
Hari-hari cerah itupun berubah menjadi kelabu, Syam yang terus menerus mendatangi tempat rahasia kini tak mendapat tanda-tanda gadisnya akan datang lagi menemuinya. Sudah berbulan-bulan sejak hari itu -hari dimana ia terpisah.
“Sudahlah Syam, mungkin memang ini garis takdir diantara kalian,” ucap Qalbi menemani sahabatnya itu.
“Apakah takdir begitu kejam terhadapku? Merenggut kebahagiaan yang bahkan belum sempat aku miliki sepenuhnya.”
“Tidak, mungkin Allah hanya membuat kalian berteman tapi tidak untuk memiliki satu sama lain.”
“Jika demikian, aku akan ke Ka’bah sekarang,” ucap Syam yang kemudian mencoba menunggangi kudanya sebagai alat pengendara. Tak terkecuali Qalbi, ia mengikuti.
“Ya Allah, tolong kabulkanlah doa hambamu ini, jodohkanlah kami berdua. Walaupun saat ini, kami berpisah beberapa saat, tak mengapa. Tapi, tolong persatukan kami di ikatan suci,” ucap Syam penuh harapan sambil memegangi Ka’bah. “Benar, ikatan suci, pernikahan. Aku akan menikahi Uqzy.”
“Apa?” kejut Qalbi. “Apa yang kau pikirkan Syam? Kita masih bersekolah.”
“Mengapa? Aku sudah baligh. Dan syarat pernikahan adalah sudah baligh.”
“Memang benar.”
__ADS_1
“Kalau begitu, besok bantuin aku menemui Uqzy.”
“Tapi, Syam,” ucap Qalbi terpotong oleh Syam yang sudah kembali menunggang kudanya untuk pulang.
Di hari berikutnya, rindu itu mulai membara di dalam hati Uqzy. Gadis itu ingin bertemu kekasihnya, namun ia sudah berjanji akan menuruti ucapan Naila. Ketika tanpa sadar ia berjalan menuju tempat rahasia, Naila yang mengetahui segera menarik kembali Uqzy untuk kembali. Bersamaan itu, Syam juga datang bersama Qalbi. Terus menanti tulang rusuknya itu di tempat itu walaupun harapan tidak pernah menampakkan hilalnya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Qalbi?”
“Menyerahlah.”
“Apakah aku harus mendatangi kelasnya?”
“Apa aku harus mendatangi kabilahnya?”
“Jika saja tidak ada perpecahan, mungkin tak mengapa.”
“Perpecahan? Apa maksudmu Qalbi?”
__ADS_1
“Ah tidak Syam. Kau salah dengar.”
“Tidak, jelas-jelas engkau menutupi fakta di balikku. Apa itu? Katakan,” ucap tegas Syam.
“Ketika engkau selalu pulang terlambat, sebuah perpecah terjadi ketika itu. Tuan Aris meminta bantuan kepada kabilah Uqzy untuk berperang di bulan safar dengan kata-kata yang menyakiti kabilan Uqzy. Dan itu sungguh begitu merendahkan karena mengandalkan perbedaan harta. Sejak itulah, Tuan Fadil memutuskan perserikatan dengan Tuan Aris karena telah mempermalukannya.”
“Apakah abiku berbuat demikian? Pasti Uqzy begitu membenciku sekarang. Apa yang harus aku lakukan Qalbi?”
“Menyerahlah Syam.”
“Bagaimana caraku menembus kesalahan itu? Apakah aku harus berlutut di depan kabilah milik Uqzy?”
“Jangan gila Syam! Itu akan mempermalukan kabilahmu sendiri. Dan pasti engkau akan dihukum oleh Tuan Aris dengan begitu keras.”
“Aku tidak peduli dengan hal itu. Yang kupikirkan saat ini adalah Uqzy. Bagaimana caraku agar gadisku dapat memaafkanku. Dan apakah gadisku itu mengetahui hal itu? Aku tidak ingin ada kesalahpahaman dengannya.”
“Jika memang dia tidak mengetahui hal itu, sudah jelas engkau akan bertemu dengannya disini Syam. Sudah berbulan-bulan dia tidak muncul, pasti dia mengetahuinya dan menghindarimu. Jadi, relakan dan berdoalah.”
__ADS_1
Keadaan yang tak pernah terpikirkan ini membuat jarak diantara para kekasih kian merenggang. Tanpa sadar air mata pemuda bernama Syam itu mengalir begitu deras. Tak kuat menampung beban di benaknya, iapun terjatuh, seolah bersujud yang membuat sahabatnya terkejut. ketika ingin memegang Pundak Syam, Syam pun mulai bangkit sambil memukul-mukul tangannya di pohon besar yang berada disampingnya untuk melampiaskan segala keluh kesahnya.
“Sungguh, baru pertama kali aku menyaksikan engkau begitu menderita, Syam," batin Qalbi