SYAUQ

SYAUQ
Terobati


__ADS_3

“Aku bersumpah atas nama Allah, aku akan memperjuangkan cinta kita dan akan menikahimu bagaimanapun juga,” ucap Syam penuh keseriusan. Bola api terlihat begitu jelas di bola matanya. Membara dengan warna merah menyala. Otaknya mendidih seolah tengah direbus oleh tengku yang begitu panas. Tanpa berpikir panjang, ia menuruni tangga untuk menuju sebuah rumah yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Lebih tepatnya terpisah 3 rumah.


“Qalbi, qalbi,” panggilnya sambil mengetuk paksa pintu rumah hingga menimbulkan suara keras.


“Ada apa, Syam?” tanya sahabatnya itu seusai membuka pintu. “Bukankah persahabatan kita sudah berakhir?”


“Apakah engkau masih memihakku?”


“Jzz, kau kesini untuk menanyakan hal demikian? Entah aku harus senang apa kecewa? Seolah selama ini aku mengabdi kepadamu tidaklah berarti.”


“Jangan salah paham. Aku kesini untuk mengajakmu berperang.”


“Siapa yang akan kau perangi? Aku akan bersedia melindungimu.”


“Abiku sendiri.”


“Apa? Kau gila!”


“Aku ingin membuatnya bermain dan mengalahkannya. Sebagai ibalannya, beliau harus meminta maaf dengan kabillah Uqzy, meminta maaf atas tindakannya. Dengan cara itu, kedua kabillah berdamai dan kisah cintaku akan berkembang indah.”


“Sungguh, kau mencintanya.”

__ADS_1


“Ya, aku begitu mencintainya. Rembulan yang selalu menerangi kegelapanku, bagaimanapun juga harus kuperjuangkan.”


“Jadi, apa tugasku? Bagaimana jika Tuan Aris akan semakin marah?”


“Aku memiliki sebuah ide.”


Disisi lain, malam sudah menampakkan jubah kegelapannya. Emas-emas langit sudah menghilang sejak beberapa waktu lalu dan sekarang terlihat seorang gadis kecil menatap luar jendela. Melihat rembulan purnama yang begitu terang.


“Uqzy, waktunya makan sayang. Ayo turun,” panggil ibunda Uqzy.


Sesampainya disana, Uqzy kecil itu memakan segala makanan yang disajikan dengan begitu


lahap. Melihat nafsu anaknya kembali, tentu saja membuat kedua orang tuanya bahagia.


“Uqzy selesai, Uma, Aba,” ucapnya dan langsung berlari menuju kamar. Tentu saja untuk melihat surat cinta kekasihnya itu. Dipandangilah ukiran menganggumkan itu.


Habibi, dimana kamu? Aku memanggilmu


Aku merindukan matamu,


Dan aku rindu bertemu denganm

__ADS_1


Aku telah mencintaimu sejak lama


Dan malam pun terasa sangat lama ketika tanpamu


Setiap hari yang berlalu


Ketika berpisah denganmu


Aku terbangun di dalamnya


Dan mati jutaan kali sendirian


Biarkan aku mendengar suaramu


Mendekatlah, genggam tanganku


Setelah semua keluh kesahnya terungkap, dengan baiknya angin berdesir membawa syair itu menuju rumah Syam. Gadis itu terus menatap rembulan yang begitu jauh disana tanpa bisa digapai. Begitu dalam hingga dia sendiri menghela napas. Ia pun


menekuk lutunya sambil menyandarkan kepala di atas lutut dengan kedua tangan yang menjadi penengahnya.


Rasa rindu kembali melanda bersamaan rasa kantuk yang sudah berdatangan. Ia sadar dan menaruh surat itu dibalik ranjangnya. Berusaha untuk menyembunyikan semua dan hanya bisa berharap kepada Allah, bahwa aka nada hari indah yang menantinya. Suatu hari nanti, pasti akan terjadi diantara keduanya.

__ADS_1


Diranjang itu, ia berbaring, sebelum tak sadarkan sepenuhnya, ia bergumam, “Selamat malam Syam. Malam – yang dimaksud adalah Lail - memberi kidung kepada Pagi -yang dimaksud adalah Syam karena matahari selalu muncul diwaktu pagi - melalui angin sebagai perantaranya. Jangan lupa untuk membalasnya, karena aku akan selalu menantinya.”


__ADS_2