
Saat di perjalanan Arya di telepon Keny karena ada suatu masalah di markas.
"Hallo ada apa?" tanya Arya setelah menepikan motornya.
"Bos bisakah kau kesini?" tanya Keny dengan suara gelisah.
"Ada masalah apa?" tanya Arya mengerutkan keningnya.
"Ada sedikit masalah bos." jawab Keny.
"Masalah apa? coba kau ceritakan." ucap Arya.
"Tidak enak bos jika berbicara di telepon, jadi sebaiknya bos kesini biar aku ceritakan semua detailnya." ucap Keny.
"Tunggu aku disana, aku otw." ucap Arya langsung menutup teleponnya.
Setelah memasukkan ponselnya kedalam saku Arya langsung tancap gas menuju markas dengan kecepatan tinggi karena firasat tidak enak.
Saat sampai Arya langsung dibukakan gerbang oleh penjaga karena sudah tau jika itu ketua mereka. Setelah memarkirkan motornya Arya langsung mendatangi Keny di ruangan khusus untuk petinggi geng.
"Ada masalah apa?" tanya Arya serius.
"Anggota kita ada beberapa yang positif narkoba bos dan Draco tadi diserang oleh musuh saat beli rokok." jawab Keny.
"Siapa yang berani memakai barang haram itu?" tanya Arya dingin.
"Dari seluruh anggota ada setidaknya 25 orang yang positif dan kami juga menemukan barangnya di kamar mereka." jawab Keny sedikit gemetar.
"Segera rehab mereka semua dan hukum mereka dengan tidak di gaji selama dua bulan penuh." ucap Arya.
"Baik bos saya akan laksanakan perintah dengan baik." ucap Keny.
"Lalu siapa yang menyerang Draco? dan apa lukanya parah?" tanya Arya.
"Dari rekaman cctv aku melihat yang menyerang Draco adalah anggota dari geng Macan Putih dan untuk lukanya hanya terdapat beberapa luka sayatan di punggungnya." jawab Keny.
"Kau selidiki terus apa motif dibalik penyerangan Draco dan suruh anggota kita untuk berlatih dengan giat karena aku merasakan firasat buruk di masa depan." ucap Arya.
"Baik bos." ucap Keny.
Setelah itu Arya langsung pulang ke apartemen nya untuk istirahat karena terlalu lelah.
Saat ingin memasuki apartemen nya Arya melihat ada satu keluarga yang asing bagi Arya karena belum pernah melihat wajah mereka selama satu minggu ini.
'Siapa mereka? kenapa aku asing dengan wajah mereka? dan kenapa jam segini baru pindahan?' tanya Arya heran karena sudah jam 01.30.
Selama satu minggu ini Arya sudah mengenal seluruh orang yang tinggal di lantai yang sama dengan Arya. Namun keluarga itu Arya belum mengenalnya sama sekali.
'Ah masa bodoh yang penting tidak mengganggu saja.' ucar Arya.
Setelah itu Arya masuk kedalam apartemennya dan mengganti bajunya untuk tidur agar lebih nyaman.
Keesokan harinya
Arya bangun lebih siang karena tidak ada sistem yang membangunkannya untuk melakukan misi harian.
"Hoamm... nyenyaknya tidurku malam ini." ucap Arya sambil meregangkan otot tubuhnya.
Setelah itu Arya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri Arya langsung memasak sarapan karena sudah lapar.
Selesai sarapan Arya langsung berangkat ke kampus menggunakan mobil. Sesampainya di kampus Arya langsung masuk ke kelas untuk menemui Doni dan Rizal.
"Arya sini!" panggil Doni.
Arya menaruh tasnya di kursinya terlebih dahulu kemudian menghampiri Doni dan Rizal yang sedang berbincang-bincang.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Kau tau Joni sudah sembuh dan kuliah di sini mengambil jurusan bisnis bersama dua temannya dan Silvi juga." jawab Doni.
"Siapa dua temannya itu?" tanya Arya mengerutkan keningnya.
"Namanya itu kalau tidak salah Brian dan Joko." jawab Doni.
"Seperti pernah dengar." ucap Arya mengelus dagunya.
"Perasaanmu saja mungkin yak." ucap Doni.
"Mungkin." ucap Arya.
Tak lama kemudian dosen datang bersama seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam sebahu.
'Anj*** cantik bet bang***!' umpat Arya dalam hati.
"Selamat pagi, pertama tama kenalkan ini Hani salah satu mahasiswi baru di kampus ini. Hani silahkan perkenalkan dirimu." ucap dosen.
"Selamat pagi teman teman semua, perkenalkan nama saya Meyranda Kusumahani biasa di panggil Hani, mohon bantuan teman teman semua untuk membantu memahami pelajaran jika saya tidak terlalu paham." ucap Hani.
"Dengan senang hati." ucap Arya sendiri karena semua orang yang ada di kelas hanya diam terpesona dengan kecantikan Hani.
'Saking lama menjomblo pria pria ini menjadi seperti ini astaga.' ucap Arya menggeleng pelan.
Hani hanya tersenyum kecil karena melihat tingkah pria-pria yang ada di kelas itu.
"Hani silahkan kamu duduk di kursi samping Arya bodoh itu." ucap dosen yang selalu menggoda Arya di setiap pelajarannya.
"Mulai mulai!" ucap Arya siap melempar sapu.
"Santai dong." ucap dosen itu yang bernama Ruben.
"Nyenyenyenye." ucap Arya yang membuat satu kelas tertawa.
"Tugasmu sudah selesai belum Arya?" tanya Ruben.
"Aduh..." ucap Arya menepuk keningnya.
"Kenapa? pasti belum selesai." ucap Ruben memegang rotan sepanjang 60cm.
"Sudah dong! Arya kan anak teladan masa seperti itu!" ucap Arya menepuk dadanya.
"Mana sini kumpulkan kedepan." ucap Ruben.
Arya mengeluarkan bukunya dan mengumpulkan ke meja Ruben. Setelah itu Arya kembali ke tempatnya dengan santai tanpa beban.
"Boleh kenalan?" tanya Hani tiba tiba.
"Arya." jawab Arya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Hani, salam kenal." ucap Hani gerogi.
"Woke!" ucap Arya mengacungkan jempol nya.
Kelas kembali dimulai setelah Ruben selesai menilai tugas Arya yang mendapatkan nilai sempurna.
.
.
.
Waktu istirahat pun datang Arya dan dua sahabatnya langsung menuju ke kantin karena sudah sangat lapar.
"Don tolong belikan ayam geprek satu sama es teh." ucap Arya memberikan uang seratus ribu.
"Kembaliannya buat aku ya." ucap Doni.
"Terserahmu mau buat beli makan juga gak papa." jawab Arya.
"Sekalian deh Don samain kayak Arya." ucap Rizal memberikan uang seratus ribu.
"Woke!" ucap Doni.
Setelah Doni pergi tak lama Hani datang dengan membawa makanannya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Hani.
"Silahkan silahkan tidak ada yang ngelarang juga kok." jawab Rizal ramah.
"Makasih." ucap Hani duduk di depan Arya.
Saat Arya mendongak Arya terkejut karena ada Hani di depannya.
"Pacarmu mana Zal?" tanya Arya sambil bermain games di ponselnya.
"Gak tau tumben banget belum keluar." jawab Rizal.
"Kalau kamu Han?" tanya Rizal.
"Apa?" tanya Hani balik.
"Pacar, pacarmu kemana?" tanya Rizal.
"Aku enggak punya pacar dan belum punya temen juga disini." jawab Hani.
"Ohh gitu toh." ucap Rizal.
Tak lama Doni bersama Rosa dan Stella datang membawa makanan.
"Ini makanannya." ucap Doni menyodorkan dua piring ayam geprek dan nasi kepada Rizal.
"Makasih Don." ucap Arya.
"Santai aja." ucap Doni.
"Siapa ini by?" tanya Rosa pada Rizal.
"Itu Hani murid baru di kelas ku, kalian kenalan deh kasian dia belum punya temen." jawab Rizal.
"Rosa, salam kenal." ucap Rosa ramah.
"Stella, salam kenal." ucap Stella.
Mereka pun mulai makan siang dengan lahap hingga tiba tiba ada senior yang menggebrak meja hingga semua makanan tumpah.
"Yah tumpah bangsat!" umpat Arya.
"Pindah! tempat ini mau dipakai bos kami!" ucap senior 1.
"Okeh!" ucap Arya menahan amarah.
Saat Arya ingin pindah tempat dia didorong hingga jatuh namun masih menahan marah.
"Apa sih mau mu?" tanya Rizal yang sudah mengepal tangan.
"Apa kau melawan hah? dasar rendahan!" ucap senior 2.
"Sudah Zal ngalah aja, gak sepadan juga." ucap Doni menekan ucapan terakhirnya.
"Berani kau!!!" teriak senior 3 penuh amarah.
Arya dan yang lainnya pergi tanpa menghiraukan para senior itu yang sedang marah.
"Dasar tidak punya sopan santun! apakah orang tua kalian adalah orang gila sampai tidak bisa mengajari kalian sopan santun hah!" teriak senior 1 yang membuat semua orang disana menoleh dan menonton.
Arya yang sedari tadi hanya diam menahan amarah karena tidak mau di pandang buruk oleh Hani langsung berlari dan menendang dada senior itu ala kungfu.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
"Jika kau menghinaku aku masih bisa tahan, tapi jika kau menghina orang tuaku maka kalau tidak rumah sakit ya kuburan jawabannya. Dan aku tunggu Ramli dan gengnya di lapangan untuk bertarung." ucap Arya dengan penuh amarah.
Ketiga senior itu langsung berlari ketakutan sambil memegangi bagian tubuh yang sakit.
"Don apa kau ikut olah raga?" tanya Arya menyeringai.
"Gass!" jawab Doni semangat.
"Aku ikut!" ucap Rizal.
Arya mengangguk dan langsung pergi ke lapangan untuk menunggu Ramli dan gengnya.
"Kau tau ayahnya petinggi geng mana?" tanya Arya.
"Setahuku ayahnya itu petinggi geng Macan Putih yang berkuasa di daerah Bekasi." jawab Rizal.
"Kebetulan sekali Draco kemarin baru di sedang anggota geng itu." ucap Arya.
"Wah kebetulan!" ucap Rizal.
Tak lama kemudian Ramli dan gerombolan nya datang dengan membawa balok kayu, celurit, besi dan benda tumpul lainnya.
__ADS_1
[Selamat siang tuan!]
[Wah baru saja bangun sudah ada keributan saja!]
Arya terkejut saat mendengar sistem yang kini memiliki emosi.
[Misi harian di picu!
Kalahkan mereka semua dan interogasi tentang penyerangan pada Draco.
Hadiah: 100 Poin Status
Hukuman jika gagal: Semua kemampuan yang tuan miliki hilang /hangus]
Arya menjadi semakin semangat karena ada hadiahnya namun dia juga bingung apa itu poin status.
"Apa hanya bertiga saja?" tanya Ramli meremehkan.
"Bertiga saja sudah cukup untuk mengalahkan anak anak culun seperti kalian." jawab Rizal dengan tatapan merendahkan.
"Tapi kemana para dosen kok bisa mereka membawa senjata seperti itu?" tanya Arya pada Doni.
"Aku tidak tau." jawab Doni.
"Mencurigakan." ucap Arya.
'Mata tembus pandang aktif!' ucap Arya.
Saat melihat sekelilingnya Arya terkejut karena melihat para dosen di kunci oleh anak buah Ramli di ruangan mereka agar tidak melihat perkelahian ini.
Arya tanpa banyak bicara langsung berlari menyerang kumpulan anak buah Ramli yang berjumlah 20± orang itu. Dan para mahasiswa/i menonton dari kelas masing masing karena takut terlibat.
Doni dan Rizal menyusul Arya dengan menyerang anak buah Ramli yang memakai tongkat besi dan balok kayu.
Bugh
Bagh
Bugh
Bagh
Tung
Arya mengambil tongkat besi yang terjatuh untuk melawan balik. Banyak yang bocor karena pukulan Arya dan ada juga yang patah tulang itu karena ulah Rizal dan Doni.
Tak sampai 10 menit semua anak buah Ramli pingsan dengan beberapa luka di tubuhnya. Kini hanya tersisa Ramli yang ketakutan hingga gemetar.
"Aku mau tanya padamu, apa kau kemarin memukuli seseorang dengan kepala botak?" tanya Rizal.
"Aku tidak pernah memukuli orang di luar kampus tapi aku kemarin mendengar jika ayahku dan bosnya berencana untuk memukuli seseorang yang bernama Draco." jawab Ramli.
"Terimakasih atas informasinya sebaiknya kau tidur." ucap Arya memukul kepala Ramli pelan yang membuatnya pingsan.
"Pelan loh itu." ucap Arya.
"Pelan matamu pelan! pelan kok sampai pingsan!" umpat Doni.
Semua dosen pun datang kelapangan dengan perasaan wad was.
"Apa ini semua perbuatan kalian?" tanya rektor kampus.
"Mereka duluan yang memulai pak jadi kita hanya membela diri saja." jawab Arya dengan muka ta bersalah.
"Apa masalahnya?" tanya rektor kampus.
"Dia menghina orang tua saya dengan kata 'orang gila', jadi ya saya pukuli biar kapok." jawab Arya.
"Aduh parah sekali ucapannya, kali ini kalian saya maafkan dan kalian boleh kembali ke kelas kalian." ucap rektor kampus menghela nafas panjang.
Arya dan kedua sahabatnya kembali ke kelas dengan wajah tak bersalahnya. Saat sampai di kelas Arya langsung duduk di kursinya sambil menunggu dosen masuk.
Namun Hani tiba tiba berteriak yang membuat Arya terkejut.
"Arya tanganmu berdarah!" teriak Hani.
Benar saja tangan Arya terluka parah karena terkena celurit.
"Kau diam di situ biar aku ambilkan kotak P3K." ucap Hani khawatir.
Setelah mendapatkan kotak P3K Hani langsung mengobati Arya dengan telaten dan itu membuat Doni dan Rizal iri karena mereka juga terluka.
Tiba tiba Rosa dan Stella masuk dengan tergesa gesa dan menghampiri Doni dan Rizal.
"Kamu gak papa kan by?" tanya Rosa pada Rizal.
"Gak papa santai aja." jawab Rizal.
"Kamu gak luka kan sayang?" tanya Stella pada Doni.
"Aku kan kuat jadi gak mungkin luka." jawab Doni.
"Hilih tadi kena pukul balok kayu ngeluhnya sakit!" ucap Arya yang membuat satu kelas tertawa.
"Kalian semua tidak usah takut padaku anggap aja kejadian tadi enggak ada oke." ucap Arya mengangkat kedua tangannya yang membuat Hani marah.
'Plak!'
"Diem dulu! di obatin kok banyak gerak!" ucap Hani memukul kepala bagian belakang Arya.
Arya hanya diam mengikuti saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
"Pawangnya udah ketemu nih Don, jadi kita gak kesusahan lagi hehe." bisik Rizal.
"Iya hehehe." jawab Doni nyengir kuda.
"Dah selesai!" ucap Hani yang memperlihatkan tangan Arya yang terbalut perban dengan sangat rapi.
"Kamu berbakat jadi suster loh Han, kenapa malah milih jurusan teknik informatika dan komputer?" tanya Rosa.
"Aku suka main komputer aja jadi aku masuk jurusan ini." jawab Hani.
"Ohhh." mereka hanya ber-oh ria saja.
Karena sudah selesai semua Rosa dan Stella kembali ke kelas mereka karena takut dihukum dosen karena telat masuk kelas.
Tak lama Rosa dan Stella keluar dosen yang akan mengajar masuk dengan biasanya. Dan itu berlangsung hingga waktu pulang para mahasiswa/i pulang seperti biasanya tanpa ada wajah ketakutan atau trauma.
__ADS_1
Arya pulang ke apartemen dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun begitu pula dengan Doni dan Rizal.