
“Apakah benar, engkau bernama Uqzy, gadis kecil.”
“Ya, dan apakah benar engkau seorang peri yang membawa pesan dari kekasihku?” tanyanya dengan penuh antusias.
“Sebelumnya, ijinkan aku bertanya, siapa nama kekasihmu itu, nak?”
“Syam. Syamsun Badrun dari kabillah Aris.”
“Ternyata benar, kisah cinta suci nan murni ini sudah menyelimuti mereka,” batin wanita berkerudung itu.
“Ini ada sebuah surat dari kekasihmu, jika engkau sempat, bacalah dan aku akan menunggu balasannya.”
tulisan itu sudah terlihat, ia menyadari, memang benar ini tulisan kekasihnya karena pernah sesekali mereka ketika mengerjakan tugas melihat tulisan masing-masing.
“Terimakasih ibu peri,” ucap Uqzy sambil memeluk hangat wanita berkerudung itu.
“Sebahagia itukah dirimu?”
“Ya, sudah lama kebahagiaan ini tidak hinggap dihatiku.”
__ADS_1
Surat Syam diawali dengan doa :
Duhai Allah, Tuham semesta alam. Pengetahuan-Mu meliputi segalanya. Baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Rahasia dan misteri yang tersembunyi rapat di hati masnusia, terbuka kepada-Mu. Karena tak ada satu hal pun yang terlepas dari penglihatan-Mu. Engkau adalah dia yang mendengar do’a dari mereka yang membutuhkan ketika mereka berpaling kepada-Mu
Kemudian Syam mulai menuju kepada Uqzylail :
Wahai kekasihku, apakah engkau juga merasakan apa yang aku rasakan? Engkau adalah penyebab sakitku, sekaligus obat penyembuhku. Engkau adalah segalanya.
Kupertaruhkan diriku untuk menemuimu
Tetapi, mengapa semua orang menyuruhku untuk berhenti?
Orang-orang, tidak mengerti!
Kekasihku ini adalah jiwa dan ragaku.
Bagaimana bisa aku meninggalkanmu?
Berjanjilah padaku aini, bahwa engkau akan selalu setia hingga aku bisa membawamu bersamaku. Jagalah permataku yang kutitipkan padamu. Dan aku, disini, akan selalu berusaha untuk bisa menemuimu.
Jika engkau rindu, titipkanlah syair indahmu pada angin, karena akan membawanya padaku. Atau bahkan, berikan sedikit kecupan manis agar aku bisa merasakannya. Namun, aku juga akan marah,
__ADS_1
karena dengan lancang, angin bisa membelai bibir indahmu. Apa yang harus aku lakukan? Kepada siapa aku harus mengadu?