
Keesokan harinya
Arya bangun pukul 05.30 dan langsung olahraga kecil, setelah itu Arya pergi mandi. Selesai Arya memanaskan truk barunya sambil menelepon Bili untuk datang ke rumahnya.
"Mau kemana ndi?" tanya Desti yang baru bangun tidur karena mendengar suara truk.
"Mau ke pasar sapi." jawab Andi.
"Boleh ikut gak?" tanya Desti yang mulai tertarik dengan dunia persapian.
"Boleh, tapi mandi dulu sana." jawab Andi.
"Okay." ucap Desti masuk ke dalam rumah untuk mandi.
30 menit kemudian Bili datang dengan mengendarai motor matic.
"Mau angkut pakai ini bos?" tanya Bili.
"Iya lah mau pakai apa lagi." jawab Arya.
"Oh iya kemarin ada beberapa petani yang nawarin sapinya ke saya bos, rata rata sih yang di tawarin bobotnya ada di angka 700-800kg bos." ucap Bili.
"Jenis apa? PO, simental, atau limousine?" tanya Arya.
"Kebanyakan sih simental cros limousine bos, tapi positif nya rata rata sapi yang di tawarin itu baru poel satu pasang atau belum genap dua tahun." jawab Bili.
"Ya udah beli aja nanti tak transfer uangnya." ucap Arya.
"Kapan berangkatnya bos? keburu siang ntar gak dapet sapi yang bagus." tanya Bili.
"Bentar aku panggil mbah dulu." jawab Arya masuk rumah.
Arya memanggil manggil mbahnya dan Desti yang akan ikut, tak lama Desti keluar dari kamar Titi dan di ikuti Doni, Rizal, Joni dan Faris yang keluar dari dapur.
"Mbah mana?" tanya Arya.
"Tunggu bentar lagi makan bubur di belakang." jawab Doni mengambil ponselnya lalu dia taruh di saku.
"Kau mau ikut Don?" tanya Arya.
"Iyalah, ntar siapa yang bawa mbah Adi siapa? ya kali duduk di bak truk." jawab Doni.
"Jalan juga otakmu don." ucap Rizal.
"Aku juga mau ikut deh, bosen di sini gak ada kerjaan." ucap Faris.
"Kamu bareng mereka aja ya, aku naik truk sama Bili soalnya." ucap Arya pada Desti.
"Oh oke." jawab Desti mengangguk.
"Aku tunggu di luar ya." ucap Arya.
Arya keluar rumah lalu masuk ke dalam truk.
'Ren beli keahlian mengendarai truk.' ucap Arya.
[Pembelian berhasil! sistem sudah mengirimkan ingatan tentang cara mengendarai truk pada otak tuan]
Di otak Arya mengalir ingatan tentang bagaimana cara mengendarai truk dan teknik teknik tentang membelokkan badan truk. Setelah memahami semua ingatan itu Arya langsung menghidupkan mesin truk dan menyuruh Bili untuk menjadi kenek.
Arya mengeluarkan truk dan di parkiran di depan gerbang supaya nanti tinggal tancap gas saja tidak perlu susah susah menu mundur karena truk milik Arya ini lumayan besar dan bisa muat untuk 20 ekor sapi 800kg.
10 menit kemudian Doni dan yang lainnya keluar rumah dengan pakaian rapi. Mereka memasuki mobil dan memberi isyarat pada Arya untuk berangkat.
"Ayo bil!" ajak Arya pada Bili yang sedang merokok.
Bili masuk kedalam truk dan menunjukkan jalan menuju pasar sapi besar di dekat sana. Ternyata kekasih dari Doni, Rizal, Joni dan Faris juga ikut pergi ke pasar sapi jadi terpaksa mereka harus membawa dua mobil supaya muat.
30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di pasar sapi yang sangat besar dan bau khasnya sudah tercium. Kedatangan truk Arya sempat menjadi sorotan karena sangat keren dan gagah.
Arya memarkirkan truknya di tempat parkir khusus truk lalu pergi menemui teman temannya yang sudah menunggu di pintu masuk pasar.
'Kringg...kringgg...'
Ponsel Arya berdering saat ingin masuk pasar dan memunculkan nama Paidi.
"Halo mas gimana?" tanya Arya.
__ADS_1
"Saya dapat 5 truk nih mas, semua dalam kondisi sehat, mulus, keren, gagah, dan yang paling utama besar dan bisa muat sapi maksimal 30 ekor. Mereka kasih harga 550-600 juta mas." jawab Paidi.
"Saya bayarin deh mas, nanti langsung kirim ke peternakan aja." ucap Arya.
"Oh ya ya, nomor rekening nya masih sama ya mas." ucap Paidi.
"Oke oke." jawab Arya menutup telepon lalu mentransfer uang 3M ke rekening Paidi.
Setelah itu Arya mengajak teman temannya untuk masuk kedalam pasar dan melihat lihat sapi di sana.
"Tadi siapa bos?" tanya Bili setelah melakukan penawaran pada sapi yang potensi 1 ton upnya besar.
"Truk, tadi pinginnya sih langsung tak suruh ke sini biar bisa muat sapi banyak tapi setelah di pikir pikir besok kan masih ada waktu jadi ya udah langsung suruh ke peternakan aja." jawab Arya masih clingak clinguk memilih sapi bakalan dan sapi sapi ekonomis.
"Ndi tadi aku lihat sapi putih besar di sana." ucap Doni.
"Di mana? aku kok gak lihat." tanya Arya.
"Bawah pohon mangga tadi lho." ucap Stella.
"Mending kita lihat dari pada debat di sini." usul Joni.
"Bentar pak tak lihat yang sana dulu, nanti kita lanjut transaksinya." ucap Arya pada blantik atau penjual sapi dalam dunia persapian.
"Oh iya iya, berarti ini saya sisihkan dulu ya biar enggak di ambil yang lain." ucap penjual sapi.
"Iya gitu juga boleh." jawab Arya.
Arya dan teman temannya pergi menghampiri tempat yang di maksud Stella tadi, dan benar saja di sana sudah ramai juragan juragan sapi yang menawar sapi limousine cros Brahman bewarna putih.
"Wihh bagus ni bos, perkiraan ada di 1101kg atau 1130kg. Kaki kakinya juga masih kokoh bos, sayang nih kalau di jagal." ucap Bili.
"Pak buka harga berapa ini?" tanya Arya pada seorang bapak bapak yang ikut menonton.
"Tadi awalnya buka harga 45 mas tapi di tawar 40 sama juragan jagal. Sebenarnya sayang sapinya kalau di jagal, prospek satu setengah ini padahal. Umurnya masih 3 tahun, kulitnya juga masih kendor, lehernya masih belum isi, pantatnya baru isi setengah, bahu nya belum keisi daging full, dan yang paling penting ganteng." jawab bapak bapak itu.
"Hah? 45 doang pak? murah banget itu buat kualitas kayak gini." ucap Arya kaget.
"Mungkin bapaknya lagi butuh uang jadi jual murah mas." ucap bapak itu.
"Buka harga berapa pak?" tanya Arya.
"45 mas, kalau mau langsung saya lepas." jawab penjual sapi terpaksa.
"50 deh pak, kalau mau langsung saya transfer, soalnya saya gak bawa uang cash." ucap Arya langsung.
"Deal!" jawab penjual sapi tersenyum senang.
"Mana nomor rekening bapak biar saya langsung transfer." ucap Arya.
Penjual sapi itu langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Arya. Saat itu juga Arya mentransfer uang 50 juta ke rekening penjual tadi. Setelah selesai Arya mengembalikan ponsel penjual tadi dan memberikan bukti pengiriman uang.
"Udah ya pak." ucap Arya.
"Udah mas udah, sekarang sapi ini jadi tanggung jawab mas, saya harap bisa berkembang pesat ya." ucap penjual sapi mengelus kepala sapinya.
Setelah itu penjual sapi itu pergi meninggalkan kerumunan dan Arya membawa sapi itu dan di tali di dekat pemuatan sapi dan menyuruh Doni dan yang lainnya menjaga sapi itu.
Sedangkan dirinya pergi menemui penjual sapi sebelumnya untuk melanjutkan transaksi yang tertunda.
"Jadinya berapa pak?" tanya Arya yang di sampingnya terdapat Bili dan Desti.
"22 aja deh mas, diskon ini." jawab penjual sapi.
"Ya udah saya ambil deh." ucap Arya meminta nomor rekening penjual sapi itu lalu membayar lunas.
Arya menyuruh Bili untuk membawa sapi itu ke tempat Doni dan yang lainnya, sedangkan dirinya pergi berkeliling untuk mencari sapi sapi yang umurnya sudah di atas 2 tahun.
Setelah 3 jam berkeliling bersama mbah Adi, Arya mendapatkan 15 sapi yang bagus bagus dan sangat sehat. Tak mau berlama-lama Arya mengendarai truknya ke tempat pemuatan sapi lalu memasukkan semua sapi yang tadi dia beli.
Setelah itu Arya mengajak teman temannya pulang ke rumah, Arya melajukan truknya dengan kecepatan sedang menuju peternakan.
Mbah Adi yang ikut di mobil Doni sangat senang karena sapi yang dia pilih di beli oleh Arya dan menjadi semangat untuk mengurusi sapi pilihannya.
Sesampainya di peternakan ternyata seluruh keluarga Arya sudah ada di sana untuk melihat hasil buruan Arya di pasar sapi.
"Lek bantuin lek!" teriak Bili memanggil rekan kerjanya yang sedang menyombor sapi bersama rekan rekan lainnya.
__ADS_1
Arya membuka bak belakang dan terlihat pantat sapi sapi merah dan sapi sapi PO yang belum isi. Mereka menurunkan sapi sapi itu dan di jejer di lapangan depan untuk di mandikan dan di jemur karena hari masih sangat siang.
"Di dalem ada timbangan enggak bil?" tanya Arya.
"Ada bos, mau di timbang sekarang atau nanti setelah makan?" tanya Bili balik.
"Nanti aja setelah makan." jawab Arya.
"Habis berapa nak semua ini?" tanya Titi.
"Tujuh setengah lah buk." jawab Arya.
"75 juta atau 750 juta?" tanya Titi.
"Yang kedua." jawab Arya nyengir.
"Mahalnya nak nak." ucap Titi menggelengkan kepala.
Saat sedang memandangi sapi sapi yang sedang makan rumput lapangan tiba tiba 5 truk besar full modif datang beriringan.
"Langsung masuk aja mas!" ucap Arya.
'Tin..tin..'
"Yok.." ucap Arya.
Iring iringan truk itu masuk kedalam peternakan dan memarkirkan truknya di garasi yang sudah di sediakan. Setelah semua masuk mereka langsung pamit pulang karena ingin makan siang bersama keluarga di rumah.
"Kalau masih ada pesanan bilang aja mas, nanti saya carikan." ucap Paidi.
"Tolong carikan dua truk besar yang bisa muat 50 ekor sapi sedengan mas sekalian di modif, soalnya dalam waktu dekat saya mau cari sapi sapi wagyu buat di jadikan penghuni kandang yang masih kosong." ucap Arya.
"Oke mas, nanti saya kabarin kalau sudah dapat." ucap Paidi.
"Oh ya ya." jawab Arya.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya mas." ucap Paidi pamitan.
"Oh iya iya, hati hati di jalan mas." ucap Arya.
Paidi pun pergi mengendarai motornya pulang ke rumah.
"Bil kamu punya kenalan yang jualan sapi bali atau sapi madura enggak?" tanya Arya.
"Ada bos ada, bos mau pesan berapa?" tanya Bili balik.
"Pesan 50 dulu, masing masing 25 ya. Kita pelajari dulu perkembangan perhari berapa, berapa hari masa adaptasinya, pakan yang cocok apa, sama berapa biaya yang harus di keluarin buat pakannya." jawab Arya.
"Siap bos siap." ucap Bili langsung mengontak temannya yang berada di Bali dan Madura yang berprofesi sesama peternak.
"Ya lahan kosong belakang itu mau kamu apakan?" tanya Diki.
"Emang ada lahan kosong ya bil?" tanya Arya kaget karena belum eksplor sampai ke belakang.
"Ada bos, rencananya sih seperempatnya buat nanam rumput pakan sapi terus sisanya buat nanam pohon buah buahan atau yang lainnya yang bisa di makan gitu bos." jawab Bili.
"Luas emang?" tanya Arya.
"Sekitar 30 an bos luasnya." jawab Bili.
"Luas juga ya, ya udah 250 buat tanam rumput pakan sapi terus sisanya buat ditanami buah buahan sama sayuran-sayuran. Kalau sawah mah aku ada di belakang rumah mbah." ucap Arya.
"Bibitnya saya belum beli bos, beli bibitnya di mana ya lek?" tanya Bili pada rekan kerjanya.
"Tempatnya pak Dasuki aja, di sana terkenal bibitnya yang super." jawab rekan kerja Bili yang bernama Surono.
"Ya besok tak pesen di tempat pak Dasuki." ucap Bili.
"Kalau gitu itu sapi sapinya masukin ke kandangnya biar adaptasi dulu, kasih pakannya jangan langsung full tapi setengah dulu biar dia ngerasain. Kalau rakus besoknya baru kasih full kayak temen temennya." ucap Arya.
"Oke bos." jawab Bili.
"Buk aku ke rumah dulu mau mandi terus makan siang." ucap Arya.
"Oh iya iya, lauknya tanya sama budhe mu ya." jawab Titi.
Andi bersama Desti berjalan kembali ke rumah mbah Adi untuk mandi dan makan siang.
__ADS_1