
“Uqzy, ayo lompat,” perintah seorang teman seperguruan gadis yang dipanggil Uqzy itu. Rasa ragu menghantui gadis itu, pasalnya ia sadar ia telat masuk sekolah dan mencoba menerobos masuk melalui ruangan khusus pemuda. Ia paham jika tertangkap akan menimbulkan masalah besar karena melanggar peraturan, namun jika tidak dilakukan, ia akan terkena hukuman karena terlambat dan orang tuanya akan dipanggil. Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itupun melompat.
“Ayo lari,” ucap temannya tadi yang sudah berbelok memasuki lorong-lorong kelas. Tentu saja Uqzy mengekori temannya, namun tepat ketika ia berbelok, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
“Aduh,” rintih keduanya bersamaan.
“Syam, dimana engkau? Ayo masuk,” panggil seseorang yang dirasa teman dari yang sudah ditabrak Uqzy tadi.
Tangan pemuda itu pun menarik tangan kecil Uqzy, entah kemana gadis itu dibawa, ia hanya pasrah dan berdiam diri. Ternyata ia disembunyikan oleh pemuda itu, mungkin pemuda itu paham jika ada larangan mengenai batasan lawan jenis di sekolah tersebut. Dirasa suara panggilan itu mulai menghilang, mereka pun mulai keluar dari persembunyiannya.
Disaat itulah mereka saling memandangi satu sama lain, bersamaan Allah memberikan sebuah rasa manis yang menyelimuti hati mereka. Terasa lembut dan melebur menjadi satu, sayangnya mereka masih terlalu kecil untuk memahami perasaan itu.Tatapan dalam terjadi begitu lama, bahkan sangat lama dan dari tatapan itu menggambarkan kekaguman antar keindahan yang dipandanginya.
__ADS_1
Mulai dari pemuda itu yang memandangi mata bulat bak rembulan purnama, hitam, dalam, bagaikan mata seekor rusa yang begitu cantik. Mulut mungil yang masih tertutup rapat yang berharap ia akan terbuka untuk mendengar suara indahnya, Serta pipi se putih susu yang kini berubah menjadi memerah layaknya mawar yang merekah karena ia merasa malu dipandang oleh pemuda di depannya.
Disisi lain, Uqzy berbeda dengan pemuda itu yang memandang dengan begitu dalam. Gadis ini hanya bisa curi-curi pandang, ia merasa malu jika harus berpapasan dengan mata di depannya. Ia pun juga bingung dengan dirinya. Apa yang terjadi? Tidak pernah sekalipun ia merasakan hal demikian.
“Uqzy,” teriakan itu pun kembali terdengar jelas oleh telinga keduanya yang seketika lamunan itu pun menyadarkan mereka yang sesaat tadi tidak menghiraukan sekitarnya, bagaikan berada di tempat milik pribadi.
“Iya,” balas gadis itu dan sesegera mungkin meninggalkan pemuda tadi tak lupa sambil mengucapkan terimakasih karena telah membantunya.
“Syam, dari mana saya kau?”
“Tidak, ayo kembali ke kelas.”
__ADS_1
Sesampainya di depan kelas, ia terkejut mendengar marahan seorang guru yang begitu kencang terhadap dua gadis di depan kantor guru yang berada di tengah-tengah ruangan putra dan ruangan putri.
“Mungkinkah?” tanya pemuda bernama Syam itu dan berlari mendekati ruang guru untuk memastikan pertanyaan yang mengganjal di dalam hatinya. Dan benar saja, gadis tadi, yang ia kagumi di pandangan pertama tengah dimarahi. Tak rela dan ikut merasa sesak, ia pun berdiri di depan Uqzy, seolah melindungi gadis kecil itu.
“Wahai, guruku yang terhormat, tidaklah baik jikau engkau memarahi muridmu dengan begitu keras. Bukankah kami masih begitu kecil, jika mendapat perlakuan seperti demikian? Bukankah seharusnya menasihati dengan begitu lembut agar kami memahami kesalahan. Dan bukannya membuat kami takut terhadapmu, melainkan itu membuat secercah kebencian hinggap dihati kami. Karena pada dasarnya guru mengajarkan kebenaran dengan kelembutan dan mengatakannya melalui hati ke hati,” ucap Syam kepada guru wanita di depannya.
“Benar Syam, apa yang kau katakana sungguh benar. Maafkan gurumu ini Uqzy dan Naila. Kalian masih terlalu kecil, tapi aku didik dengan kekerasan. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing. Dan para barisan pemuda yang entah sejak kapan berkerumun bisa kembali lagi ke kelasnya.”
Mungkin karena waktu sudah menunjukkan waktu istirahat, makanya semua orang berada di luar menyaksikan Syam dan Uqzy. Bahkan seluruh pemuda di sana tersihir oleh kecantikan dan ke elokan yang dimiliki gadis itu. Tapi, yang paling mendalam cinta itu berkibar hanya milik Syam, yang tentu saja rupanya melebihi rata-rata pemuda disana.
Ketika Uqzy ditarik oleh Naila, gadis itu menoleh ke belakang tepat dimana Syam berada. Mata mereka bertemu dan senyum tipis terukir di bibir mungil milik gadis itu. Tentu saja secara otomatis mendapat balasan langsung oleh pemuda di seberang. Teman-temannya pun ikut menikmati keindahan gadis kecil itu tanpa ada yang menyadari kisah cinta sepasang kekasih berumur 13 tahun di tempat tersebut sudah terjadi bahkan sudah begitu dalam.
__ADS_1