
Malam harinya
Arya sudah ada di markas besar The Kings bersama Doni dan Rizal di sana. Mereka sedang menyusun rencana untuk menyelamatkan Putri dan Ani yang sedang dalam bahaya.
"Jika kita langsung menyergap di markas mereka pasti ada jebakan yang akan menimbulkan korban jiwa dari pihak kita." ucap Rizal.
"Begini saja, kau, Doni, Joni dan Faris pergi menyelamatkan Putri dan Ani serta bawa ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa kesehatannya. Sedangkan aku, Draco dan Keny akan memusnahkan geng berbahaya ini sampai ke akar-akarnya." ucap Arya.
"Kau yakin?" tanya Doni.
"Jangan lupa bawa beberapa anak buahmu untuk jaga jaga jika di sergap di tengah jalan." ucap Arya.
"Baiklah kalau itu mau mu, aku harap kau baik-baik saja." ucap Rizal pasrah.
Mereka semua keluar ruangan rapat dan menyiapkan senjata yang akan dia pakai dan perlengkapan yang lainnya.
Arya mengeluarkan dua pedangnya dan menaruh di punggungnya serta memakai topeng Hannya yang dia dapat dari kotak hadiah.
Arya menggunakan pakaian serba hitam agar lebih enak untuk menyusup di markas musuh. Setelah semua siap Arya keluar dari ruangannya dan berjalan ke halaman markas yang sudah ada sekitar 2000 anggota yang akan ikut dalam pemusnahan malam itu.
Arya naik ke atas podium dengan gagahnya.
"Malam ini akan menjadi malam yang di penuhi darah, aku mau kalian semua saling melindungi satu sama lain. Jangan sampai ada satu nyawa yang melayang karena kejadian malam ini. Ingat lindungi orang yang ada di dekat kalian jangan terpancing emosi. Mengerti!" ucap Arya.
"Mengerti!!!" jawab seluruh anggota The Kings dengan tegas.
"Mari kita habisi orang-orang yang berani mengusik The Kings!!!" ucap Arya lantang.
"Yeaahhhhhhh!!!!" semua anggota berteriak keras.
Setelah itu para anggota The Kings menaiki kendaraan yang sudah di sediakan. Sedangkan Arya menaiki mobil yang di kendarai Draco. Doni, Rizal, Joni dan Faris menggunakan mobil lain dan mereka tidak ikut rombongan Arya tapi mereka memisahkan diri bersama satu truk untuk menyelamatkan Putri dan Ani di tempat berbeda yang di jaga anggota geng motor Cobra.
Di saat perjalanan Arya selalu di telepon para saudaranya yang menguasai beberapa daerah di Jakarta untuk ikut membantu memusnahkan geng motor Cobra yang meresahkan itu.
Namun Arya hanya meminta mereka untuk duduk menunggu kabar gembira datang.
"Apa lahan di belakang itu kosong?" tanya Arya.
"Kosong bos." jawab Keny.
"Besok kau buat kandang buaya dan kolam piranha, oh ya tanah yang di tempat lama kau buat kolam hiu putih yang besar. Aku kemarin baru beli lima ekor ikan hiu tapi bingung mau taruh mana." ucap Arya.
"Untuk apa bos buat seperti itu?" tanya Arya.
"Buat nyiksa musuh aja." jawab Arya santai.
"Iya juga ya, kenapa dulu kita gak kepikiran ya?" ucap Draco.
"Dulu kita masih miskin bodoh!" ucap Keny.
Arya menyuruh Draco untuk parkir di jarak 1km dari markas musuh supaya tidak dicurigai musuh.
Setelah parkir Arya langsung keluar mobil dan menghilang begitu saja tanpa ada pesan pada Keny atau Draco.
"Kita tunggu bos dulu, sepertinya bos sedang memeriksa jebakan yang ada didalam." ucap Keny.
Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya Arya datang dengan memakai topengnya.
"Kalian kepung dan masuk secara perlahan dan jangan sampai ada satupun yang lolos. 100 orang ikuti aku masuk kedalam lewat pintu depan. Aku akan memberi tanda satu tembakan untuk kalian keluar. Perhatikan langkah kalian juga, di setiap lantai didalam ada satu ranjau bom yang ditanam. Jangan injak lantai yang menonjol keatas." ucap Arya.
"Siap bos!" ucap semua orang serentak tapi pelan.
Anggota yang ada di sana membubarkan diri dan membuat kelompok sendiri untuk melindungi satu sama lain agar tidak jatuh korban.
Mereka berpencar mengelilingi markas geng motor Cobra dan menyusup untuk menunggu tanda dari bosnya.
Sedangkan Arya saat ini masih berada di depan gerbang markas geng motor Cobra yang sangat tinggi dan tebal.
"Coba kau ketok supaya ada yang buka." ucap Arya.
Draco mengetok gerbang besar didepannya dengan keras. Tak lama gerbang di buka dengan lebar.
"Perhatikan langkah kalian." ucap Arya.
Arya masuk ke dalam dan langsung membunuh penjaga dengan dager yang ada di sakunya.
__ADS_1
Ketua geng yang ada didalam tidak tau jika mereka akan diserang malam itu juga. Ketua geng dan dua wanitanya saat itu sedang berhubungan intim dengan nikmatnya dan tidak tau jika mereka sedang berada dalam bahaya.
Arya dan pasukannya saat itu langsung membunuh seluruh anggota geng motor Cobra tanpa suara sedikitpun.
Anggota yang mengepung juga membunuh semua orang yang mereka jumpai tanpa terkecuali termasuk orang yang sedang menyiksa tahanannya tapi tidak dengan tahanannya.
Dorrr
Arya menembakkan satu peluru untuk penanda bahwa anggota yang ada di depan sudah habis terbunuh dan menyuruh semua anak buahnya keluar dari persembunyiannya.
Suara langkah kaki terdengar sangat jelas dibarengi dengan getaran di tanah seperti gempa.
10 menit kemudian berkumpul lah seluruh anggota yang Arya bawa sebanyak 1000 orang dengan membawa ketua geng bersama dua wanitanya yang sudah berbusana.
"Apakah ada sandera?" tanya Keny.
"Apakah mau di bebaskan sekarang bos?" tanya salah satu anggota yang dipenuhi darah.
"Bebaskan sekarang saja dan ambil semua harta yang ada di ruang penyimpanan sekalian senjatanya." ucap Keny.
Setengah dari mereka membubarkan diri untuk menyelamatkan sandera dan mengambil harta di ruang penyimpanan.
Arya melihat salah satu wanita yang di pegang oleh anak buahnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Arya melepas topengnya.
Wanita itu adalah Hani, wanita yang menyusup ke kehidupan Arya hanya untuk mengetahui kelemahannya.
Hani hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Arya.
"Untung saja aku tidak menikahimu, kalau sampai aku menikahimu paling aku akan menyesal karena mendapatkan sesuatu yang sudah bekas dan tak layak pakai." ucap Arya.
Draco menahan tawanya saat mendengar ucapan Arya yang menurutnya sangat lucu.
'Plak...'
Keny memukul kepala Draco agar menahan tawanya.
"Tahan dulu jangan tertawa bodoh!" bisik Keny yang hampir ikut tertawa.
Arya sebenarnya juga ingin tertawa tapi untuk menjaga imagenya dia menahannya dengan sekuat tenaga.
Kring..kring..kring..
Ponsel Arya berbunyi dan menampilkan foto Doni disana.
"Hallo ada apa Don?" tanya Arya.
"Kau dimana?" tanya Doni.
"Di markas geng Cobra, kenapa?" tanya Arya balik.
"Disini ternyata banyak tahanan juga ada sekitar lima puluh orang." jawab Doni.
"Bawa ke rumah sakit Cinta Sehat aja, nanti biar aku yang tanggung biayanya." ucap Arya.
"Oke! putri sama Ani udah dianter Rizal pulang ke rumah nemuin ayah dan ibumu." ucap Doni.
"Kalau begitu terima kasih atas kerjasamanya!" ucap Arya.
"Santai ajalah! nanti mamaku katanya mau ke markasmu buat nemuin ketua geng Cobra yang mau di jodohin sama Anggi." ucap Doni.
"Mau ngapain sih?" tanya Arya.
"Kau liat saja nanti." jawab Doni mematikan teleponnya.
Tak lama kemudian setengah anggota yang sedang menjarah markas geng Cobra datang mengendarai truk yang ada di sana.
"Bos hartanya terlalu banyak jika di bawa pakai tangan jadi aku angkut pakai truk saja." ucap pria yang mengendarai truk berisi harta seperti perhiasan dan uang.
"Dimana yang lainnya?" tanya Keny.
"Sedang mencari kunci truk yang lain untuk di bawa sekalian itung itung tambah unit bos hehe." ucap pria itu cengengesan.
"Mantap! kita tidak usah keluar uang banyak untuk beli truk baru, truk ini masih bagus dan tinggal di cat ulang pakai logo kita." ucap Draco.
__ADS_1
"Loh katanya geng motor kok ada truk segala?" tanya Arya.
"Anggota geng ini banyak yang tidak punya moge bos jadi mereka biasa konvoi pakai truk ini." jawab Keny.
"Ambil aja sekalian motornya lumayan buat di jual." ucap Draco.
"Ish ini pentol korek mata duitan banget dah!" ucap Arya sambil memukul kepala Draco yang gundul pelontos tanpa ada rambutnya.
Sisa anggota yang ada di sana tertawa bahagia karena bisa kembali merasakan kehangatan keluarga walau hanya sebatas teman geng.
Tak lama iring iringan truk dan motor datang dan parkir di samping truk yang disi harta geng Cobra.
"Wuihhhh keren keren anjay truknya!" ucap Draco yang memang pada dasarnya pecinta truk.
"Bawa semua ke markas dan jangan bakar tempat ini! itung itung tambah properti geng kita!" ucap Arya.
Mereka keluar markas geng Cobra dengan membawa ketuanya sekaligus dua wanitanya. Mereka membawa semua tahanan ke rumah sakit Cinta Sehat untuk dirawat.
Sesampainya di markas Arya melihat mobil yang dia kenal terparkir di parkiran khusus tamu.
Setelah semua terparkir Arya menyuruh anggota geng yang ada di markas untuk membantu menurunkan barang barang hasil jarahan ke ruangan harta supaya nanti bisa di pilah oleh anggota khusus bagian keuangan.
Selesai memberikan tugas Arya masuk ke rumah yang dia jadikan sebagai tempat biasa dia mengecek keuangan geng dan tempat biasa bersantai jika sedang berada di markas.
Saat Arya masuk kedalam dia melihat Rosa, Stella, Doni, Rizal, Joni, Faris, dan kedua orang tua Doni.
"Aku mandi dulu ya tante." ucap Arya karena seluruh tubuhnya di penuhi darah manusia.
"Iya Tante tunggu disini." jawab ibu Doni.
Arya langsung masuk ke ruangannya untuk mandi dan meninggalkan Rosa dan Stella yang masih terkejut dengan penampilan Arya barusan.
"Gak usah takut disini orangnya baik baik kok." ucap Doni.
Stella hanya mengangguk tanpa menjawab omongan Doni barusan.
30 menit berlalu
Arya keluar ruangan dengan memakai kaos hitam dan kolor biasa.
"Ada apa tante tumben datang kesini?" tanya Arya.
"Boleh tante temuin pria yang kamu tangkap?" tanya ibu Doni.
"Mau disini aja atau di ruang bawah tanah?" tanya Arya.
"Di bawah ajalah tante pengin liat sekalian ruang bawah disini apa bedanya." ucap ibu Doni.
"Ya udah, kalian berdua kalau mau ikut jangan sampai pingsan." ucap Arya memberi peringatan.
Stella dan Rosa langsung mengangguk cepat tanpa menjawab karena masih tidak percaya bahwa Arya ketua geng paling di takuti di Indonesia.
Arya langsung berjalan keluar rumah dan menuju ke ruangan bawah tanah yang dikhususkan untuk ruangan penyiksaan sekaligus menjadi penjara bagi musuh yang di tangkap.
Saat di perjalanan jika mereka berpapasan dengan anggota yang sedang berpatroli untuk menjaga keamanan dari penyusup, anggota tersebut selalu menyapa dengan sopan dan itu membuat ibu Doni kagum dengan kepemimpinan Arya yang mengedepankan kesopanan namun tidak bisa diremehkan kekuatannya.
Mereka juga melihat kekeluargaan yang sangat erat diantara satu sama lain disana. Saat mereka melewati suatu ruangan Arya berhenti dan membuka ruangan tersebut.
"Jangan terlalu sering minum alkohol, sayangi hati kalian. Aku tidak melarang kalian minum disini tapi aku tidak mau kalian terkena kanker hati atau yang lainnya karena alkohol." ucap Arya.
"Baik bos!" jawab pria pria yang ada di dalam ruangan itu.
"Jauhi narkoba juga oke!" ucap Arya.
"Kalau narkoba kami paling anti bos!" jawab salah satu pria itu dengan tegas.
"Mantap kalau begitu." ucap Arya kembali berjalan menuju ruangan bawah tanah.
Sesampainya di pintu ruang bawah tanah ibu Doni sudah mencium bau darah yang sangat menyengat.
"Aduh Keny tolol kenapa ventilasi gak dibuka bodoh!" gerutu Arya memang didalam ruang bawah tanah sudah terpasok oksigen dari pipa yang langsung menuju ke permukaan.
Saat membuka pintu ruang bawah tanah mereka langsung ingin muntah karena bau darah yang sangat menusuk hidung.
"Hoekkkk..huekkk.. bang*** Keny anj***! tolol!!!" umpat Arya sambil muntah muntah.
__ADS_1
Mereka meninggalkan pintu ruangan bawah tanah sambil menunggu bau amis darah sedikit mendingan.