System Kesuksesan

System Kesuksesan
Episode 14: Terkuaknya Perbuatan Andi


__ADS_3

Hening sejenak


"Kau belum tau saja jika ibuku mengamuk." ucap Arya ketakutan.


"Ya, dia belum tau saja bagaimana jika Mama yang mengamuk!" ucap Rizal gemetar jika mengingat kejadian Arya sekarat.


"Wuihhhh mengerikan sekali!" ucap Doni ikut gemetar.


"Ibu bahkan bisa mematahkan tulangmu jika sangat marah Andi. Tapi kau beruntung menjadi anak kesayangannya." ucap Arya duduk di samping Hani.


"Semengerikan itukah ibu?" tanya Andi ketakutan.


"Jika kau pernah melihat gorila mengamuk, nah itu dia perumpamaan yang tepat. Ibu bahkan bisa membuatmu koma jika sampai membuatnya sangat sangat marah." jawab Arya.


"Kau hari ini beruntung Andi, kakak harap kau bisa berhenti tawuran dan mabuk agar tidak membuat kecewa ibu." ucap Arya.


"B-bagaimana kakak bisa tau jika aku mabuk mabukan?" tanya Andi.


"Bahkan kau pernah berhubungan intim kan? dan saat wanitanya hamil kau tinggalkan! kau itu memang lelaki brengsek! aku malu punya adik sepertimu yang tidak mau bertanggung jawab!" ucap Arya sedih.


"Astaga Andi ternyata kau itu pria culun ya! aku tidak mau tau kau harus bertanggung jawab pada wanita yang kau hamili! kalau tidak titidmu akan aku amputasi!" ucap Rizal sangat kecewa.


"Aku berjanji akan bertanggung jawab pada wanita itu! tapi kakak jangan bilang pada ibu aku mohon!" ucap Andi.


"Ayah dan ibu sudah tau semuanya sejak lama Andi tapi kami tidak mau memberitahu kakakmu supaya bisa tenang berkuliah dan kau tau ibumu semalaman menangisi perbuatanmu. Dia merasa bersalah karena gagal mendidik anak laki laki kesayangannya." ucap Arif tiba tiba masuk seorang diri.


Andi hanya bisa menangis menyesali perbuatannya selama ini. Arya yang sedari tadi sangat sedih menjadi lebih sedih lagi saat mendengar ucapan ayahnya.


"Sabar by sabar, itu semua pengorbanan orang tua kamu demi kamu bisa tenang berkuliah dan bisa menjadi sarjana tanpa merasa bersalah karena gagal mendidik seorang adik." ucap Hani mengelus punggung Arya agar bisa tenang.


"Benar yang dibicarakan pacarmu Arya, ayah dan ibu mau kamu bisa kuliah dengan tenang tanpa merasa bersalah pada dirimu sendiri karena gagal mendidik seorang adik yang tidak berguna sama sekali." ucap Arif.


Arya hanya diam membisu dan tidak membalas ucapan ayahnya.


Brak...


"Kak Arya! mana kak Arya!!" teriak sesosok anak perempuan berusia 10 tahun.


Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung terkejut dengan kedatangan anak perempuan itu. Arya langsung menghapus air matanya agar tidak dilihat anak perempuan itu.


"Putri kemari kenalkan ini teman kakak." ucap Arya tersenyum paksa.


Anak perempuan itu ternyata adalah putri yang sedang mencari kakak tersayangnya.


"Kakak kenapa menangis?" tanya Putri.


"Siapa yang menangis? putri salah liat saja kakak hanya kelilipan debu saja." jawab Arya.


"Lalu ini siapa? apa ini pacar kakak?" tanya Putri.


"Hallo Putri, salam kenal panggil saja kak Hani okee!" ucap Hani memegang pipi Putri.


"Hallo kak Hani aku Putri!" ucap Putri memeluk Hani.


Arya, Rizal, Doni dan ayah Arya terkejut dengan sifat Putri kali ini yang berbeda dengan biasanya. Biasanya Putri tidak akan mau memeluk orang asing yang baru dia temui.


"Hai Putri, Putri dari mana?" tanya Rosa.


"Hai kak Rosa! putri baru saja pulang dari sekolah dan langsung ke sini diantar paman Beni karena ayah sedang menjaga kak Andi yang terluka." jawab Putri.


"Hai Putri apa kabar?" tanya Stella.


"Putri sehat, kak Stella bagaimana?" tanya Putri balik.


"Kakak sehat sama seperti putri." jawab Stella mencubit pipi tembem Putri.


"Kakak ke depan dulu ya, Putri disini dulu bersama kakak kakak ini." ucap Arya yang sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Kakak mau beli minum?" tanya Putri.


"Iya kakak mau beli minum dulu." jawab Arya.


"Hati hati ya, kak Arya tidak boleh balas dendam ya." ucap Putri yang membuat Arya semakin sedih.


"Putri tenang saja ya, kak Arya nggak bakal berbuat seperti itu kok." ucap Hani.


Arya langsung keluar tanpa berbicara lagi, Arya berjalan menuju warkop didepan rumah sakit untuk merokok dan menenangkan hati.


"Pak kopi item satu jangan manis manis." ucap Arya mengeluarkan sebungkus rokok dan ponselnya.


"Tunggu bentar ya mas." ucap penjual.


Arya mengangguk dan tersenyum, kemudian melanjutkan bermain ponsel.


"Tolong lacak nomor ibu ini dan sekalian kau kirim semua data yang kau dapat dari kelakuan adikku selama ini. Kalau bisa sertakan fotonya juga." Andi mengirim pesan pada Keny.


10 menit kemudian Keny mengirimkan nomor telepon ibu dari wanita yang di hamili Andi.


"Bagus sekali!" Arya memuji kinerja Keny yang sangat cepat dan cekatan.


Arya membayar kopinya dan berjalan ke dalam rumah sakit sambil menelepon nomor telepon ibu pacar Andi.


"Hallo dengan siapa ini?" tanya seorang wanita dalam telepon.


"Mohon maaf mengganggu ibu, ini saya kakaknya Andi ingin mengajak bertemu apakah bisa?" tanya Arya sopan.


"Untuk apa ya?" tanya ibu pacar Andi.


"Saya ingin membicarakan tentang permasalahan yang Andi buat. Andi mau untuk bertanggung jawab atas kesalahan nya dengan anak ibu. Jadi saya ingin membicarakan tentang persetujuan ibu." jawab Arya.


"Syukurlah kalau Andi mau bertanggung jawab, saya juga sebenarnya tidak percaya jika Andi yang melakukannya tapi bagaimana lagi tes DNA-nya sudah cocok. Sebenarnya Andi ini anak yang baik dan sopan tapi karena salah pergaulan jadinya begitu. Mas mau bertemu dimana? saya ngikut saja." ucap ibu pacar Andi.


"Kalau ibu mau dirumah sakit tempat Andi dirawat." ucap Arya.


"Astaga ada apa dengan Andi? apa dia tawuran lagi?" tanya ibu pacar Andi syok.


"Baik mas saya tunggu alamatnya, siang ini saya bakal datang kesana." ucap ibu pacar Andi.


"Baik bu." jawab Arya.


Arya mematikan teleponnya dan berjalan ke ruangan Andi dengan raut muka susah dijelaskan.


Saat masuk kedalam Arya melihat putri sudah tidur di pangkuan Hani dan ibu Arya juga sudah di dalam dengan raut wajah gelisah.


Arya berjalan menghampiri kasur Andi dan duduk di kursi dekat jendela. Andi membuka jendela dan menyalakan rokoknya serta menyedotnya dalam dalam.


"Ibu wanita yang kau hamili sudah aku undang kesini untuk menyelesaikan masalah yang kau buat. Aku minta kau diam saja saat aku berbicara dengan ibunya nanti, mengerti!" ucap Arya dingin.


Andi hanya mengangguk pasrah karena dia tau kakaknya saat ini sedang marah besar.


"Arya jangan terlalu keras sama adikmu." ucap Titi.


"Ibu masih membelanya? aku hari ini akan mendidik anak brengsek ini agar bisa bertanggung jawab. Jika ibu masih membelanya tidak mungkin anak ini mau berubah...."


"Ibu tidak tau kan si brengsek ini juga pakai narkoba?" tanya Arya.


Ibu dan ayah Arya sangat terkejut dengan ucapan Arya barusan.


"Kamu jangan asal ngomong Arya!" ucap Titi agak tinggi.


Arya melempar ponselnya ke meja didepan ibunya yang sangat memanjakan Andi.


"Ibu lihat itu, tadi sebenarnya Arya ingin melaporkannya ke polisi karena di dalam dompetnya juga ada 1 gram sabu. Tapi karena aku tidak mau ibu menjadi sedih jadi lebih baik aku membakarnya saja." ucap Arya menyesap rokoknya.


"Canggih juga ya si Keny itu bisa dapetin bukti sedetail itu." ucap Doni berdiri di samping Arya.

__ADS_1


"Jelas! tangan kananku!" jawab Arya.


"Roni gimana kabarnya?" tanya Arya menghiraukan tangisan ibunya.


"Aiihhh sibodoh itu selalu saja pikirannya ng*** terus! nyerah dah aku ngurusin dia." jawab Doni mengambil kursi dan duduk di samping Rizal yang sama sama duduk di dekat jendela bersama Arya karena sedang ngerokok.


"Emang si tolol itu maniak *** sih." ucap Rizal menghiraukan tangisan yang mengisi ruangan Andi.


"Oh ya kalau boleh aku pinjem 10 anak buahmu buat ngelatih di tempatku." ucap Doni.


"Bilang ama Draco aja." ucap Arya.


"Oke bos." ucap Doni.


Ayah Arya berjalan ke tempat tiga orang itu duduk dan berbincang-bincang sambil membawa kursi.


"Minta rokoknya Ya." ucap Arif lemas.


Arya langsung menyodorkan sebungkus rokok sekaligus koreknya pada ayahnya.


"Ayah tau tidak siapa ketua geng Macan Putih?" tanya Arya.


"Ketuanya kan paman mu sendiri, si Beni itu ketuanya, memangnya kenapa?." tanya Arif balik.


"Tidak apa apa hanya masalah kecil saja." jawab Arya.


"Ohh." ucap Arif.


Setelah ibu Arya tenang dia mengajak berbicara Andi dengan suara serak.


"Nak kenapa kamu melakukan ini semua? apa kamu kurang kasih sayang ibu dan ayah?" tanya Titi sedih.


Andi hanya diam tak menjawab pertanyaan ibunya karena rasa bersalah yang sangat besar.


"Apa yang mengajarkan mu memakai narkoba temanmu yang bulan lalu kerumah?" tanya Titi.


"Bukan." jawab Andi.


"Dua anak itu malah yang harus kita beri hadiah, mereka mengajak si brengsek ini untuk menyudahi hubungan dengan dunia gelap dan menata masa depan yang cerah bersama." ucap Arya.


"Sekarang ibu tanya padamu apa keuntungan dari semua perbuatanmu?" tanya Titi.


Andi hanya bisa menggeleng sambil menangis tersedu-sedu.


"Tidak ada kan? sekarang baru kamu bisa menyesalkan? coba tadi dompetmu yang menemukan polisi, kamu mungkin sekarang sudah disidang. Jadi ibu mohon padamu agar bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Janji ya Andi! ibu memberimu satu kesempatan lagi jadi jangan kamu sia siakan." ucap Titi.


"Besok setelah menikah kau bisa bekerja di restoran kakak untuk menghidupi istrimu dan calon bayimu itu." ucap Arya.


"Makasih banyak kak Arya sudah membantu Andi menyelesaikan masalah yang ada." ucap Andi menangis sejadi-jadinya.


"Ingat satu kesempatan tidak akan datang dua kali." ucap Arif.


Tak lama kemudian pintu ruang diketok dan Rosa membukanya.


"Cari siapa ya ibu?" tanya Rosa sopan.


"Apa benar ini ruangannya Andi adik dari Arya? tadi saya sudah janjian dengan mas Arya." jawab ibu itu.


"Tunggu sebentar biar saya beritahu mas aryanya." ucap Rosa.


"Iya saya tunggu disini." jawab ibu itu.


Rosa masuk dan memberitahu Arya jika ibu dari pacar Arya sudah datang.


"Ibu pacar Arya sudah datang." ucap Rosa yang membuat satu ruangan menjadi hening.


Arya berdiri dan menemui ibu pacar Andi untuk mempersilahkan masuk.

__ADS_1


"Ibu silahkan masuk, ayah dan ibu saya juga sudah datang." ucap Arya.


"Oh ya makasih mas." ucap ibu pacar Andi yang di sampingnya berdiri seorang gadis cantik namun masih kalah jauh dengan Hani.


__ADS_2