SYAUQ

SYAUQ
Kelabu


__ADS_3

Pelangi itu sudah menghilang di langit Syam, beralih menjadi kelabu yang begitu suram. Tidak ingin makan, minum atau bahkan berbicara. Hidupnya kini hanya berdiam diri dan mengurung di kamar. Orang tua pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap anaknya ini. Raganya memang berada di atas ranjangnya, namun seolah akal dan pikirannya berterbangan mencari kebebasan. Kemana ia pergi? Kemana ia harus mencari?


Tatapan kosong tertampak di kedua mata indah yang begitu sendu, bibir yang selalu merekah layaknya mawar, kini telah layu, memucat bahkan badannya ikut mengering karena kurangnya asupan makanan. Merasa marah dengan perilaku anaknya yang begitu lemah, Aris pun mendatangi kamar anaknya sambil membawa berbagai jenis makanan beserta minuman.


“Iniperintah! Segera habiskan!”


Hening, tak ada balasan, tak ada pergerakan sama sekali.


“Bukan seperti itu,” ucap seorang wanita yang begitu anggun. “Apa yang telah terjadi padamu, anakku?” tanya wanita itu sambil merangkul pemuda kecil di dalam dekapannya.


“Uqzy, Umi, aku ingin menemuinya,” gumam pemuda itu masih dengan tatapan kosong.


“Apa kau sudah gila, Syam? Ya, sepertinya kau benar-benar sudah gila. Tidak sepatutnya aku memelihara anak gila ini,” geram Aris dan meninggalkan kamar Syam bersamaan suara keras yang tengah membanting pintu kayu.


“Apakah engkau begitu mencintainya, Syam.”


“Sangat, Umi.”


“Bagaimana dengannya?”

__ADS_1


“Sama. Kami selalu menghabiskan waktu pulang sekolah untuk bermain.”


“Apakah itu alasan engkau selalu pulang terlambat?”


Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum malu. Entah mengapa jika ia membahas mengenai gadis itu, taman bunga kembali bermekar dalam tubuh pemuda kecil itu dengan begitu indah. Bagaimanapun juga, ia sudah terlarut dalam mencintai gadis idamannya itu.


“Apa saja yang kalian lakukan?”


Dengan penuh antusias dan semangat, Syam pun menceritakan segalanya kepada ibundanya mulai dari pertama bertemu hingga berjanji selalu bertemu tiap hari.


“Kami membuat syair bersama, belajar mengerjakan tugas bersama, tak hanya cantik, dia


“Syam suka bermain? Bagaimana bila mulai hari, umi yang akan selalu menemani Syam bermain. Kapanpun dan dimanapun.”


“Tidak umi, Syam hanya menginginkan Uqzy.”


“Syam, engkau masih terlalu kecil. Belum dapat memahami apa itu cinta, suka, kasih sayang dan persahabatan. Mungkin sekarang persahabatan kalian merenggang,-“ ucapan itu segera terpotong oleh Syam.


“Tidak! Kami tidak bersahabat! Kami adalah sepasang kekasih. SEPASANG KEKASIH, UMI,” tegas Syam yang seketika membuat ibundanya terbelalak. Bagaimana seorang anak kecil sudah berbicara layaknya orang dewasa. Bahkan ini lebih berani dari orang-orang. Sungguh, anaknya adalah pemberani yang berpegang teguh terhadap pendiriannya.

__ADS_1


“Jika memang demikian, ada yang bisa umi bantu?”


“Benarkah umi?”


“Ya, dengan satu syarat. Yaitu harus menuruti ibu.”


“Sungguh? Baik Umi.”


“Sekarang makanlah.”


“Jangan meminta hal yang mustahil, umi. Nafsu makan dalam diriku sudah menghilang.”


“Apakah engkau tidak malu, Syam? Jika kamu akan bertemu dengan kekasihmu itu dalam keadaan seperti ini? Bagaimana jika ia meninggalkanmu?”


“Jangan pergunakan kata demikian umi! Dia tidak akan meninggalkanku. Dan, baiklah, aku akan memakannya. Namun bukan karena aku takut kehilangannya atau takut dia meninggalkanku. Aku begitu percaya akan cinta kami. Aku menuruti perintah umi dan ku mohon jangan selalu memiliki pikiran buruk terhadapnya, umi.”


DEGGG


Sungguh, anaknya sudah terperdaya oleh gadis kecil yang belum pernah ia temui. Seberapa menganggumkannya gadis itu, hingga anaknya begitu lemah dan kuat di waktu bersamaan. Untuk saat ini, melihat nafsu makan Syam kembali lagi, sudah membuat hati ibunda Syam merekah kembali. Senyum indah terukir di sana.

__ADS_1


__ADS_2