
Entah apa yang dipikirkan Syam, yang jelas ia menarik tangan gadis kecil itu berlari meninggalkan tempat tersebut. Karena terkejut, Uqzy pun memekik yang membuat para orang tua dari masing-masing menoleh dan melihat kemana perginya anak mereka. Sedangkan Naila? Ia langsung ditarik Qalbi untuk bersembunyi di balik pohon besar.
Disela-sela perjalanan melarikan dirinya, hujan pun mulai turun, membasahi keduanya. Walaupun demikian, senyum indah mulai merekah, seolah-olah menjadi subur oleh air hujan. Langkah kecil itu mengantarkan mereka di suatu masjid agung di negeri Arab. Syam menuntun Uqzy memasuki bangunan megah berlapis emas tak lupa sambil melepaskan sepatu Uqzy dengan sukarela. Tengah berjalan masuk, Syam melihat seorang imam tengah berdiri di atas mimbar. Senyum mengembang kembali terlihat, kini ia menuntun Uqzy dengan sedikit mengajak berlari mendekati imam tersebut.
“Tuan, bisakah saya meminta bantuan? Bisakah engkau membantuku?” tanya Syam penuh antusias.
“Tentu, pemuda kecil, apa yang bisa aku lakukan untukmu?”
“Tolong nikahkan kami. Kami sudah siap umur, 13 tahun. Dan sudah balig.”
“Lalu, dimana wali kalian?”
“Wali? Haruskah memakai wali?”
__ADS_1
“Tentu, untuk gadis kecil ini, harus memakai wali," jelas imam itu sambil menunjuk Uqzy yang berada di sebelah Syam.
“Kalau begitu, mohon tunggu sebentar. Dan aku titipkan kekasihku kepadamu. Tolong untuk menjaganya untukku."
Baru saja berbalik dan hendak keluar masjid untuk memanggil gurunya, tiba-tiba pintu masjid kembali terbuka sebelum ia buka. Terkejutnya, orang tua Syam sudah datang dengan wajah suram yang membuat kedua anak itu ketakutan. Syam pun kembali mendekati Uqzy, seolah ia melindungi gadisnya itu dari marahan orang tuanya.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Apa yang kau lakukan? Beraninya engkau memegang tangan suciku dengan tangan kotormu itu,” protes Naila sambil menepis tangan Qalbi.
“Aku akan membela Uqzy bagaimanapun juga.”
“Aku tahu itu, aku juga tahu jika aku membela Syam itu tidak ada gunanya karena Syam sudah mabuk cinta akan Uqzy. Kali ini maafkan aku Kabilah, karena akan membela kabilah lain demi persahabatanku dengan Syam” batin
__ADS_1
Qalbi. ”Aku memiliki ide, buatlah Uqzy tetap berdiam diri atau bahkan harus menurutimu, karena itu jalan satu-satunya. Kamu akan berkata bahwa Syam telah memperdaya Uqzy dan mengancam memaksa Uqzy untuk menikah.”
“Apa? Menikah?”
“Masih sedikit ragu, tapi firasatku mengatakan bahwa mereka pergi ke masjid agung untuk menikah.”
“Sahabatmu sungguh lancang.”
“Diam! Jangan kau hina sahabatku.”
“Mengapa? Bukankah demikian? Menculik dan memaksa menikah, sedangkan gadis itu masih kecil dan polos.”
“Jika tidak tahu fakta, maka diamlah!”
__ADS_1
“Sudahlah, aku akan menyusul mereka.”
“Syam, maafkan ide gilaku ini yang akan memojokkanmu, tapi jika engkau tahu kebenarannya, engkau pasti akan berterimakasih karena telah menyelamatkan kekasihmu walaupun engkau akan menderita oleh hukuman ayahmu. Sayangnya, kebenaran itu tidak akan pernah aku ungkapkan karena ini juga untuk kebaikanmu di masa depan. Yaitu, melupakan gadis yang engkau cintai karena sudah jelas tergambar di depan mata bahwa tidak akan ada kebahagiaan yang terjadi diantara kalian, bagaimanapun kalian akan dipisahkan oleh keadaan,” batin Qalbi.